Malam ini tidak jauh berbeda
dengan malam yang biasanya. Sepi. Aku memandangi langit malam yang mendung
tertutup awan. Lagu dari Nadia Fatira berjudul Bintang Yang Meredup layak
melukiskan perasaanku hari ini. Ya, tak hanya awan yang merasa bahwa dia kehilangan
bintangnya, tetapi juga aku yang merasa kehilangan kamu; bintangku.
Pikiranku
pun bernostalgi pada masa lalu. Tentang aku dan kamu; tentang kita berdua yang
pernah sangat amat dekat dan menciptakan romansa tanpa sedikitpun keraguan.
Tentang kita berdua yang pada awalnya sama-sama saling percaya seperti layaknya
kekasih, walau sebenarnya tak ada hubungan apa-apa selain persahabatan. Tentang
kita yang selalu saling menguatkan ketika tangis dan jatuh menghampiri. Tentang
kita, tentang kita, dan tentang kita; berdua, yang sama-sama pernah melewati
hari-hari bersama dengan tawa dan canda.
Semua
nostalgi tentang itu membuat aku tanpa sadar melengkungkan bibir dan tersenyum.
Kenangan berdua denganmu memang sangat menyenangkan, walau berakhir
menyakitkan.
Ya,
menyakitkan. Sangat amat menyakitkan.
Senyumku
perlahan-lahan memudar ketika teringat penantian dan rinduku yang tak pernah
menemui ujung. Setahun sudah aku menunggumu untuk mengungkapkan perasaan yang
sama padaku; namun segalanya terasa berbeda.
Sejauh
kita pernah bersama, kaupun tak pernah sedikitpun ada rasa yang sama denganku.
Selama kita pernah saling terdiam dan bungkam dalam sebuah tatapan, kau tak
pernah memandang sorot mata ini ke bagian yang paling dalam, yang akan
menghantarkan kamu pada pengertian bahwa aku serius; aku sayang padamu.
Segala
kenangan tentangmu tak hanya membekas dalam kehidupanku. Segala kenangan
bersamamu sudah merasuk dan menjadi bagian dalam jiwaku. Aku tidak menggombal,
aku bicara tentang realita bahwa aku memang cinta.
Sejenak,
aku menertawakan diriku sendiri. Puih! Cinta? Tahu apa aku soal cinta?
Jelas-jelas cintaku tidak berbalas, buat apa aku masih mengatakan dan
merasakannya; terutama masih merasakannya padamu?
Aku
menelan ludah. Siapa yang salah? Apakah aku yang jatuh terlalu dalam? Apakah
aku yang terlalu narsis? Apakah aku yang bodoh? Atau mungkin, kau yang
brengsek; membiarkan aku terus-menerus terdiam dalam kesakitan dan terjatuh
dalam lubang penantian hingga terperosok amat dalam?
Aku
tidak tahu. Yang jelas, kau membuatku berada dalam berbagai rasa. Antara
menghidupkan dan menyakitkan, antara menyembuhkan dan melukai, antara menghibur
dan menyakiti. Kau memang pejantan tangguh, yang mampu menjeratku layaknya
tumbuhan Venus; menjadikan aku mangsa dengan aroma asmaramu, kemudian melahapku
habis-habis dan ketika aku benar-benar mencoba dan berusaha untuk masuk menjadi
bagian-mu, kau menelanku, membuangku,
dan tak lagi menolehkan wajah kepadaku.
Aku
kembali menelan ludah. Dulu di malam penuh kesepian ini, kau selalu hadir
menemaniku melalui pesan singkat; menghiburku dan menyatakan bahwa seolah-olah
malam tak akan pernah sepi jika aku bersamamu; menyatakan dengan bahasa yang
bermakna bahwa aku tercipta untukmu. Kau memang pencuri yang licik dan picik!
Aku
benci padamu! Tidak!
Aku
mencintaimu. Sungguh mencintaimu dan yang jelas… masih merindukanmu. Sejahat
apapun kamu melukai hatiku, selicik apapun kamu memainkan perasaanku, sekuat
apapun kamu mendepakku pergi dari kehidupanmu, aku tak bisa melupakanmu dan tak
akan pernah bisa.
Kau
kekuatanku, penyemangat belajar sekaligus penyebab rasa malasku, pencipta rindu
yang diiringi tangis, perenda senyum dan pencetak tawa yang menghias rona
wajahku. Kau segalanya untukku.
Lagu
dari Nadia Fatira berganti oleh lagu dari Maliq berjudul Kau yang Ada di
Hatiku.
Aku
terdiam. Kutinggalkan nostalgi yang melayang liar di dalam otakku. Kuterka
lirik yang dinyanyikan dalam alunan merdu suara Maliq. Dan ketika menyadari
bahwa lagu itu benar-benar melukiskan perasaanku, tangis mengalir deras.
Aku
benar-benar merindukanmu. Aku benar-benar hancur. Tangisku sangat amat deras.
Mengertikah kau? Mau-kah kau pahami
aku sedikitpun? Tentu tidak. Kau sibuk dengan urusanmu sendiri, hingga akhirnya
mengorbankan perasaanku yang berkobar-kobar bak api abadi.
Yang
jelas, aku menulis ini untukmu, sebagai tanda bahwa aku memang merindukanmu.
Semoga kau membacanya.
Aku
hanya berharap kau tahu bahwa hingga saat ini, tak ada yang bisa menggerusmu
dari dalam batin dan hatiku. Kau masih menjadi bagian-ku. Kau masih menjadi alasan dari air mataku dan kau masih
menjadi yang nomor satu di dalam pikiranku.
Dan
sebagai kalimat terakhir tulisan ini, kuucapkan Selamat Natal. Semoga damai besertamu
selalu. Maaf tidak mengirimkannya langsung, kini aku berbeda dari yang dulu. Aku
sudah berevolusi menjadi seorang pengecut. Sebagai ungkapan yang terakhir, aku sayang
padamu. Tidak salah kan
bila hingga saat ini hanyalah dan masih tetap kau yang ada di hatiku?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar