Selasa, 10 Maret 2015

Cerita Mata



picture source by google

Melalui sebuah lubang kecil yang menempel pada dinding bambu yang reyot di hadapanku kini, aku bisa melihat sebuah sumur timba, ember-ember berisi air dan jemuran yang belum terlalu kering. Kamar mandi terbuka dengan ukuran yang bisa dibilang cukup luas jika dibandingkan kamar mandi lain milik rumah-rumah kecil di desaku itu hanya ditutup oleh dinding-dinding bambu yang bahkan sudah berlubang di sana-sini. Tapi tetap saja kamar mandi itu bisa dibilang mewah. Di desaku, punya kamar mandi saja sudah dianggap orang kaya. Di tempat itu, sesekali lubang hidungku mencium bau tak sedap dari air selokan yang mengalir tepat di samping tanahku berpijak. Aku sebenarnya sudah tak tahan berdiri sendirian di tempat ini dengan tubuh sedikit membungkuk agar bisa menaruh pandanganku kepada kamar mandi melalui sebuah lubang kecil pada pembatasnya, kalau aku boleh jujur. Tapi jangan salah, aku punya maksud tertentu berdiri berlama-lama dengan posisi begini.
            Dari pintu kamar mandi keluar seorang wanita. Aku jadi was-was, takut kehadiranku disadari olehnya. Tapi tidak, wanita itu tetap berjalan mengambil handuk dari tali jemuran dan sepasang pakaian dalam, kemudian kembali lagi menghampiri pintu kamar mandi sembari mengulurkan kedua tangannya. “Hati-hati,” ujarnya lembut, selembut pelukan tangan milik sosok yang belum muncul dari balik pintu kamar mandi.
            Dan, ketika sosok itu tampak, jantungku makin tak karuan. Darahku naik ke ubun-ubun. Syaraf-syarafku mendidih girang. Seorang gadis dengan kulitnya yang kuning langsat, rambut yang begitu hitam dan panjangnya sekaligus wajah mulus nan tampak lembut yang jauh berbeda dari para wanita di desaku keluar dengan hati-hati dari balik pintu kamar mandi.
            “Renata,” bibirku mengucap pelan.
            Sang Ibu menyisir rambut Renata pelan-pelan, begitu menikmati setiap sentuhan helai lembut rambut gadis itu, tak ingin sehelai rambut pun jadi bercabang. Digulungnya rambut Rena, agar tak basah kena air mandi yang akan dipakainya. Mataku terbelalak, Renata begitu cantik dan sedap dipandang mata.
            Rena duduk di sebuah dipan tempatnya biasa mandi. Tubuhku semakin mendidih. Ada bagian tubuh yang ikut berdiri di balik pakaianku. Rena, Rena, manismu sudah jadi harga mati.
            Sang Ibu berdiri di belakang Rena. Sedikit-sedikit melepas jarik yang membungkus lekuk indah tubuh itu. Hampir-hampir kedua mataku melihat tubuh polosnya…
            “Zul! Sedang apa kau!”
            Aku kaget bukan main! Segera aku beranjak dari posisiku dan memutuskan untuk berlari. Tapi sialan! Tubuhku tak sengaja menubruk dinding bambu reyot di hadapanku, membuat ibu Renata yang sebenarnya masih tak menyadari kehadiranku di situ langsung tanggap dan mengambil air melalui ember lalu segera berlari menuju ke dinding. Disiramnya air di dalam ember melalui dinding bambu sambil mengumpat, tak terima seorang bocah mengintip anak gadisnya mandi.
            Aku berlari dan terus-menerus berlari, pergi menjauh dari tempatku berpijak. Sialan, sialan! Di sebuah tanah lapang, kulihat teman-teman sebayaku memandangi aku sambil tertawa terbahak-bahak. Rupa-rupanya mereka yang membuat tujuanku tidak berjalan dengan baik!
            “Wajahmu merah, Zul?” ledek Hamid ketika aku duduk di sampingnya.
            Teman-temanku tertawa.
            “Bocah kecil sudah berani mengintip anak gadis mandi, huh? Kalau sudah dewasa mau mengintip Nenek Abdulah yang sudah bau tanah saat dia mandi?”
            Sialan! Tawa teman-temanku makin menjadi, sementara panas dan rona semakin membakar wajahku. Aku malu bukan main.
            Tiba-tiba Topan menghampiri aku, menepuk bahu dengan wajah sok menghibur. “Keberanianmu patut diacungi jempol, Zul! Aku bangga punya teman sepertimu!” ucapnya dengan nada bangga. Tapi tetap saja maksud hatinya mengejek aku.
            Aku jadi geram. Lekuk tubuh Renata tak mau hilang dari benakku. Apalagi kejadian menubruk dinding kamar mandi Rena yang membuat ibunya mengetahui niat burukku sehingga dia mengucapkan serapah untukku. Benakku jadi bertanya-tanya, apakah ibu Rena tahu bahwa yang mengintip anaknya adalah aku? Bagaimana jika dia tahu? Bagaimana jika dia mengadu kepada ibuku? Biarpun aku dibilang jagoan di desaku, tetap saja aku takut pada ibuku yang tubuhnya begitu gemuk sampai-sampai bapak pun tak berani membuatnya marah.
            Aku jadi semakin panas, teman-teman semakin meledekku dan tak peduli bahwa kini aku sedang cemas. Aku beranjak dari tempatku. Dengan begitu geram, aku melangkah pergi. “Minggir, minggir!”
            Hamid yang melihatku pergi langsung mengeluarkan kalimat pedasnya lagi. “Mau kemana kau, Zul? Jangan bilang kau akan pergi ke kamar mandi Nenek Abdullah untuk mengintipnya!”
            Tawa kembali meledak. Aku jadi semakin kesal.
***
            Malam ini akan jadi malam yang begitu sepi di desaku. Orang-orang sibuk mempersiapkan diri untuk pergi menonton pasar malam dan menikmati wahana-wahananya atau bahkan menonton layar tancap. Pasar malam memang selalu menjadi sebuah hiburan supermewah. Sebelum pasar malam diadakan, orang-orang akan menabung agar bisa menikmati hiruk-pikuk pasar malam dan membeli berbagai aksesoris dari sana.
            Syahrir, Hamid dan Topan membunyikan bel sepeda mereka dengan bersemangat ketika mereka sampai di halaman rumahku. Aku keluar dengan langkah gontai, mereka tengah mengganggu tidurku.
            “Kau bangun tidur, Zul? Tak ikutkah kau dengan kami?” tanya Topan sangsi melihatku bangun tidur.
            “Ke mana?” tanyaku tak acuh.
            “Melihat orang-orang kota memasang wahana pasar malam! Aku begitu penasaran bagaimana cara mereka memasang komedi putar, atau membuat wahana sangkar burung yang begitu tinggi dan melihat para remaja kota berlatih untuk tampil di tong setan malam nanti,” Topan menjelaskan dengan begitu menggebu-gebu sementara Syahrir dan Hamid mendukung argumennya dengan anggukan kepala yang tak henti-henti.
            Aku menguap. “Aku tidak pergi,” jawabku, membuat teman-temanku langsung melongo dengan mata terbelalak.
            “Apa, Zul? Kau tidak pergi? Tidak penasarankah kau?”
            “Tidak,” jawabku. “Aku sudah pernah melihatnya ketika bapak pergi membantu orang-orang kota mempersiapkan pasar malam. Bapakku pernah menjadi buruh sementara di sana dan aku melihatnya bekerja.”
            Syahrir mengangkat bahu. “Ya sudahlah kalau begitu. Jangan menyesal jika kau tak ikut bersama kami ya! Kami akan bertemu dengan gadis-gadis cantik dari desa lain,” katanya berusaha membujukku.
            Aku menggeleng. “Tak ada gadis yang lebih cantik dari Renata,” balasku, membuat mereka tak lagi berusaha mengajakku. Mereka tahu aku begitu menyukai Renata.
            “Terserah kau sajalah, Zul! Kau memang aneh,” kata Hamid lalu mengayuh sepedanya menjauh, diikuti Syahrir dan Topan yang melambaikan tangan padaku.
***
            Sudah aku duga sejak awal, desa ini menjadi sangat sepi malam ini. Setelah berpamitan dengan ibuku, aku berjalan meninggalkan rumah, menelusuri jalan setapak yang baru setahun yang lalu dilapisi aspal. Aku memandangi bintang, mengandai-andai. Syahrir, Hamid dan Topan pasti sedang menikmati sangkar burung atau main komedi putar atau melihat tong setan atau mungkin makan bakso dan mi ayam. Mereka pasti sedang sangat gembira.
            Tapi tidak! Malam ini, hanyalah aku manusia paling bahagia di dunia! Lihat saja!
            Aku memasuki sebuah pelataran rumah, dengan gugup kuketuk pintu hijau di hadapanku. Tak menunggu lama, seseorang membukanya dan tersenyum melihat kehadiranku. “Kau rupanya, Zul? Masuklah!”
            Aku masuk ke dalam rumah. Sedikit canggung, aku duduk di ruang tamu.
            “Tunggu sebentar ya!”
            Aku mengangguk pada sosok yang tadi membuka pintu untuk aku, ibu Renata. Baru pertama kali dari sekian tahun aku menyukai Renata, aku duduk di ruang tamu rumahnya. Dulu, menginjak halaman rumahnya saja aku takut apalagi masuk ke dalam. Tetapi malam ini, aku berusaha memberanikan diri untuk datang, mengajaknya pergi dan menunjukkan kepadanya bahwa aku menyukainya sudah sejak lama. Kalau tidak begini, kapan             Renata tahu ada seorang bocah empat belas tahun yang menyukai dan begitu memuji-muji dia baik di alam sadar maupun di dalam mimpi? Walau dengan gamblang diucapkan bahkan secara diam-diam dari dalam hati?
            Ibu Renata keluar dari balik ruangan yang ditutup oleh gorden sebagai pintunya. Di samping beliau, Renata tampak begitu manis dengan kerudung di kepalanya. Mereka berdua berjalan berdampingan dengan hati-hati. Ibu Renata menggenggam erat-erat pelukan jemari Renata di lengannya sementara kedua kakinya melangkah pelan agar Renata bisa mengikuti langkah kakinya.
            “Rena, Zul sudah datang. Kau mau kan pergi bersamanya?” tanya Ibu pada Renata yang nampaknya mengangguk samar.
            “Iya, jika hanya ibu mengijinkan,” jawab Rena malu-malu.
            Ibu tersenyum geli, dirasa anaknya sudah cukup dewasa untuk pergi bersama seorang laki-laki (yang sebenarnya bocah kecil ingusan yang sedang dilanda asmara). “Tak perlu malu-malu begitu,” kata Ibu bercanda. “Zul anak yang baik, tentu Ibu mengijinkan kamu pergi bersama dia. Ya kan, Zul?”
            Aku hanya mengangguk sambil menyiratkan senyum lebar di bibir, tak tahu harus berbuat apa selain begini.
            Ibu mendekati aku. Dia masih saja tersenyum, namun keduanya memancarkan harapan sekaligus kekhawatiran. Melihat senyum lembutnya, aku jadi bersyukur Ibu Renata tidak tahu aku pernah bahkan sering mengintip Renata mandi. Semoga saja dia tak pernah tahu, sehingga senyum lembutnya untukku tak lekang nan pudar.
            “Zul, aku ijinkan kamu mengajak anak gadisku pergi. Ku rasa sudah waktunya dia keluar dari rumah untuk beberapa saat dan menikmati keramaian selain di rumah saja,” ucap Ibu lembut. “Tapi, jagalah Rena dengan sungguh-sungguh. Jangan mengajak dia ke tempat yang terlalu bising karena dia belum terbiasa dengan keramaian. Jangan melangkah terlalu cepat sehingga langkahnya tak tertinggal olehmu. Teruslah menggenggam tangannya, jangan sampai lepas. Ibu sangat cemas kalau sesuatu terjadi padanya. Kau tahu, Rena buta.”
            “Zul mengerti, Bu,” jawabku gamblang dengan nada sok pahlawan.
            “Rena hartaku satu-satunya, sahabat sekaligus anak gadis yang amat aku cintai. Kau tahu suamiku telah meninggal dan tak ada siapa-siapa yang menemaniku selain Renata. Jangan sampai terjadi apa-apa pada anakku, Zul.”
            Aku mengangguk penuh keyakinan. “Zul berjanji akan menjaga Renata selama kami berdua pergi,” kataku.
            “Yaya, aku tahu kau anak yang baik dan bertanggung jawab. Seringkali kulihat kau membantu ibumu dengan bersepeda ke pasar membawa keranjang penuh dengan karung-karung singkong. Aku percaya kau bisa menjaga Rena.”
            “Kami pergi dulu, Bu.”
            Ibu mengangguk, mengantarkan kami berdua keluar dari rumah. Aku mengulurkan tangan, meraih tangan Renata, mendekap jemarinya dalam sebuah pelukan hangat penuh perlindungan. Renata menatapku entah mengapa. Aku tahu dia buta, tapi aku juga tahu, Renata sedang menatapku, mungkin terkesima dengan genggaman yang begitu erat dari seorang laki-laki. Aku tahu, genggaman seorang laki-laki adalah yang pertama untuk Renata.
            “Hati-hati, Zul!”
            Aku dan Renata melangkah pergi, meninggalkan pelataran rumah menelusuri jalan setapak yang baru tahun lalu dilapisi aspal. Begitu sejuk bersama Renata, begitu indah berjalan bersamanya dibawah jutaan gemilang bintang.
***
“Cobalah makan ini. Sudah pernah mencoba?”
            Renata menerima permen kapas dari genggaman tanganku. Dia merobek sedikit, kemudian mengunyahnya.
            “Tak perlu dikunyah,” aku tersenyum geli.
            Renata nampaknya menikmati permen kapas pemberianku. “Ini enak sekali, Zul! Bagaimana cara membuatnya?”
            Aku tertawa, senang sekali dia menyukainya. “Hmmm, setahuku dengan gula. Tapi aku tak tahu bagaimana cara mengolahnya sehingga butiran-butiran gula bisa menjadi selembut kapas.”
            “Enak sekali! Boleh lagi?”
            Sembari berjalan menelusuri keramaian dan hiruk-pikuk pasar malam, aku dan Renata menikmati permen kapas kami. Walau tak dapat melihat, aku yakin Renata menikmati apa yang dia dengar dan dia rasakan.
            “Maukah kau naik bianglala bersamaku, Re?”
            “Apa itu bianglala, Zul?” Renata mengerutkan kening.
            “Orang-orang di sini menyebutnya sangkar burung karena bentuknya memang mirip dengan sangkar. Tapi kudengar orang kota menyebutnya bianglala. Sangat asyik, Re! Kau bisa melihat seluruh bagian desa dari atas sana!”
            Renata menggeleng. “Aku tak dapat melihat, Zul.”
            Aku tersenyum, mempererat genggaman tanganku pada setiap jemarinya. “Bersamaku, apa yang tak kau lihat akan kau lihat dengan lebih indah, Re. Aku janji.”
            Renata diam. Dia menoleh kepadaku, entah apa yang dia lihat. Setelah berpikir beberapa saat, Renata setuju.
            Kami berjalan menuju wahana bianglala. Banyak muda-mudi dan anak-anak naik wahana itu. Aku dan Renata masuk ke salah satunya. Bianglala perlahan-lahan bergerak, sedikit demi sedikit bergerak naik, perlahan-lahan, lembut nan tenang, bianglala menuju ke atas dan tiupan angina semakin kencang. Kulihat untaian rambut Renata melayang bebas, begitu kemayu.
            “Kita sudah di atas, Zul?”
            “Ya, Re.”
            “Apa yang kita lihat?
            “Hamparan sawah nan hijau, lampu-lampu yang tampak menyala dari Bukit Menoreh, Jonggrangan, Pasar Ngijon…”
            “Indahkah itu semua, Zul?”
            Aku mengangguk. “Ya, Re.” Aku menatap Renata, memandang wajahnya tanpa merasa sangsi dengan bola matanya yang bewarna putih. “Namun tak ada yang lebih indah selain melihatmu.”
            Rena terdiam. Dia menundukkan kepala. Kulihat wajahnya merona begitu merah. Aku pun begitu. Wajahku panas bukan main. Dasar bocah kecil ingusan yang sok jantan, dari mana aku mendapat keberanian yang begitu edan?

            Bianglala yang awalnya berdiam di atas, tiba-tiba bergerak turun dengan begitu cepat. Orang-orang berteriak, tak terkecuali Renata. Pelukan tangannya bertambah erat. Dia benar-benar terkejut. Aku tertawa, menikmati sensasi demi sensasi yang diciptakan oleh putaran-putaran bianglala, menikmati tiap pelukan Renata yang makin erat, menikmati wangi rambut gadis itu dan mencuri sebuah ciuman yang begitu lembut dan tak kentara sampai-sampai Renata tak menyadarinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar