picture source by google
Melalui
sebuah lubang kecil yang menempel pada dinding bambu yang reyot di hadapanku
kini, aku bisa melihat sebuah sumur timba, ember-ember berisi air dan jemuran
yang belum terlalu kering. Kamar mandi terbuka dengan ukuran yang bisa dibilang
cukup luas jika dibandingkan kamar mandi lain milik rumah-rumah kecil di desaku
itu hanya ditutup oleh dinding-dinding bambu yang bahkan sudah berlubang di
sana-sini. Tapi tetap saja kamar mandi itu bisa dibilang mewah. Di desaku,
punya kamar mandi saja sudah dianggap orang kaya. Di tempat itu, sesekali
lubang hidungku mencium bau tak sedap dari air selokan yang mengalir tepat di
samping tanahku berpijak. Aku sebenarnya sudah tak tahan berdiri sendirian di
tempat ini dengan tubuh sedikit membungkuk agar bisa menaruh pandanganku kepada
kamar mandi melalui sebuah lubang kecil pada pembatasnya, kalau aku boleh
jujur. Tapi jangan salah, aku punya maksud tertentu berdiri berlama-lama dengan
posisi begini.
Dari pintu kamar mandi keluar
seorang wanita. Aku jadi was-was, takut kehadiranku disadari olehnya. Tapi
tidak, wanita itu tetap berjalan mengambil handuk dari tali jemuran dan
sepasang pakaian dalam, kemudian kembali lagi menghampiri pintu kamar mandi
sembari mengulurkan kedua tangannya. “Hati-hati,” ujarnya lembut, selembut
pelukan tangan milik sosok yang belum muncul dari balik pintu kamar mandi.
Dan, ketika sosok itu tampak,
jantungku makin tak karuan. Darahku naik ke ubun-ubun. Syaraf-syarafku mendidih
girang. Seorang gadis dengan kulitnya yang kuning langsat, rambut yang begitu
hitam dan panjangnya sekaligus wajah mulus nan tampak lembut yang jauh berbeda
dari para wanita di desaku keluar dengan hati-hati dari balik pintu kamar
mandi.
“Renata,” bibirku mengucap pelan.
Sang Ibu menyisir rambut Renata
pelan-pelan, begitu menikmati setiap sentuhan helai lembut rambut gadis itu,
tak ingin sehelai rambut pun jadi bercabang. Digulungnya rambut Rena, agar tak
basah kena air mandi yang akan dipakainya. Mataku terbelalak, Renata begitu
cantik dan sedap dipandang mata.
Rena duduk di sebuah dipan tempatnya
biasa mandi. Tubuhku semakin mendidih. Ada bagian tubuh yang ikut berdiri di
balik pakaianku. Rena, Rena, manismu sudah jadi harga mati.
Sang Ibu berdiri di belakang Rena.
Sedikit-sedikit melepas jarik yang membungkus lekuk indah tubuh itu.
Hampir-hampir kedua mataku melihat tubuh polosnya…
“Zul! Sedang apa kau!”
Aku kaget bukan main! Segera aku
beranjak dari posisiku dan memutuskan untuk berlari. Tapi sialan! Tubuhku tak
sengaja menubruk dinding bambu reyot di hadapanku, membuat ibu Renata yang
sebenarnya masih tak menyadari kehadiranku di situ langsung tanggap dan
mengambil air melalui ember lalu segera berlari menuju ke dinding. Disiramnya
air di dalam ember melalui dinding bambu sambil mengumpat, tak terima seorang
bocah mengintip anak gadisnya mandi.
Aku
berlari dan terus-menerus berlari, pergi menjauh dari tempatku berpijak.
Sialan, sialan! Di sebuah tanah lapang, kulihat teman-teman sebayaku memandangi
aku sambil tertawa terbahak-bahak. Rupa-rupanya mereka yang membuat tujuanku
tidak berjalan dengan baik!
“Wajahmu merah, Zul?” ledek Hamid
ketika aku duduk di sampingnya.
Teman-temanku tertawa.
“Bocah kecil sudah berani mengintip
anak gadis mandi, huh? Kalau sudah dewasa mau mengintip Nenek Abdulah yang
sudah bau tanah saat dia mandi?”
Sialan! Tawa teman-temanku makin
menjadi, sementara panas dan rona semakin membakar wajahku. Aku malu bukan
main.
Tiba-tiba Topan menghampiri aku,
menepuk bahu dengan wajah sok menghibur. “Keberanianmu patut diacungi jempol,
Zul! Aku bangga punya teman sepertimu!” ucapnya dengan nada bangga. Tapi tetap
saja maksud hatinya mengejek aku.
Aku jadi geram. Lekuk tubuh Renata
tak mau hilang dari benakku. Apalagi kejadian menubruk dinding kamar mandi Rena
yang membuat ibunya mengetahui niat burukku sehingga dia mengucapkan serapah
untukku. Benakku jadi bertanya-tanya, apakah ibu Rena tahu bahwa yang mengintip
anaknya adalah aku? Bagaimana jika dia tahu? Bagaimana jika dia mengadu kepada
ibuku? Biarpun aku dibilang jagoan di desaku, tetap saja aku takut pada ibuku
yang tubuhnya begitu gemuk sampai-sampai bapak pun tak berani membuatnya marah.
Aku jadi semakin panas, teman-teman
semakin meledekku dan tak peduli bahwa kini aku sedang cemas. Aku beranjak dari
tempatku. Dengan begitu geram, aku melangkah pergi. “Minggir, minggir!”
Hamid yang melihatku pergi langsung
mengeluarkan kalimat pedasnya lagi. “Mau kemana kau, Zul? Jangan bilang kau
akan pergi ke kamar mandi Nenek Abdullah untuk mengintipnya!”
Tawa kembali meledak. Aku jadi
semakin kesal.
***
Malam ini akan jadi malam yang
begitu sepi di desaku. Orang-orang sibuk mempersiapkan diri untuk pergi
menonton pasar malam dan menikmati wahana-wahananya atau bahkan menonton layar
tancap. Pasar malam memang selalu menjadi sebuah hiburan supermewah. Sebelum
pasar malam diadakan, orang-orang akan menabung agar bisa menikmati hiruk-pikuk
pasar malam dan membeli berbagai aksesoris dari sana.
Syahrir, Hamid dan Topan membunyikan
bel sepeda mereka dengan bersemangat ketika mereka sampai di halaman rumahku.
Aku keluar dengan langkah gontai, mereka tengah mengganggu tidurku.
“Kau bangun tidur, Zul? Tak ikutkah
kau dengan kami?” tanya Topan sangsi melihatku bangun tidur.
“Ke mana?” tanyaku tak acuh.
“Melihat orang-orang kota memasang
wahana pasar malam! Aku begitu penasaran bagaimana cara mereka memasang komedi
putar, atau membuat wahana sangkar burung yang begitu tinggi dan melihat para
remaja kota berlatih untuk tampil di tong setan malam nanti,” Topan menjelaskan
dengan begitu menggebu-gebu sementara Syahrir dan Hamid mendukung argumennya
dengan anggukan kepala yang tak henti-henti.
Aku menguap. “Aku tidak pergi,”
jawabku, membuat teman-temanku langsung melongo dengan mata terbelalak.
“Apa, Zul? Kau tidak pergi? Tidak
penasarankah kau?”
“Tidak,” jawabku. “Aku sudah pernah
melihatnya ketika bapak pergi membantu orang-orang kota mempersiapkan pasar
malam. Bapakku pernah menjadi buruh sementara di sana dan aku melihatnya
bekerja.”
Syahrir mengangkat bahu. “Ya
sudahlah kalau begitu. Jangan menyesal jika kau tak ikut bersama kami ya! Kami
akan bertemu dengan gadis-gadis cantik dari desa lain,” katanya berusaha
membujukku.
Aku menggeleng. “Tak ada gadis yang
lebih cantik dari Renata,” balasku, membuat mereka tak lagi berusaha
mengajakku. Mereka tahu aku begitu menyukai Renata.
“Terserah kau sajalah, Zul! Kau
memang aneh,” kata Hamid lalu mengayuh sepedanya menjauh, diikuti Syahrir dan
Topan yang melambaikan tangan padaku.
***
Sudah aku duga sejak awal, desa ini
menjadi sangat sepi malam ini. Setelah berpamitan dengan ibuku, aku berjalan
meninggalkan rumah, menelusuri jalan setapak yang baru setahun yang lalu
dilapisi aspal. Aku memandangi bintang, mengandai-andai. Syahrir, Hamid dan
Topan pasti sedang menikmati sangkar burung atau main komedi putar atau melihat
tong setan atau mungkin makan bakso dan mi ayam. Mereka pasti sedang sangat
gembira.
Tapi tidak! Malam ini, hanyalah aku
manusia paling bahagia di dunia! Lihat saja!
Aku memasuki sebuah pelataran rumah,
dengan gugup kuketuk pintu hijau di hadapanku. Tak menunggu lama, seseorang
membukanya dan tersenyum melihat kehadiranku. “Kau rupanya, Zul? Masuklah!”
Aku masuk ke dalam rumah. Sedikit
canggung, aku duduk di ruang tamu.
“Tunggu sebentar ya!”
Aku mengangguk pada sosok yang tadi
membuka pintu untuk aku, ibu Renata. Baru pertama kali dari sekian tahun aku
menyukai Renata, aku duduk di ruang tamu rumahnya. Dulu, menginjak halaman
rumahnya saja aku takut apalagi masuk ke dalam. Tetapi malam ini, aku berusaha
memberanikan diri untuk datang, mengajaknya pergi dan menunjukkan kepadanya bahwa
aku menyukainya sudah sejak lama. Kalau tidak begini, kapan Renata tahu ada seorang bocah empat
belas tahun yang menyukai dan begitu memuji-muji dia baik di alam sadar maupun
di dalam mimpi? Walau dengan gamblang diucapkan bahkan secara diam-diam dari
dalam hati?
Ibu Renata keluar dari balik ruangan
yang ditutup oleh gorden sebagai pintunya. Di samping beliau, Renata tampak
begitu manis dengan kerudung di kepalanya. Mereka berdua berjalan berdampingan
dengan hati-hati. Ibu Renata menggenggam erat-erat pelukan jemari Renata di lengannya
sementara kedua kakinya melangkah pelan agar Renata bisa mengikuti langkah
kakinya.
“Rena, Zul sudah datang. Kau mau kan
pergi bersamanya?” tanya Ibu pada Renata yang nampaknya mengangguk samar.
“Iya, jika hanya ibu mengijinkan,”
jawab Rena malu-malu.
Ibu tersenyum geli, dirasa anaknya
sudah cukup dewasa untuk pergi bersama seorang laki-laki (yang sebenarnya bocah
kecil ingusan yang sedang dilanda asmara). “Tak perlu malu-malu begitu,” kata
Ibu bercanda. “Zul anak yang baik, tentu Ibu mengijinkan kamu pergi bersama
dia. Ya kan, Zul?”
Aku hanya mengangguk sambil
menyiratkan senyum lebar di bibir, tak tahu harus berbuat apa selain begini.
Ibu mendekati aku. Dia masih saja
tersenyum, namun keduanya memancarkan harapan sekaligus kekhawatiran. Melihat senyum
lembutnya, aku jadi bersyukur Ibu Renata tidak tahu aku pernah bahkan sering
mengintip Renata mandi. Semoga saja dia tak pernah tahu, sehingga senyum
lembutnya untukku tak lekang nan pudar.
“Zul, aku ijinkan kamu mengajak anak
gadisku pergi. Ku rasa sudah waktunya dia keluar dari rumah untuk beberapa saat
dan menikmati keramaian selain di rumah saja,” ucap Ibu lembut. “Tapi, jagalah
Rena dengan sungguh-sungguh. Jangan mengajak dia ke tempat yang terlalu bising
karena dia belum terbiasa dengan keramaian. Jangan melangkah terlalu cepat
sehingga langkahnya tak tertinggal olehmu. Teruslah menggenggam tangannya,
jangan sampai lepas. Ibu sangat cemas kalau sesuatu terjadi padanya. Kau tahu,
Rena buta.”
“Zul mengerti, Bu,” jawabku gamblang
dengan nada sok pahlawan.
“Rena hartaku satu-satunya, sahabat
sekaligus anak gadis yang amat aku cintai. Kau tahu suamiku telah meninggal dan
tak ada siapa-siapa yang menemaniku selain Renata. Jangan sampai terjadi
apa-apa pada anakku, Zul.”
Aku mengangguk penuh keyakinan. “Zul
berjanji akan menjaga Renata selama kami berdua pergi,” kataku.
“Yaya, aku tahu kau anak yang baik
dan bertanggung jawab. Seringkali kulihat kau membantu ibumu dengan bersepeda
ke pasar membawa keranjang penuh dengan karung-karung singkong. Aku percaya kau
bisa menjaga Rena.”
“Kami pergi dulu, Bu.”
Ibu mengangguk, mengantarkan kami
berdua keluar dari rumah. Aku mengulurkan tangan, meraih tangan Renata,
mendekap jemarinya dalam sebuah pelukan hangat penuh perlindungan. Renata menatapku
entah mengapa. Aku tahu dia buta, tapi aku juga tahu, Renata sedang menatapku,
mungkin terkesima dengan genggaman yang begitu erat dari seorang laki-laki. Aku
tahu, genggaman seorang laki-laki adalah yang pertama untuk Renata.
“Hati-hati, Zul!”
Aku dan Renata melangkah pergi,
meninggalkan pelataran rumah menelusuri jalan setapak yang baru tahun lalu
dilapisi aspal. Begitu sejuk bersama Renata, begitu indah berjalan bersamanya
dibawah jutaan gemilang bintang.
***
“Cobalah
makan ini. Sudah pernah mencoba?”
Renata menerima permen kapas dari
genggaman tanganku. Dia merobek sedikit, kemudian mengunyahnya.
“Tak perlu dikunyah,” aku tersenyum
geli.
Renata nampaknya menikmati permen
kapas pemberianku. “Ini enak sekali, Zul! Bagaimana cara membuatnya?”
Aku tertawa, senang sekali dia menyukainya. “Hmmm, setahuku dengan gula. Tapi aku tak tahu bagaimana cara mengolahnya sehingga butiran-butiran gula bisa menjadi selembut kapas.”
Aku tertawa, senang sekali dia menyukainya. “Hmmm, setahuku dengan gula. Tapi aku tak tahu bagaimana cara mengolahnya sehingga butiran-butiran gula bisa menjadi selembut kapas.”
“Enak sekali! Boleh lagi?”
Sembari berjalan menelusuri
keramaian dan hiruk-pikuk pasar malam, aku dan Renata menikmati permen kapas
kami. Walau tak dapat melihat, aku yakin Renata menikmati apa yang dia dengar
dan dia rasakan.
“Maukah kau naik bianglala
bersamaku, Re?”
“Apa itu bianglala, Zul?” Renata
mengerutkan kening.
“Orang-orang di sini menyebutnya
sangkar burung karena bentuknya memang mirip dengan sangkar. Tapi kudengar
orang kota menyebutnya bianglala. Sangat asyik, Re! Kau bisa melihat seluruh
bagian desa dari atas sana!”
Renata menggeleng. “Aku tak dapat
melihat, Zul.”
Aku tersenyum, mempererat genggaman
tanganku pada setiap jemarinya. “Bersamaku, apa yang tak kau lihat akan kau
lihat dengan lebih indah, Re. Aku janji.”
Renata diam. Dia menoleh kepadaku,
entah apa yang dia lihat. Setelah berpikir beberapa saat, Renata setuju.
Kami berjalan menuju wahana
bianglala. Banyak muda-mudi dan anak-anak naik wahana itu. Aku dan Renata masuk
ke salah satunya. Bianglala perlahan-lahan bergerak, sedikit demi sedikit
bergerak naik, perlahan-lahan, lembut nan tenang, bianglala menuju ke atas dan
tiupan angina semakin kencang. Kulihat untaian rambut Renata melayang bebas,
begitu kemayu.
“Kita sudah di atas, Zul?”
“Ya, Re.”
“Apa yang kita lihat?
“Hamparan sawah nan hijau, lampu-lampu
yang tampak menyala dari Bukit Menoreh, Jonggrangan, Pasar Ngijon…”
“Indahkah itu semua, Zul?”
Aku mengangguk. “Ya, Re.” Aku
menatap Renata, memandang wajahnya tanpa merasa sangsi dengan bola matanya yang
bewarna putih. “Namun tak ada yang lebih indah selain melihatmu.”
Rena terdiam. Dia menundukkan kepala. Kulihat wajahnya merona begitu merah. Aku pun begitu. Wajahku panas bukan main. Dasar bocah kecil ingusan yang sok jantan, dari mana aku mendapat keberanian yang begitu edan?
Rena terdiam. Dia menundukkan kepala. Kulihat wajahnya merona begitu merah. Aku pun begitu. Wajahku panas bukan main. Dasar bocah kecil ingusan yang sok jantan, dari mana aku mendapat keberanian yang begitu edan?
Bianglala yang awalnya berdiam di
atas, tiba-tiba bergerak turun dengan begitu cepat. Orang-orang berteriak, tak
terkecuali Renata. Pelukan tangannya bertambah erat. Dia benar-benar terkejut. Aku
tertawa, menikmati sensasi demi sensasi yang diciptakan oleh putaran-putaran
bianglala, menikmati tiap pelukan Renata yang makin erat, menikmati wangi
rambut gadis itu dan mencuri sebuah ciuman yang begitu lembut dan tak kentara
sampai-sampai Renata tak menyadarinya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar