Sabtu, 28 Desember 2013

Selamat Natal, P.

Malam ini tidak jauh berbeda dengan malam yang biasanya. Sepi. Aku memandangi langit malam yang mendung tertutup awan. Lagu dari Nadia Fatira berjudul Bintang Yang Meredup layak melukiskan perasaanku hari ini. Ya, tak hanya awan yang merasa bahwa dia kehilangan bintangnya, tetapi juga aku yang merasa kehilangan kamu; bintangku.
            Pikiranku pun bernostalgi pada masa lalu. Tentang aku dan kamu; tentang kita berdua yang pernah sangat amat dekat dan menciptakan romansa tanpa sedikitpun keraguan. Tentang kita berdua yang pada awalnya sama-sama saling percaya seperti layaknya kekasih, walau sebenarnya tak ada hubungan apa-apa selain persahabatan. Tentang kita yang selalu saling menguatkan ketika tangis dan jatuh menghampiri. Tentang kita, tentang kita, dan tentang kita; berdua, yang sama-sama pernah melewati hari-hari bersama dengan tawa dan canda.
            Semua nostalgi tentang itu membuat aku tanpa sadar melengkungkan bibir dan tersenyum. Kenangan berdua denganmu memang sangat menyenangkan, walau berakhir menyakitkan.
            Ya, menyakitkan. Sangat amat menyakitkan.
            Senyumku perlahan-lahan memudar ketika teringat penantian dan rinduku yang tak pernah menemui ujung. Setahun sudah aku menunggumu untuk mengungkapkan perasaan yang sama padaku; namun segalanya terasa berbeda.
            Sejauh kita pernah bersama, kaupun tak pernah sedikitpun ada rasa yang sama denganku. Selama kita pernah saling terdiam dan bungkam dalam sebuah tatapan, kau tak pernah memandang sorot mata ini ke bagian yang paling dalam, yang akan menghantarkan kamu pada pengertian bahwa aku serius; aku sayang padamu.
            Segala kenangan tentangmu tak hanya membekas dalam kehidupanku. Segala kenangan bersamamu sudah merasuk dan menjadi bagian dalam jiwaku. Aku tidak menggombal, aku bicara tentang realita bahwa aku memang cinta.
            Sejenak, aku menertawakan diriku sendiri. Puih! Cinta? Tahu apa aku soal cinta? Jelas-jelas cintaku tidak berbalas, buat apa aku masih mengatakan dan merasakannya; terutama masih merasakannya padamu?
            Aku menelan ludah. Siapa yang salah? Apakah aku yang jatuh terlalu dalam? Apakah aku yang terlalu narsis? Apakah aku yang bodoh? Atau mungkin, kau yang brengsek; membiarkan aku terus-menerus terdiam dalam kesakitan dan terjatuh dalam lubang penantian hingga terperosok amat dalam?
            Aku tidak tahu. Yang jelas, kau membuatku berada dalam berbagai rasa. Antara menghidupkan dan menyakitkan, antara menyembuhkan dan melukai, antara menghibur dan menyakiti. Kau memang pejantan tangguh, yang mampu menjeratku layaknya tumbuhan Venus; menjadikan aku mangsa dengan aroma asmaramu, kemudian melahapku habis-habis dan ketika aku benar-benar mencoba dan berusaha untuk masuk menjadi bagian-mu, kau menelanku, membuangku, dan tak lagi menolehkan wajah kepadaku.
            Aku kembali menelan ludah. Dulu di malam penuh kesepian ini, kau selalu hadir menemaniku melalui pesan singkat; menghiburku dan menyatakan bahwa seolah-olah malam tak akan pernah sepi jika aku bersamamu; menyatakan dengan bahasa yang bermakna bahwa aku tercipta untukmu. Kau memang pencuri yang licik dan picik!
            Aku benci padamu! Tidak!
            Aku mencintaimu. Sungguh mencintaimu dan yang jelas… masih merindukanmu. Sejahat apapun kamu melukai hatiku, selicik apapun kamu memainkan perasaanku, sekuat apapun kamu mendepakku pergi dari kehidupanmu, aku tak bisa melupakanmu dan tak akan pernah bisa.
            Kau kekuatanku, penyemangat belajar sekaligus penyebab rasa malasku, pencipta rindu yang diiringi tangis, perenda senyum dan pencetak tawa yang menghias rona wajahku. Kau segalanya untukku.
            Lagu dari Nadia Fatira berganti oleh lagu dari Maliq berjudul Kau yang Ada di Hatiku.
            Aku terdiam. Kutinggalkan nostalgi yang melayang liar di dalam otakku. Kuterka lirik yang dinyanyikan dalam alunan merdu suara Maliq. Dan ketika menyadari bahwa lagu itu benar-benar melukiskan perasaanku, tangis mengalir deras.
            Aku benar-benar merindukanmu. Aku benar-benar hancur. Tangisku sangat amat deras. Mengertikah kau? Mau-kah kau pahami aku sedikitpun? Tentu tidak. Kau sibuk dengan urusanmu sendiri, hingga akhirnya mengorbankan perasaanku yang berkobar-kobar bak api abadi.
            Yang jelas, aku menulis ini untukmu, sebagai tanda bahwa aku memang merindukanmu. Semoga kau membacanya.
            Aku hanya berharap kau tahu bahwa hingga saat ini, tak ada yang bisa menggerusmu dari dalam batin dan hatiku. Kau masih menjadi bagian-ku. Kau masih menjadi alasan dari air mataku dan kau masih menjadi yang nomor satu di dalam pikiranku.
            Dan sebagai kalimat terakhir tulisan ini, kuucapkan Selamat Natal. Semoga damai besertamu selalu. Maaf tidak mengirimkannya langsung, kini aku berbeda dari yang dulu. Aku sudah berevolusi menjadi seorang pengecut. Sebagai ungkapan yang terakhir, aku sayang padamu. Tidak salah kan bila hingga saat ini hanyalah dan masih tetap kau yang ada di hatiku?

                              

Tidak ada komentar:

Posting Komentar