Sabtu, 14 Maret 2015

Cerita Mata (2)



“Kau suka betul, Zul pada si Renata?” tanya Topan suatu hari ketika kami sedang berjalan melewati guludan yang agak becek di antara pematang rumput yang sudah tinggi.
            Aku tidak menoleh, malah asyik menyisir rerumputan yang berayun ditiup angin menggunakan salah satu tanganku. “Memangnya kenapa?” tanyaku seadanya.
            Topan mengangkat bahu. “Kamu tahu, Zul. Renata buta.”
            Mendengar pernyataannya, barulah aku terdiam. Hanya menghembuskan nafas panjang lalu membiarkan udara berdesir gamang. Sejenak, aku renungkan lagi ucapan Topan, menimbang-nimbang apakah aku benar-benar bisa menerima kekurangan Renata. Akan tetapi, di manapun burung terbang dan daun kering berhamburan, cinta akan selalu buta. Begitulah hukumnya.
            “Ya, aku tahu Renata buta.” Aku memandangi Bukit Menoreh yang membentang tampak biru tua nun jauh dari hadapan mataku. “Tapi dia cukup puas melihat dalam kegelapa yang abadi. Dia cukup puas bisa meraba-raba. Dan aku yakin dia sanggup melihatku, walau tanpa kedua mata. Bagiku, begitu saja sudah cukup.”
            Topan memandangi aku, agak saksi dengan ucapanku yang lagaknya sudah seperti orang dewasa. Memang, agak aneh mendengar seorang bocah berusia enam belas tahun mengucapkan kalimat sedemikian rupa. Tapi, memang begitu adanya. Dua tahun sejak aku pergi bersama Renata ke pasar malam waktu itu, aku semakin yakin; aku mencintai Renata. Mencintai segala kekurangan yang melebihi kelebihannya.
            Topan menghembuskan nafas panjangnya. “Ya, Zul. Aku tahu kau begitu mencintainya. Tergambar indah di kedua matamu.”
            Aku menoleh, memandangi Topan. “Apakah terlihat jelas?”
            Topan mengangguk. “Ya, Zul. Aku yakin jika Renata melihatnya, gadis itu tak akan pernah melepasmu.”
            Aku tertawa. Topan memang kawan yang baik.
            Topan dan aku terus berjalan, menelusuri jalan setapak menuju sebuah sekolah—yang bahkan aku tak tahu apakah namanya terdengar hingga kecamatan—bersama pemuda dan bocah-bocah tanpa alas kaki yang juga ingin bersekolah. Melihat situasi di sekitarku, aku jadi bersyukur bisa memakai alas kaki walau masih terbatas pada sepatu sandal. Di desa kami, sandal adalah barang mewah. Sementara sepatu adalah mimpi di siang bolong.
            Rupanya, Topan sedang memikirkan sesuatu, sesuatu yang sangat amat serius dan mengusik pikirannya. “Syahrir dan Hamid sudah berangkat ke Jakarta, Zul. Berupaya mengubah nasib dengan menjadi seorang buruh.”
            Aku mengangguk.
            “Tak inginkah kau melakukan hal yang sama?”
            Aku mengerutkan kening. “Menjadi buruh?”
            Topan tertawa. “Bukan. Tapi kuliah.”
            Aku memikirkan ucapan Topan. Sejenak merenung, tapi sedetik kemudian tertawa terbahak-bahak. “Apa? Kuliah? Kau bercanda, huh?”
            “Tidak, Zul!” Topan berargumen. “Kuliah! Setelah lulus SMA, kita kuliah! Kita masuk ke universitas yang ada di Jakarta! Atau Bandung! Dan, kita jadi orang yang sukses! Kita kembali ke desa dan melakukan perubahan!”
            Bagiku, Topan terdengar begitu bersemangat. Bersemangat untuk bermimpi, maksudku. “Kau ya yang bayar uang kuliah?” tantangku.
            Topan menepuk bahu. “Lembaran uang tiada berarti demi masa depan yang lebih indah, Zul. Itu prinsipku.”
            Huh, sekarang dia bicara tentang prinsip yang bahkan aku tak tahu apa artinya! Aku masih saja tertawa, menganggap ucapan Topan hanyalah asa yang melayang terlalu tinggi dari realita yang ada. Namun, ada benih-benih yang muncul dalam hatiku, sebuah benih yang begitu menggebu dan bersemangat mengejar langkah Topan. Aku ingin kuliah.
***
            Ibu dan Bapak serta hampir seluruh warga dari Slarongan, Jonggrangan dan Tiban mengantar aku dan Topan menunggu bus di Kolowenang, batas desa kami. Ibuku dan Ibu Topan sama-sama terisak, entah terharu atau sedih melepas kami pergi. Ku lihat Topan memeluk kelima adiknya dengan mata sembab. Sementara bapak kami sibuk mengobrol dan membangga-banggakan kami kepada warga desa.
            Bus Prayogo yang kami tunggu tiba. Melihatku beranjak naik, Ibu berlari menarik kemeja baruku yang dia beli dari laba berjualan blanggreng dan klepon. “Jangan pergi, Zul! Jangan pergi!” isak Ibu begitu keras.
            “Ibu tak ingin aku sukses?”
            Ibu terdiam, memandangi aku dan membelai pipiku begitu sayangnya. “Jaga diri baik-baik. Menelfonlah kalau ada waktu. Nomor telfon Pak Ramto sudah kau bawa?” tanyanya membuatku mengangguk.
            “Sukseslah kau, Zul dengan bersekolah di IBB.”
            Aku tersenyum geli. “ITB, Bu,” koreksiku.
            “Iya, ITB maksudku,” ucap Ibu kemudian memandangi aku lagi yang juga memandanginya. Aku mengusap kedua matanya. Kubenarkan kerudung yang terlipat di kepalanya. Aku akan merindukan Ibu.
            Aku berbalik, menyusul Topan yang sudah duduk di dalam bus. Aku duduk di dekat jendela. Bus bergerak perlahan, meninggalkan Kolowenang. Dan perempuan yang terakhir kulihat hanyalah seorang gadis cantik dengan bola mata putih yang berdiri di samping ibunya sembari melambaikan tangan. Aku tersenyum, menahan pahit harus meninggalkannya. Aku akan merindukannya juga, seorang gadis yang semalam tadi kucium lembut bibirnya, Renata.
***
            “Masih jauhkah, Zul?” tanya Raquel di belakangku. Dia berjalan menelusuri guludan di antara rumput yang tengah mengering sembari kerepotan menenteng sebuah kopor dengan ukuran cukup besar.
            Aku melongok ke belakang, tersenyum geli melihat Raquel yang sedari tadi sok kuat. “Tidak. Seratus meter lagi.”
            “Hah!?” Raquel melongo.
            Aku tertawa. “Tidak, tidak. Rumahku di ujung sana. Kau lihat atap-atap itu?” tanyaku membuat Raquel mengangguk. “Di sanalah aku tinggal. Hmm, ngomong-ngomong, mau aku bawakan kopormu?”
            Raquel tampak berpikir. “Asal kau tidak menganggapku sebagai perempuan yang lemah!”
            Aku hanya tertawa. Kubawakan kopornya dan melanjutkan perjalanan. Ibu dan Bapak rupanya tengah menunggu aku di serambi. Melihatku tampak dari perempatan, mereka berlari menghampiri aku dan memelukku begitu senangnya. Aku perkenalkan Raquel, teman kuliahku yang super cerdas kepada mereka dan mereka menyambutnya begitu antusias dan mengajak kami makan siang.
            Begitu makan siang usai, aku menggandeng Raquel, merengek agar dia mau berkeliling desa.
            “Desaku terlalu indah jika hanya dikunjungi untuk beristirahat!” ucapku bersemangat. “Mari aku perkenalkan kau pada kekasihku!”
            Raquel yang awalnya tampak antusias langsung berubah air wajahnya. “Kau… sudah punya kekasih?” tanyanya terdengar gamang.
            “Ya! Pada awalnya dia sering memberi kabar, tapi lama-kelamaan, kabar tentangnya hilang dan ibu pun tak pernah bercerita tentangnya lagi. Aku begitu rindu padanya dan ingin melihatnya! Ingin sekali aku memeluknya! Kau pasti tahu bagaimana rasanya rindu?”
            Beranjaklah kami keluar dari rumah. Mengetahui tujuanku bertemu Renata, Ibu langsung menghampiri aku dengan mata melototnya. “Jangan kunjungi Renata! Jangan temui dia!” bentaknya.
            Aku mengerutkan kening tak mengerti. “Ada apa, Bu?”
            “Tidak! Tidak! Jangan temui dia, kau tak mengerti!”
            Aku menggeleng. Rinduku tengah menggebu-gebu. Ingin sekali aku memeluk Renata dan mencium rambutnya yang selalu wangi. “Ibu tak mengerti. Aku begitu rindu pada Renata!”
            “Tidak, Zul! Jangan! Aku mohon!”
            Aku tak mengindahkan ucapan Ibu. Bersama Raquel, aku berlari pergi. Aku tak sabar lagi.
***
            Rumah Renata kini bercat coklat. Dindingnya tak lagi bambu. Rumahnya lebih bagus dengan gaya cukup mewah bila dibanding rumah-rumah lain di desa kami. Bahkan, kulihat di serambi rumahnya terpampang meja dan sitje untuk tamu. Aku mengerutkan kening. Dari mana Renata mendapatkan uang untuk membenahi rumahnya? Apa pekerjaannya sekarang?
            “Ini rumah kekasihmu, Zul?” tanya Raquel di belakang punggungku.
            “Ya, ini rumahnya. Sungguh berbeda dari lima tahun yang lalu sejak aku pergi.”
            Raquel tak lagi bersuara. Dia sibuk melihat-lihat. Aku mengetuk pintu rumahnya sembari memanggil nama Renata dengan jantung yang berdegup begitu menggebu dan tak sabar. Tak sampai lima menit, ku dengar langkah kaki. Dan pintu dibuka. Aku begitu terpana.
            Di hadapanku, Renata berdiri. Wajahnya masih sama. Masih cantik. Rambutnya tetap panjang dan hitam. Tubuhnya juga wangi sama seperti dulu. Tapi… matanya tak lagi putih.
            “Zul, kau-kah itu?”
            Aku menelan ludah. “Ya, Re. Aku Zul.”
            Renata terpana. Sekejap setelah terdiam beberapa detik, dia memeluk aku. “Kau pulang, Zul! Akhirnya!”
            Aku tertawa dan membalas pelukannya. “Ya, Re. Aku sudah pulang,” jawabku sembari menatap wajahnya lagi. Aku begitu bahagia melihat kedua bola mata Renata tak lagi putih. Kini kedua bola matanya normal. Dia bisa melihat. Dia bisa melihatku.
            “Kedua matamu kini …”
            “Ya, Zul. Seseorang membantuku transplantasi kornea. Kini aku sudah bisa melihat dengan jelas.”
            “Aku senang mendengarnya, Re!” Aku memeluk Renata lagi. Betapa besar rinduku untuknya. Renata membalas pelukanku, hangat dan begitu melegakan. Kuuraikan pelukanku pada detik berikutnya, ku genggam jemarinya. “Mari pergi bersamaku, Re. Kita habiskan waktu bersama.”
            Aku mengajaknya berlari, namun rupanya Renata tak beranjak. Dia hanya memandang aku. Bibirnya tersenyum, namun kedua matanya menatapku begitu gamang. ”Ada apa, Re? Tak inginkah kau menemani aku? Aku pulang untukmu sekarang.”
            Senyum Renata memudar, dia menundukkan kepalanya. Belum sempat dia berucap, seorang bocah menghampirinya. “Ibu, aku lapar,” rengeknya.
            “Ya, nak. Makanlah,” jawab Renata sembari membelai lembut rambut anak itu.
            Aku terpana. Kupandangi Renata dengan kedua mata tak percaya. “Ibu?” tanyaku.
            Renata tersenyum memandangi aku. Kedua matanya masih gamang. Dia menelan ludah sebelum bicara. “Ini anakku, Zul.”
            Parang bagai menusuk jantungku. Dentuman terdengar di telingaku. Aku terpana. Benar-benar tak percaya. “A… anak?”
            “Ya, Zul. Aku menikah dengan dokter yang melakukan transplantasi kornea untukku. Maafkan aku,” isak Renata menundukkan kepala.
            Jantungku meletup penuh emosi. “Kenapa kau tak menungguku, Re?”
            “Kau pergi terlalu lama, Zul!”
            Aku mendekati Renata, memandanginya yang tak berani memandang aku. “Tapi hatiku tak pernah benar-benar pergi dari hatimu, Re,” bisikku begitu sedih. Aku mundur selangkah dan memaksakan senyum. “Anakmu begitu tampan, Re. Kau pantas memiliki anak sepertinya.”
            Renata diam.
            “Aku harus pulang.”
            “Maafkan aku, Zul.”
            Aku membalikkan tubuh, tak mengindahkan permintaan maafnya. Aku berlari, lupa kalau Raquel ada di sana. Melihatku pergi, Raquel mengejarku, mengikuti langkahku yang terburu-buru.
            Aku berhenti di suatu titik. Di sebuah batu besar di antara arus sungai yang mengalir bening nan deras. Aku masih ingat aku seringkali menghabiskan waktu bersama Syahrir, Hamid dan Topan di tempat itu. Masa kecil yang begitu indah, dengan Renata yang menjadi pelengkap keindahannya. Renata tumpuan harapanku dulu, yang menerbangkan imajinasiku menjadi asa yang begitu tinggi. Renata adalah cinta pertamaku, cinta terbesar yang pernah aku kenal. Dia pemilik ciuman pertamaku, bahkan pemilik senyum yang begitu indah yang akan membuatku jatuh sakit jika sehari tak melihatnya. Aku begitu mencintai Renata.
            Raquel menghampiri aku. “Kau menangis, Zul?”
            Aku terlalu sakit hati. Hingga label jagoan yang pernah menempel untukku tak bisa mengalahkan air mataku. “Ya, Ra. Aku menangis.”
            “Tak perlu malu.” Raquel berdiri di batu besar tempatku berdiri. “Aku tahu bagaimana perasaanmu.”
            “Dia cinta pertamaku. Aku sangat mencintainya. Terlalu dalam untuk mencintainya,” ucapku.
            Raquel tersenyum. Dia memainkan air menggunakan jemari kaki yang kukunya dicat merah. “Kau pria baik, Zul. Tak sulit bagimu untuk mencari gadis yang lain. Dibalik semua ini, kau harus belajar bahwa cinta sejati bukan berarti orang pertama yang membuatmu jatuh cinta.”
            “Aku tak punya waktu untuk mencari cinta sejati,” jawabku.
            Raquel menundukkan kepalanya. “Kau tak perlu mencari, Zul. Karena dia menunggumu sudah sejak lama. Dia selalu ada di dekatmu, namun kau tak memandangnya karena terlalu rindu pada cinta pertamamu,” ucap Raquel membuatku mengerutkan kening.
            “Seseorang menunggu aku?” Aku menatap Raquel yang menundukkan kepalanya. “Siapa?”

            Raquel mengangkat kepalanya, memandangi Bukit Menoreh yang terbentang biru tua dengan puncak tertutup awan nun jauh dari hadapan kami, kemudian memandang aku. Dia memandang jauh ke dalam kedua mataku. Begitu pun aku yang berlayar kemudian berlayar di dalam kedua mata teduhnya. Dan, tak perlu menunggu waktu yang begitu lama. Aku melihat kedua matanya memancarkan cinta. Untuk aku.          

Tidak ada komentar:

Posting Komentar