Sabtu, 22 November 2014

Balada Cinta Panggah 2

Mataku melirik was-was ke berbagai sudut yang ada di sekitarku. Kedua kakiku melangkah pelan dan berjinjit-jinjit sedikit demi sedikit. Sandal sengaja ku lepas, kubiarkan kakiku telanjang agar langkah-langkahku tak menciptakan suara. Nafasku berhembus pelan-pelan, dengan jeda yang panjang-panjang, meski seharusnya nafas ini bergelora karena detak jantung tengah berdegup cepat, meninggalkan dentuman-dentuman karena laju lari yang amat cepat untuk mengejar senja agar tak kunjung berpulang menjadi malam.
            Aku sampai di depan pintu kamarku. Nafas yang sempat tertahan kubiarkan menguap lega. Mataku tak lagi melirik was-was ke berbagai sudut yang ada di sekitarku. Tanpa ada lagi perasaan waspada, kulurkan tanganku untuk membuka handel pintu.
            Tetapi tiba-tiba semua lampu yang awalnya mati langsung menyala. Bukan satu per satu, namun seluruhnya secara bersamaan. Mataku membelalak. Jantungku berdegup. Yang aku takutkan terjadi.
            Aku menatap langit-langit. Kutatap lampu-lampu terang itu satu per satu, lalu menatap seseorang yang berdiri gagah di dekat saklar salah satu lampu. Mataku meredup. Di sana, kuyakini terpancar ketakutan yang menggebu dalam hatiku.
            Seseorang berkumis tebal. Tubuhnya tinggi dan gagah. Matanya melotot tajam. Giginya gemertak menahan amarah. Dia bapakku. Dan dia marah, aku tahu. Aku menundukkan kepala. Kutunggu dia mengucapkan sesuatu.
            “Dari mana kamu?” tanya dia setelah beberapa menit memandangku dari tempatnya berpijak, dengan kedua mata yang masih menatapku dengan beku.
            “Saya… saya dari tempat penggilingan padi di Kulon Progo. Saya lihat-lihat dan memeriksa keuntungan kita bulan ini.”
            Kulihat bapakku mengepalkan kedua tangan. “Bohong!” tudingnya penuh amarah.
            “Saya tidak bohong, Bapak!” kubiarkan bibirku menguapkan dusta.
            Bapak menghampiriku, asap mengepul dari balik cerutu yang dia bawa. Bapak mendekatkan wajahnya kepada wajahku, membiarkan bau rokok dari mulutnya memusingkan kepalaku. “Kau pikir Bapak tidak tahu ke mana kamu pergi? Bersama siapa kamu pergi? Dan apa yang kamu lakukan selama kamu pergi?” interogasinya dengan nada tinggi.
            Aku terhenyak. Aku tak lagi bisa berdusta sekarang.
            Bapak menghisap cerutunya, lalu menghembuskan melalui mulutnya, tanpa menoleh dan mengarahkan hembusan nafasnya ke arah lain, membiarkan asap rokok menerpa kulitku dan kepalaku langsung pusing dibuatnya.
            “Kau pergi bersama orang gila anak dari pedagang singkong di Pasar Ngijon, ya ta? Bahkan, kau ajak dia makan bersama di tempat makan yang mahal, di warung soto paling terkenal di desa ini, huh? Kau ikut mandikan kerbau-kerbau dan sapi di sungai, tanpa pemiliknya membayar jasamu? Kau anak gadis yang bodoh!”
            Aku mengerutkan kening di balik kepalaku yang tertunduk. Dari mana bapak tahu?
            “Aku tak sudi anak gadisku bermain dengan kere gila macam anak pedagang singkong dari Pasar Ngijon itu!”
            “Dia tak gila, Bapak!”
            Aku mengangkat kepalaku. Kupandang kedua matanya yang nyalang menatap mataku.
            “Dia gila! Tidakkah kamu melihat dia? Tingkah lakunya? Dia memang tak cuma gila, dia juga kere! Miskin!”
            “Dia tidak kere! Panggah tidak miskin!”
            “Namanya Panggah, ya?” Bapak menarik sudut bibirnya. “Bahkan mendengar bibirmu menyebut namanya pun aku tak sudi!”
            “Bapak…”
            “Dia kere! Miskin! Tak seperti kita! Buat apa kamu berteman dengan dia? Dia tak bisa memberikan apa-apa buat kita! Bahkan, dia tak bisa beli nasi, ta? Buat apa kau mengeluarkan uang demi bayar makanan mereka, yang bahkan memberi kita makan pun mereka tak mungkin sanggup!”
            Aku mundur selangkah. Ucapan Bapak berhasil membuatku terenyak. Mulutku menganga, tak kusangka Bapak mengucapkan demikian. Air mataku menitik, menyesali kondisi Bapak sebagai orang kaya di desa kami, membuat dia akhirnya mengabdikan diri untuk jadi seorang rentenir, memeras dan menindas mereka yang tak mampu, membiarkan mereka menjerit karena tercekik oleh kondisi ekonomi, sementara Bapak tertawa terbahak di antara tumpukan uang yang dia hasilkan melalui bunga yang tinggi.
            “Bukan Panggah dan keluarganya yang kere, Pak!” Aku menelan ludah, menatap Bapakku dengan tegas. “Justru Bapak yang kere!”
            Kedua mata Bapak makin melotot. “Apa maksudmu, huh?”
            “Hati Bapak kere! Bapak memang punya uang banyak, tapi Bapak tak punya apa yang mereka punya! Bapak tak punya hati, tak seperti mereka yang Bapak tindas melalui bunga pinjaman yang tinggi! Bapak memang punya puluhan hektar sawah dan pabrik-pabrik, tetapi Bapak tak punya hati nurani! Bapak…”
            Plak!
            Aku terjerembab jatuh ke lantai. Kupegangi pipiku yang memanas. Kutatap Bapakku, tak kusangka dia lakukan ini kepadaku. Bapak menamparku. Dan tanpa rasa bersalah, dia masih menatapku dengan mata nyalangnya.
            “Siapa yang ajari kau berkata demikian pada Bapakmu? Tau apa kamu soal hati? Hati dan harta, satu kesatuan, kau gadis bodoh!” Bapak menggumam kesal dan jengkel. “Orang-orang miskin memang selalu memberi ajaran buruk kepada anak-anak orang kaya. Bahkan mereka ajari anakku sendiri berkhotbah di hadapan ayahnya! Memang demikian orang miskin, bicaranya tak tahu aturan dan pendidikan. Mereka tak kenal sopan santun kepada orang tua, mereka…”
            “Dan Bapak tak mengenal kasih sayang kepada sesama! Memang demikian orang kaya, bicaranya halus dan lembut tapi penuh dengan jebakan, di balik kata-kata manis mereka tersimpan lidah ular yang licik!”
            Bapak menarikku berdiri. Dia tampar pipi kiriku dan membiarkan aku jatuh terjerembab lagi ke lantai.
            “Bahkan kau bilang Bapakmu ini ular!?” serunya dengan nada lebih tinggi.
            “Bapak sendiri yang membuat saya berkata demikian!”
            “Kau…!”
            “Ndoro, semua baju sudah masuk dalam kopor.”
            Aku dan Bapak menoleh bersamaan. Kami berdua menatap satu titik yang sama, sebuah titik yang menundukkan kepalanya dan berusaha menyembunyikan isak tangis. Aku terpana, agak bingung melihat Mbok Darmi, salah seorang pembantu rumah tangga kami berdiri di pintu kamarku, dengan sebuah kopor besar di tangannya. Berkali-kali kulihat dia menyeka air mata.
            Aku mengerutkan kening. Apa isi kopor itu? Kenapa Mbok Darmi menangis? Ketika ratusan pertanyaan lain muncul di dalam benakku, air mataku menitik. Aku menyadari sesuatu. Buru-buru, aku berlari meninggalkan Bapak, melupakan rasa perih di pipiku. Aku berlari ke kamarku, aku buka lemari di mana semua bajuku disimpan. Dan kedua kakiku melemas. Semua sudah tidak ada. Semua sudah dimasukkan ke dalam kopor yang ada di genggaman Mbok Darmi.
            Aku berlari menghampiri Mbok Darmi. Air mataku menitik semakin deras. Ketika menyadari hal itu, isak Mbok Darmi makin keras.
            “Ada apa, Mbok? Bajuku di mana? Di dalam kopor ini, ya? Mau dibawa ke mana?”
            Mbok Darmi tidak menjawab, dia malah menyeka air matanya.
            “Mbok, tolong jawab, Mbok. Baju-baju saya mau di bawa ke mana?”
            “Ke Surabaya,” jawab Bapak tanpa diminta.
            Aku menatap Bapak. Keningku berkerut. “Kenapa, Pak? Kenapa baju-baju saya harus dibawa ke Surabaya?”
            “Tidak hanya bajumu yang akan dibawa ke Surabaya,” Bapak langsung menatapku. “Tapi juga kau!”
            Aku terhenyak. “Bapak… mengusir saya?”
            “Bapak tidak tega melihat kau bergaul dengan orang miskin dan tidak berpendidikan di desa ini. Anak gadis dari orang kaya seperti kau, tak pantas bersepeda bersama orang gila anak penjual singkong, atau bermain kincir angin bersama anak-anak ndeso di sawah. Anak gadis dari orang kaya seperti kau hanya pantas mendapat pendidikan yang layak dan suami yang bahkan lebih kaya dari kita!”
            “Saya tidak akan pergi!” Aku kembali menatap Mbok Darmi. Air mataku menitik makin deras. “Mbok, baju saya ada di kopor itu kan, Mbok? Sini, Mbok saya bantu masukin ke lemari lagi ya, Mbok? Ayo, Mbok kita keluarin baju-baju saya dari kopor, kita masukin lagi ke dalam lemari, ya? Jangan bawa baju saya pergi, Mbok. Saya masih mau menemani Mbok Darmi masak di pawon atau mencuci baju di kali belakang rumah kita. Saya nggak mau pergi, Mbok.”
            Mbok Darmi mendekap mulutnya. Dia menangis tanpa suara.
            Bapak menatap kami dengan ekspresi beku. Tak ada iba di kedua matanya. “Bawa kopor itu ke mobil! Sekarang!” perintahnya kemudian.
            Mbok Darmi melangkah berat. Dia mulai meninggalkan aku. Tapi aku tak sudi melihatnya pergi. Aku langsung menjatuhkan diri. Kupeluk kedua kakinya dan menangis sejadinya. Kupeluk Mbok Darmi dengan erat, meminta dia supaya tidak membiarkan aku pergi.
            Tetapi Mbok Darmi tidak peduli. Dia hanya terus melangkah dengan langkah yang semakin berat karena aku memeluk kedua kakinya. Mbok Darmi menangis dan menangis. Tak ada kata yang keluar dari mulutnya.
            Bapak langsung menarik tubuhku dengan gerakan cepat ketika kami sampai di pintu depan. Dia paksa aku melepaskan pelukanku. Dia paksa aku memisahkan diri dari Mbok Darmi yang sudah aku anggap sebagai ibuku. Dia seret aku menuju ke kamarku. Tak ada kasih sayang. Yang ada hanya kejengkelan dan amarah yang menggebu di dalam hatinya.
            “Kau tidur! Kita berangkat ke Surabaya jam tujuh pagi!”
            Bapak menutup pintu kamarku dengan satu gerakan cepat hingga akhirnya menciptakan suara dentuman. Dia meninggalkan aku, membiarkan aku menangis melolong semalaman.

            Dalam setiap tangisku, hanya ada Panggah dan mata teduhnya. Dibalik linangan air mata yang tumpah dari kedua mataku, kuhitung berapa banyak tetes yang jatuh sia-sia dan kuanggap itu cinta untuk Panggah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar