Aku memandanginya lagi. Tak tahu
mengapa, tatapan mataku tak pernah bisa berpaling darinya akhir-akhir ini.
Suasana sekolah yang ramainya hampir mirip dengan pasar pun tetap tak mampu
membuatku mengalihkan tatap dari seorang gadis yang sedang tertawa terbahak-bahak
sambil bercerita bersama teman-teman dekatnya dengan sorot mata ceria,
seolah-olah tak menyadari aku yang duduk di sudut sekolah dengan cahaya mata
penuh kekosongan.
Sorot
mataku berubah jadi nanar ketika gadis itu akhirnya memutuskan untuk menyudahi
keberadaannya di sekolah ini. Ia memilih untuk melangkah lewat di depanku
dengan mata yang—entahlah—berusaha untuk tidak menaruh pandangan kepadaku atau
memang tidak peduli dengan adanya aku di sekitarnya. Yang jelas, laluan
langkahnya yang angkuh dengan bibir bisu yang tak lagi menyapaku dengan nada
cerianya seperti dulu menyadarkanku bahwa aku rindu kepadanya.
Ya.
Rindu, amat sangat rindu.
Dia
bukan pacarku dan dia bukan mantan kekasihku. Hal pertama-lah yang membuatku
menyesal. Seharusnya, sejak dulu aku mengajaknya jadian. Ya, seharusnya sejak
dulu aku mencoba membalas rasanya.
Gadis
itu bukanlah dambaanku, tetapi dulu perhatiannya selalu diberikan kepadaku.
Tawanya selalu bisa memamcingku untuk ikut tertawa, sementara berbagai kisah
yang mewarnai dunianya selalu mampu membuatku merelakan kedua telinga untuk
mendengarkannya.
Dia
juga pernah mengungkapkan rasa sayangnya kepadaku. Tak hanya sekali, tapi
hampir jutaan kali. Dia selalu mendoakan aku tiap malam dan menyampaikan rasa
galaunya melalui jejaring sosial serta rasa rindunya melalui SMS yang selalu
dikirimkan kepadaku setiap hari. Tetapi aku selalu menolaknya, mengabaikannya,
dan menganggap bahwa rasa sayang dan rindunya hanya sebagai angin lalu.
Dan
itu terjadi dulu. Dulu, dulu sekali.
Sementara
kini? Kini semua telah berbeda. Semua rasa rindu dan sayangnya bagaikan
berbalik kepadaku. Mungkin aku kena karma, tapi aku tak percaya pada karma.
Sekarang, aku selalu merindukannya dan mungkin… mulai menyayangi dia.
***
Cahaya langit senja yang bewarna
oranye menembus kaca kelasku. Aku masih berada di dalam kelas, sendirian dan
berkutat dengan tugasku yang belum selesai.
“Cela
udah pulang, ya?”
Aku
menoleh. Gadis itu berada di sana .
Gadis yang selama ini aku nanti sapaannya, sedang berada di depan pintu dengan
tatapan mencari-cari. Mataku membesar, kaget dengan kehadirannya sama seperti
matanya yang menyorotkan keterpanaan ketika mengetahui bahwa aku-lah yang
berada di dalam kelas.
Tatapan
gadis itu meluruh. “Cela udah pulang, ya?” ulangnya sekali lagi.
Aku
perlahan-lahan mengangguk. “Udah,” jawabku seadanya membuat gadis itu balas
mengangguk. Kemudian, “Oh,” balasnya singkat.
Tetapi
dia tak kunjung pergi. Dan aku memang tak ingin dia pergi.
“Kalau
begitu, makasih, ya? Aku pulang duluan.”
Bibirku
membisu, aku mengumpat di dalam hati. Hanya anggukan yang jadi jawaban atas
ucapannya. Dan setelah anggukan singkat itu, dia mulai melangkah pergi.
Tetapi
tiba-tiba dia berbalik lagi, aku sadar, aku baru saja memanggilnya tanpa
berpikir apa yang akan aku katakan kepadanya.
“Apa?”
tanyanya dengan alis terangkat.
“Emm,”
aku mulai gugup. “Emmm, kamu pulang bareng siapa?”
Gadis
itu tampak berpikir. “Harusnya sih sama Cela, tapi ternyata dia udah pulang. Yah,
terpaksa nunggu jemputan deh.”
“Pulang
bareng aku aja, mau nggak?” responku cepat, membuat gadis itu tak mampu
menyembunyikan keterkejutannya.
“Emm,
nggak usah, aku pulang sendiri aja,” jawabnya kemudian berbalik lagi. “Aku
pulang duluan yah, daaa!” pamitnya tanpa menoleh lagi padaku.
“Kamu
berubah,” kataku tiba-tiba, membuatnya menghentikan langkah dan menoleh ke
arahku lagi. Aku menelan ludah, gugup ketika melihat matanya mengirimkan
tatapan dalam kepadaku. Aku memberanikan diri untuk melangkah mendekatinya.
“Katanya kamu
nggak akan ninggalin aku, katanya kamu bakal terus nungguin aku, katanya kamu
nggak akan diam sama aku. Tapi lihat buktinya sekarang, apa kamu begitu?”
Gadis itu
mulanya terdiam dengan kepala tertunduk, tetapi setelah beberapa detik dia
menatapku. “Buat apa aku nungguin kalau nggak akan pernah mendapat kepastian?
Buat apa aku memperjuangkan kalau aku akan terus mendapat pengabaian? Buat apa
aku terus bicara sayang sama kamu tetapi akhirnya aku dijatuhkan? Aku nggak mau
hatiku tersakiti dan inilah waktu yang tepat untuk berhenti menanti,” jawabnya
dengan nada dalam, membuat hatiku seketika terasa dihunus pisau tajam. Aku
sadar, dia memang pernah sangat menyayangi aku.
Kutatap
matanya lebih dalam, tetapi dia tak gentar. Ia tetap menatapku. “Aku mulai
sayang sama kamu, aku mulai rindu sama kamu, hatimu masih terbuka buat aku?”
Gadis itu
terdiam, untuk beberapa detik kami terdiam. Gadis itu sibuk dengan
keputusannya, sementara aku sibuk membiarkannya memikirkan jawaban.
“Terlambat,”
katanya tiba-tiba membuatku menatapnya. Gadis itu malah tersenyum. “Aku udah
nggak bisa.”
Aku menelan
ludah. “Kenapa?”
“Semuanya udah
beda, semuanya udah nggak sama. Rasaku juga sudah beda, aku memang belum bisa
lupa, tapi aku memutuskan untuk berhenti. Ini bukan balas dendam, tapi aku tahu
keputusanku nggak salah.”
“Maksud kamu?”
“Aku nggak
bisa nerima kamu, aku udah…”
“Kania!”
Aku dan Kania
menoleh. Seorang cowok berpostur tinggi dan berkacamata berdiri di belakang
kami.
Kania
tersenyum padaku. “Aku udah menemukan yang baru. Dan aku sudah bahagia,”
jawabnya kemudian menyambut pria yang tadi memanggil namanya. “Aku pulang dulu,
ya? Daaah!”
Aku tahu apa
maksudnya. Aku tahu bagaimana perasaannya padaku sekarang. Aku sadar, aku
memang terlambat. Dan kini, aku hanya mampu melempar sebatas pandangan pada
Kania dan kekasihnya yang merangkul bahu gadis itu dengan kasih sayang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar