Mataku melirik was-was ke berbagai sudut yang ada
di sekitarku. Kedua kakiku melangkah pelan dan berjinjit-jinjit sedikit demi sedikit.
Sandal sengaja ku lepas, kubiarkan kakiku telanjang agar langkah-langkahku tak
menciptakan suara. Nafasku berhembus pelan-pelan, dengan jeda yang
panjang-panjang, meski seharusnya nafas ini bergelora karena detak jantung
tengah berdegup cepat, meninggalkan dentuman-dentuman karena laju lari yang
amat cepat untuk mengejar senja agar tak kunjung berpulang menjadi malam.
Aku
sampai di depan pintu kamarku. Nafas yang sempat tertahan kubiarkan menguap
lega. Mataku tak lagi melirik was-was ke berbagai sudut yang ada di sekitarku.
Tanpa ada lagi perasaan waspada, kulurkan tanganku untuk membuka handel pintu.
Tetapi
tiba-tiba semua lampu yang awalnya mati langsung menyala. Bukan satu per satu,
namun seluruhnya secara bersamaan. Mataku membelalak. Jantungku berdegup. Yang
aku takutkan terjadi.
Aku
menatap langit-langit. Kutatap lampu-lampu terang itu satu per satu, lalu
menatap seseorang yang berdiri gagah di dekat saklar salah satu lampu. Mataku
meredup. Di sana ,
kuyakini terpancar ketakutan yang menggebu dalam hatiku.
Seseorang
berkumis tebal. Tubuhnya tinggi dan gagah. Matanya melotot tajam. Giginya
gemertak menahan amarah. Dia bapakku. Dan dia marah, aku tahu. Aku menundukkan
kepala. Kutunggu dia mengucapkan sesuatu.
“Dari
mana kamu?” tanya dia setelah beberapa menit memandangku dari tempatnya
berpijak, dengan kedua mata yang masih menatapku dengan beku.
“Saya…
saya dari tempat penggilingan padi di Kulon Progo. Saya lihat-lihat dan
memeriksa keuntungan kita bulan ini.”
Kulihat
bapakku mengepalkan kedua tangan. “Bohong!” tudingnya penuh amarah.
“Saya
tidak bohong, Bapak!” kubiarkan bibirku menguapkan dusta.
Bapak
menghampiriku, asap mengepul dari balik cerutu yang dia bawa. Bapak mendekatkan
wajahnya kepada wajahku, membiarkan bau rokok dari mulutnya memusingkan
kepalaku. “Kau pikir Bapak tidak tahu ke mana kamu pergi? Bersama siapa kamu
pergi? Dan apa yang kamu lakukan selama kamu pergi?” interogasinya dengan nada
tinggi.
Aku
terhenyak. Aku tak lagi bisa berdusta sekarang.
Bapak
menghisap cerutunya, lalu menghembuskan melalui mulutnya, tanpa menoleh dan
mengarahkan hembusan nafasnya ke arah lain, membiarkan asap rokok menerpa
kulitku dan kepalaku langsung pusing dibuatnya.
“Kau
pergi bersama orang gila anak dari pedagang singkong di Pasar Ngijon, ya ta? Bahkan, kau ajak dia makan
bersama di tempat makan yang mahal, di warung soto paling terkenal di desa ini,
huh? Kau ikut mandikan kerbau-kerbau
dan sapi di sungai, tanpa pemiliknya membayar jasamu? Kau anak gadis yang
bodoh!”
Aku
mengerutkan kening di balik kepalaku yang tertunduk. Dari mana bapak tahu?
“Aku tak sudi anak gadisku bermain dengan kere gila macam anak pedagang singkong dari Pasar Ngijon itu!”
“Aku tak sudi anak gadisku bermain dengan kere gila macam anak pedagang singkong dari Pasar Ngijon itu!”
“Dia
tak gila, Bapak!”
Aku
mengangkat kepalaku. Kupandang kedua matanya yang nyalang menatap mataku.
“Dia
gila! Tidakkah kamu melihat dia? Tingkah lakunya? Dia memang tak cuma gila, dia
juga kere! Miskin!”
“Dia
tidak kere! Panggah tidak miskin!”
“Namanya
Panggah, ya?” Bapak menarik sudut bibirnya. “Bahkan mendengar bibirmu menyebut
namanya pun aku tak sudi!”
“Bapak…”
“Dia
kere! Miskin! Tak seperti kita! Buat
apa kamu berteman dengan dia? Dia tak bisa memberikan apa-apa buat kita!
Bahkan, dia tak bisa beli nasi, ta?
Buat apa kau mengeluarkan uang demi bayar makanan mereka, yang bahkan memberi
kita makan pun mereka tak mungkin sanggup!”
Aku
mundur selangkah. Ucapan Bapak berhasil membuatku terenyak. Mulutku menganga,
tak kusangka Bapak mengucapkan demikian. Air mataku menitik, menyesali kondisi
Bapak sebagai orang kaya di desa kami, membuat dia akhirnya mengabdikan diri
untuk jadi seorang rentenir, memeras dan menindas mereka yang tak mampu,
membiarkan mereka menjerit karena tercekik oleh kondisi ekonomi, sementara
Bapak tertawa terbahak di antara tumpukan uang yang dia hasilkan melalui bunga
yang tinggi.
“Bukan
Panggah dan keluarganya yang kere, Pak!”
Aku menelan ludah, menatap Bapakku dengan tegas. “Justru Bapak yang kere!”
Kedua
mata Bapak makin melotot. “Apa maksudmu, huh?”
“Hati
Bapak kere! Bapak memang punya uang
banyak, tapi Bapak tak punya apa yang mereka punya! Bapak tak punya hati, tak
seperti mereka yang Bapak tindas melalui bunga pinjaman yang tinggi! Bapak
memang punya puluhan hektar sawah dan pabrik-pabrik, tetapi Bapak tak punya
hati nurani! Bapak…”
Plak!
Aku
terjerembab jatuh ke lantai. Kupegangi pipiku yang memanas. Kutatap Bapakku,
tak kusangka dia lakukan ini kepadaku. Bapak menamparku. Dan tanpa rasa
bersalah, dia masih menatapku dengan mata nyalangnya.
“Siapa
yang ajari kau berkata demikian pada Bapakmu? Tau apa kamu soal hati? Hati dan
harta, satu kesatuan, kau gadis bodoh!” Bapak menggumam kesal dan jengkel.
“Orang-orang miskin memang selalu memberi ajaran buruk kepada anak-anak orang
kaya. Bahkan mereka ajari anakku sendiri berkhotbah di hadapan ayahnya! Memang
demikian orang miskin, bicaranya tak tahu aturan dan pendidikan. Mereka tak
kenal sopan santun kepada orang tua, mereka…”
“Dan
Bapak tak mengenal kasih sayang kepada sesama! Memang demikian orang kaya,
bicaranya halus dan lembut tapi penuh dengan jebakan, di balik kata-kata manis
mereka tersimpan lidah ular yang licik!”
Bapak
menarikku berdiri. Dia tampar pipi kiriku dan membiarkan aku jatuh terjerembab
lagi ke lantai.
“Bahkan
kau bilang Bapakmu ini ular!?” serunya dengan nada lebih tinggi.
“Bapak
sendiri yang membuat saya berkata demikian!”
“Kau…!”
“Ndoro, semua baju sudah masuk dalam
kopor.”
Aku
dan Bapak menoleh bersamaan. Kami berdua menatap satu titik yang sama, sebuah
titik yang menundukkan kepalanya dan berusaha menyembunyikan isak tangis. Aku
terpana, agak bingung melihat Mbok Darmi, salah seorang pembantu rumah tangga
kami berdiri di pintu kamarku, dengan sebuah kopor besar di tangannya.
Berkali-kali kulihat dia menyeka air mata.
Aku
mengerutkan kening. Apa isi kopor itu? Kenapa Mbok Darmi menangis? Ketika
ratusan pertanyaan lain muncul di dalam benakku, air mataku menitik. Aku
menyadari sesuatu. Buru-buru, aku berlari meninggalkan Bapak, melupakan rasa
perih di pipiku. Aku berlari ke kamarku, aku buka lemari di mana semua bajuku
disimpan. Dan kedua kakiku melemas. Semua sudah tidak ada. Semua sudah
dimasukkan ke dalam kopor yang ada di genggaman Mbok Darmi.
Aku
berlari menghampiri Mbok Darmi. Air mataku menitik semakin deras. Ketika
menyadari hal itu, isak Mbok Darmi makin keras.
“Ada apa, Mbok? Bajuku di
mana? Di dalam kopor ini, ya? Mau dibawa ke mana?”
Mbok
Darmi tidak menjawab, dia malah menyeka air matanya.
“Mbok,
tolong jawab, Mbok. Baju-baju saya mau di bawa ke mana?”
“Ke
Surabaya,” jawab Bapak tanpa diminta.
Aku
menatap Bapak. Keningku berkerut. “Kenapa, Pak? Kenapa baju-baju saya harus
dibawa ke Surabaya ?”
“Tidak
hanya bajumu yang akan dibawa ke Surabaya ,”
Bapak langsung menatapku. “Tapi juga kau!”
Aku
terhenyak. “Bapak… mengusir saya?”
“Bapak
tidak tega melihat kau bergaul dengan orang miskin dan tidak berpendidikan di
desa ini. Anak gadis dari orang kaya seperti kau, tak pantas bersepeda bersama
orang gila anak penjual singkong, atau bermain kincir angin bersama anak-anak ndeso di sawah. Anak gadis dari orang
kaya seperti kau hanya pantas mendapat pendidikan yang layak dan suami yang
bahkan lebih kaya dari kita!”
“Saya
tidak akan pergi!” Aku kembali menatap Mbok Darmi. Air mataku menitik makin
deras. “Mbok, baju saya ada di kopor itu kan ,
Mbok? Sini, Mbok saya bantu masukin ke lemari lagi ya, Mbok? Ayo, Mbok kita
keluarin baju-baju saya dari kopor, kita masukin lagi ke dalam lemari, ya?
Jangan bawa baju saya pergi, Mbok. Saya masih mau menemani Mbok Darmi masak di pawon atau mencuci baju di kali belakang
rumah kita. Saya nggak mau pergi, Mbok.”
Mbok
Darmi mendekap mulutnya. Dia menangis tanpa suara.
Bapak
menatap kami dengan ekspresi beku. Tak ada iba di kedua matanya. “Bawa kopor
itu ke mobil! Sekarang!” perintahnya kemudian.
Mbok
Darmi melangkah berat. Dia mulai meninggalkan aku. Tapi aku tak sudi melihatnya
pergi. Aku langsung menjatuhkan diri. Kupeluk kedua kakinya dan menangis
sejadinya. Kupeluk Mbok Darmi dengan erat, meminta dia supaya tidak membiarkan
aku pergi.
Tetapi
Mbok Darmi tidak peduli. Dia hanya terus melangkah dengan langkah yang semakin
berat karena aku memeluk kedua kakinya. Mbok Darmi menangis dan menangis. Tak
ada kata yang keluar dari mulutnya.
Bapak
langsung menarik tubuhku dengan gerakan cepat ketika kami sampai di pintu
depan. Dia paksa aku melepaskan pelukanku. Dia paksa aku memisahkan diri dari
Mbok Darmi yang sudah aku anggap sebagai ibuku. Dia seret aku menuju ke
kamarku. Tak ada kasih sayang. Yang ada hanya kejengkelan dan amarah yang
menggebu di dalam hatinya.
“Kau
tidur! Kita berangkat ke Surabaya
jam tujuh pagi!”
Bapak
menutup pintu kamarku dengan satu gerakan cepat hingga akhirnya menciptakan suara
dentuman. Dia meninggalkan aku, membiarkan aku menangis melolong semalaman.
Dalam
setiap tangisku, hanya ada Panggah dan mata teduhnya. Dibalik linangan air mata
yang tumpah dari kedua mataku, kuhitung berapa banyak tetes yang jatuh sia-sia
dan kuanggap itu cinta untuk Panggah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar