Sabtu, 26 Juli 2014

Selamat Pulang

            Aku memandangi wajah manismu melalui bingkai foto di hadapanku. Sejenak, kedua mataku saling terpejam, menautkan diri bersama dengan sang batin yang mulai meraba bayang-bayangmu. Dalam diam, sedikit demi sedikit, kurasakan rindu yang seiring detik semakin menjadi bukit. Dia mengganggu, namun membuatku merasa nyaman. Dia usil, namun membuatku tak akan membiarkannya pergi.
            Mataku kembali terbuka, berniat kembali meniti ronamu walau hanya melalui sebuah foto. Kumismu, senyummu, tawamu, dan kadang manyun bibirmu, menghiasi malamku. Semua itu membuat rindu semakin menelusup dalam dadaku, membuatnya semakin terasa perih karena aku tahu, aku belum sanggup merabamu. Dan rindu kian jadi menyiksa ketika lantunan nada A Thousand Miles yang dibawakan oleh Nadya Fatira sebagai cover lagu dari Vanessa Carlton menguar dari radio kecil di samping bingkai fotomu.
            Awalnya, ronamu yang menciptakan lengkungan senyum di bibirku kini telah berubah menciptakan sebuah ekspresi datar yang membuatku menatap kosong pada langit malam. Di sana, di langit itu dan di antara bintang yang bersembunyi di balik mendung, aku mulai melukis bayanganmu, membiarkan hati berbisik tentang apa yang kurang mengenai gambaranmu. Tapi aku masih ingat semuanya, meski hari-hari yang lalu membiarkan kita tidak bertemu.
            Aku benci pada jarak. Sejak aku mengenalmu, satu kata itu menjadi sebuah kata yang membuatku seringkali menyesal pernah mengenalmu dan menyesal pernah merajut rasa bersamamu. Satu kata itu juga seringkali menjatuhkan bulir-bulir air mata ketika menyadari aku sangat merindukanmu, namun kau tak ada di sisiku dan aku tak bisa merabamu, bahkan sekedar menggenggam tanganmu.
            Namun, jarak. Satu kata itu yang sekaligus membuatku terus menyayangimu, saban hari semakin rindu padamu, dan hanya jarak yang melahirkan alasan kenapa aku senantiasa memberikan pelukan erat ketika kamu dan aku bertemu.
            Di sini, di tempat aku menulis kisah ini, aku ingat kamu pernah duduk di sisiku, saling menertawakan tingkah konyol kita, bercerita tentang sinetron ABG Jadi Manten, Ganteng-Ganteng Seringgila, dan berbagai sinetron yang membuatmu bergidik jijik, saling menggoda dengan bibir yang saling manyun, bertatapan dalam, berpelukan, bergelayut manja, bergandengan tangan, mencium kening hingga mengecup pipi.
            Aku sangat merindukanmu, andai kamu tahu. Pesan singkat, telfon, chatting, bahkan kisah ini—bagiku—sangat tidak setimpal dengan rasa rinduku. Aku ingin lebih, aku ingin kita bertemu. Malam ini, aku rindu genggaman tanganmu. Aku rindu bersandar di punggungmu. Aku rindu aroma tubuhmu. Aku rindu menggigit pundakmu. Aku rindu bergelayut dalam rangkulanmu. Aku rindu suaramu. Aku rindu bibirmu yang mampu menghapus beku dalam malamku. Aku rindu pujian bahkan celaanmu. Aku rindu cerita-ceritamu dan obrolan sok berbobot yang seringkali kita nadakan, entah tentang sang cawapres, entah tentang buku-buku, entah tentang masa depan, entah tentang apa saja dan apalagi, yang jelas aku merindukanmu… sangat merindukanmu.
            Kisah ini sempat berhenti ku tulis ketika handphone-ku berdering nyaring dan membuatku terenyak dari lamunanku. Bibirku kembali merenda senyum ketika kulihat namamu menjadi penyebab dering handphone-ku. Segera dan tanpa berpikir seperti biasanya, aku menjawab telfonmu, menyambutmu dengan ceria yang tak pernah pudar.
            “Aku lagi di Bandung ini,” katamu dengan penuh semangat.
            Aku berjingkat girang. “Oleh-oleh!” seruku.
            Kamu terdiam sejenak, dan aku tahu kamu pasti mengangkat salah satu alismu. “Oleh-oleh?”
            Tanpa sadar, aku menganggukkan kepalaku dengan semangat. Sadar bahwa kamu tak akan tahu jika aku menganggukkan kepala, aku segera menambahkan. “Iya, oleh-oleh! Katanya lagi di Bandung, bawain oleh-oleh bisa dong!” pintaku bersemangat.
            Kamu tertawa. “Aku di Bandung cuma ke stasiunnya doang.”
            “Terus pulang ke Solo?”
            “Iya dong!” jawabmu, membuatku yakin bahwa kamu memang pulang untukku.
            Aku berdeham. “Emmm, kalau udah sampai Solo, main ke rumahku yaaa!”
            “Siap!” jawabmu.
            Dan kulanjutkan lagi menulis kisah ini. Andai kamu tahu, aku tak henti merenda senyum lebar ketika kalimat demi kalimat ini kulukiskan setelah kamu menelfonku. Sama seperti ketika kita pertama kali bertemu, jantungku tak pernah menghilangkan degupan-degupan aneh yang kurasakan setiap aku mendengar suaramu.
            Aku sama sekali tak menghilangkan bayanganmu dan membiarkan rindu menuntunku menulis kisah ini. Dan ketika tulisan ini selesai, aku berdoa untukmu, berdoa untuk perjalananmu, dan berdoa untuk jarak yang semakin terhapus oleh waktu.
            Untukmu, Stevanus. Semoga selamat sampai di rumah dan semoga senyum sekaligus pelukmu tak berubah ketika pandang kita bertemu esok. Aku sayang kamu.
           
           


Minggu, 15 Juni 2014

Balada Cinta Panggah 1

oleh: Lalita.

            Dalam malam yang hening, di tengah haribaan yang kerontang, dua mata memandang langit yang amat terang dihiasi gelantungan bintang-bintang. Hari itu mendung tiada lagi menyelimuti desa dan dingin tak lekat pada tubuhku yang senantiasa berdiri di sebuah rumah yang dibangun di atas sebuah pohon trembesi besar, yang berdiri gagah di tengah lahan kering di teritori desa kami.
            Aku tidak sepenuhnya sendiri, sebenarnya. Ada doa para katak yang diwarnai oleh suara arus air di sungai dekat rumah pohon ini. Ada juga kerik para jangkrik yang tinggal di ilalang di belakang rumah pohon ini. Namun, mereka jauh. Dan aku tak mengerti apa yang mereka ucapkan. Yang aku tahu, mereka sebatas bernyanyi dan berkomunikasi, dengan cara mereka sendiri. Atau mungkin mereka sedang menyapa sang Ilahi? Aku tiada tahu.
            Berdiri di sini, seorang gadis, sendirian sebenarnya sangat mengherankan. Namun aku sendirian di sini bukan tanpa maksud dan tujuan. Aku masih singgah di sini, membiarkan senja ditutup oleh azan Magrib yang berkumandang beberapa menit yang lalu dengan tujuan menunggu seseorang, membiarkan mataku terpuaskan melihat wajahnya yang senantiasa memancarkan keceriaan, memuaskan hatiku yang hampir saban hari meratap menemui dia yang hingga saat ini tak kunjung datang.
            Batinku bagai kehausan dalam kemarau panjang ketika dia yang aku tunggu tak kunjung memancarkan citranya. Namun mengalami kepuasan tiada hingga ketika pintu rumah pohon yang awalnya tertutup rapat pada akhirnya terbuka.
            Aku menoleh. Dan dia yang aku tunggu akhirnya datang, menunjukkan tampang penyesalan. “Maafkan, Ata! Maafkan Panggah terlambat! Panggah bantuin Simbok, jatuh di pasar!” jelasnya tak henti-henti meminta ampun dariku.
            Aku menghampirinya, menuntunnya duduk di sampingku. “Tak apa, Panggah. Ata memaafkan Panggah pun Panggah tak minta ampun sama Ata. Simbok nggak apa-apa?” tanyaku.
            Panggah mengangguk. “Tapi, Panggah terlambat. Panggah nggak baik,” katanya lagi, masih diwarnai penyesalan. Matanya menatap ke segala arah, tidak ke mataku.
            Aku tersenyum. “Panggah, dengar baik-baik. Saya sudah memaafkan kamu,” ujarku.
            Panggah mengangguk lagi, entah apa maksudnya. “Panggah masih bisa dengar cerita Ata?” tanyanya. Kali ini matanya memandangku dengan penuh harap. “Panggah nggak mau dihukum, Ata. Panggah terlambat, Panggah nggak mau dihukum! Tapi Panggah mau mendengarkan cerita dari Ata,” ucapnya.
            Aku mengangguk. “Panggah nggak dihukum. Ata memang mau ngasih cerita buat Panggah,” jawabku.
            Panggah mengibas-ngibaskan tangannya. Melompat-lompat senang. Tertawa-tawa. “Asik! Asik! Panggah mendengarkan cerita! Panggah mendengarkan cerita!” katanya riang.
            Aku tertawa. Senang melihat Panggah yang tersenyum ceria. Aku berjalan menuju ke sebuah meja, mengambil salah satu topi kertas yang biasa digunakan anak-anak jika mereka ingin mendengarkan dongeng dariku. Aku memang suka membacakan dongeng kepada mereka, setidaknya rumah pohon ini menjadi sarana untuk mereka berkumpul dan mendengarkan dongeng.
            “Pakai ini dulu,” pintaku sembari memberikan topi kertas di genggamanku kepada Panggah yang langsung menerimanya dengan riang. “Topi kertas!” serunya sembari meletakkan topi kertas di kepalanya.
            Aku tersenyum. “Dengarkan saya baik-baik ya,” ujarku. Dan aku mulai bercerita. Kalian tahu dongeng dari nun jauh di sana, tentang seorang putri yang mencintai pangeran buruk rupa, bukan? Tentu saja, dongeng itu sudah terkenal dimana-mana. Aku mengisahkan dongeng itu kepada Panggah yang senantiasa memusatkan perhatian pada bibirku yang tak henti bercerita dan kedua tanganku yang bergerak-gerak memberikan gestur pada dongengku kepada Panggah.
            Aku menyukai caranya mendengarkan ceritaku. Aku suka kedua telinganya yang kadang-kadang bergerak secara tidak sadar ketika Panggah berkonsentrasi terhadap dongengku. Aku menyukai kedua matanya yang menatap bibirku. Matanya yang jernih. Matanya yang polos. Matanya yang kanak-kanak, yang tidak sesuai dengan umurnya saat ini.
            Di desa ini, Panggah—anak pedagang singkong di pasar Ngijon, pasar dekat desa kami—dianggap gila. Dia bertingkah layaknya anak kecil, bergabung dan bermain bersama anak-anak kecil, ketika siang hari dan seluruh pria yang seumuran dengannya bekerja di ladang, Panggah bermain layang-layang atau ikut memandikan kerbau, masih bersama sahabatnya, anak-anak di desa kami. Setiap sore, Panggah menyempatkan diri datang di rumah pohon, bergabung bersama anak-anak desa dan mendengarkan dongengku. Pernah sekali, Panggah ikut berperan dalam drama yang diselenggarakan saat perayaan tujuh belasan, drama yang aku buat dan melibatkan anak-anak di desaku. Alhasil, tingkah Panggah yang lucu mengundang gelak tawa warga desa dan menjadikan perayaan tujuh belasan malam itu sarat akan wajah-wajah ceria, terutama untuk para pejabat desa.
            Tapi aku menyukainya. Tak peduli warga desa menganggapnya gila atau kurang waras. Aku berlindung dari semua masalahku dikedua matanya yang selalu teduh. Aku merasa tenang ketika bibir tipisnya memancarkan ceria yang tak pernah pudar. Dia yang dianggap sinting malah membuatku senantiasa menunggu kehadirannya.
            Dan, jika kalian tahu. Maksudku memberikan dongeng tentang putri cantik dan pangeran buruk rupa adalah salah satu caraku mengungkapkan perasaanku pada Panggah. Aku tak pernah menganggap Panggah sebagai buruk rupa, tetapi dongeng itu menyampaikan rasaku, bahwa aku mencintai Panggah. Aku mencintai kekurangannya. Aku mencintai Panggah apa adanya. Tak peduli slentingan orang tentang dirinya yang memang mengalami keterbelakangan mental.
            “Nah, pada akhirnya, Putri Cantik dan Pangeran Buruk Rupa hidup bahagia selama-lamanya,” tutupku pada dongengku malam ini.
            Panggah bertepuk tangan. “Hore! Hore!” serunya gembira, pada dongengku yang sederhana.
            Aku menengok arloji di tanganku, kemudian menatap Panggah. Waktu berjalan terlampau cepat, batinku. Hari tahu-tahu sudah makin malam. “Panggah, udah malam. Simbok pasti cemas. Kita pulang, ya?”
            Panggah menggerutu. “Ya-ya, Panggah memang harus pulang kalau hari sudah gelap.”
            “Panggah mau pulang bareng Ata, nggak?” tawarku, berharap Panggah menjawab iya.
            Dan Panggah memang menjawab iya. “Panggah mau pulang bareng Ata! Panggah mau!” serunya bersemangat sembari menatapku dengan mata teduhnya.
***
            Simbok mengantarkan aku keluar dari rumah bambunya ketika Panggah sudah masuk ke dalam kamar. Kecemasan tergantung di wajahnya. Simbok menatapku, ingin berbicara, namun urung. Menatapku lagi, ingin bicara, namun kembali urung. Aku jadi bingung melihat sikapnya, kutatap Simbok dengan penuh tanda tanya.
            “Ada apa, Mbok? Kayaknya kok cemas begitu?” tanyaku.
            Simbok bermain-main dengan jemarinya. “Anu, Non. Saya bingung gimana cara ngomongnya,” katanya.
            Aku mengerutkan kening. “Memangnya ada apa?”
            Simbok menahan suara, menelan ludah, kemudian menatapku dengan setengah hati. “Begini lho, Non. Kita tau Panggah mengalami keterbelakangan mental, kita juga tahu kalau di desa ini, Panggah dianggap kurang waras. Bahkan orang-orang di desa sebelah juga menganggapnya demikian. Apalagi, Panggah sering jadi bahan olok-olok.”
            Keningku semakin berkerut bingung, aku tak mengerti kemana ucapan Simbok bermuara. “Langsung aja, Mbok,” ucapku tak sabar.
            “Saya—bukannya gimana-gimana—sebenarnya agak khawatir sama Non Ata. Sebaiknya, Non Ata jaga jarak sama Panggah. Panggah, anak Simbok memang anak yang baik. Tapi, kalau Non Ata terus-menerus dekat dan menaruh perhatian kepada Panggah, saya takut kalau orang-orang desa jadi berpikiran macam-macam dan Non Ata mendapatkan selentingan-selentingan yang agak nggerus ati,” jelas Simbok dengan citra kecemasan yang makin menggores wajahnya.
            Aku menghembuskan nafas panjang. Diam menyelimuti malam kami. Warga desa sudah masuk ke dalam rumah mereka masing-masing, malam memang sudah larut. Aku berpikir sejenak, memejamkan mata dan membiarkan hatiku bergelora. Ketika merasa harus menyudahi keheningan kami, aku menatap Simbok dengan tatapan teduh dan tersenyum.
            “Mbok, izinkan saya mencintai Panggah,” ucapku yakin. Dan seperti yang aku duga, Simbok tampak terkejut. Ia mencerna kata-kataku, menganggap ucapanku salah, menganggap aku tak berbicara kepadanya.
            “Non—non Ata ngomong sama saya?”
            Aku mengangguk. “Saya mencintai Panggah, Mbok. Saya mencintai mata teduhnya dan bibirnya yang selalu merenda ceria.”
            “Tapi, Non—”
            “Saya mencintai Panggah apa adanya,” putusku lalu pamit pulang. Simbok masih terdiam, berdiri di depan rumah bambunya dan menganggapku sebagai hantu yang tiba-tiba datang mengejutkannya dengan sebuah ungkapan kata.
***
            Aku bangun esok paginya. Dengan semangat yang menggelora, aku membasuh muka, mengeluarkan sepeda kebo yang setia menemaniku plesir keliling desa. Setiap pagi, setiap Bapak sudah berangkat ke ladangnya mengawasi padi, aku mengayuh sepedaku diam-diam menuju ke rumah Panggah. Bapak tidak akan senang jika aku melakukannya. Dia akan marah besar. Namun, kayuhan sepedaku menuju ke rumah Panggah tak pernah diketahui Bapak.
            Dan pagi itu, seperti biasa, Panggah berada di beranda rumahnya, dengan baju kumal dan kusam yang juga sudah biasa, membantu Simbok menaikkan singkong ke dalam keranjang sepedanya sembari bernyanyi-nyanyi kecil, kali itu dia menyanyikan lagu Selamat Ulang Tahun, entah siapa yang berulang tahun.
            Aku menghampiri mereka berdua, melambaikan tangan. Panggah menyambutku ceria, namun tidak dengan Simbok. Agaknya dia masih tak percaya dengan ucapanku kemarin malam.
            Aku—dengan susah payah—membantu Panggah menggotong karung-karung berisi singkong. Seumur hidup, aku belum pernah mengangkat beban seberat ini. Susah payah yang aku lakukan dianggap lelucon oleh Panggah, dia menertawakan aku. Tapi tak apa, aku senang jika aku berhasil membuatnya tertawa. Toh, susah payah yang membuat wajahku terlihat jelek dan tawa Panggah mengundang tawa Simbok yang awalnya masih beku terhadap kehadiranku.
            Kami akhirnya memutuskan untuk bersepeda menuju ke Pasar Ngijon yang jaraknya kira-kira lima belas kilometer dari desa kami. Pagi itu matari cerah, hari yang penuh bahagia. Simbok memboncengkan karung-karung berisi singkong, sementara diboncenganku, Panggah duduk sembari bermain-main dengan ketapel yang selalu dia bawa.
            Hari tercerah dalam hidupku.
            Ketika siang tiba, Simbok mengizinkan aku mengajak Panggah makan soto di sebuah warung soto yang terkenal paling lezat di desa kami. Ditengah mentari yang semakin terik, aku bergabung bersama Panggah dan anak-anak desa bermain layang-layang di tengah ladang yang kering. Ketika kami bosan, kami merangkak-rangkak dibawah ilalang, memasang ekspresi was-was dan terus terdiam sembari mengintai ndog gemak yang berkeliaran. Dengan ketangkasan ketapel, kami berhasil menangkap beberapa ndog gemak dan menjadikannya cemilan di bawah rumah pohon kami.
            Dan ketika senja tiba, membentuk siluet-siluet dan mengundang mentari untuk bersembunyi, aku pamit pulang. Aku tau Bapak pasti mencariku dan akan memarahi aku di hari yang paling bahagia ini ketika aku pulang nanti.
            Aku membalikkan tubuh, menatap Panggah sejenak sebelum pulang ke rumah. Matanya tetap teduh, tak mengetahui bahwa perasaanku kini gusar karena harus berpisah dari dia. “Ata pamit pulang, ya!” pamitku kepadanya, yang langsung mengacungkan dua ibu jari.
            “Sampai ketemu besok, Ata!” Panggah melambaikan tangannya.
            Aku berpamitan kepada anak-anak, melangkah pergi, siap pulang ke rumah dan siap menghadapi Bapak yang pasti murka.  
Bersambung...

            

Senin, 07 April 2014

Keludtus.

            Aku berlari terhuyung-huyung menuju ke pintu kafe. Batuk melandaku siang ini, tenggorokanku terasa sesak, kuman-kuman menutupnya dengan virus. Di sekitar kafe milikku, kulihat tak ada toko yang buka. Semua tutup. Debu vulkanik beterbangan ringan, menutup cerahnya mentari sehingga pagi ini mega tak dibiarkan bersinar untuk mencerahkan hari.
            Aku segera menutup pintu, tak akan kubiarkan partikel-partikel kecil yang memabukkan dari gunung Kelud itu menjadi pengunjung yang menodai kebersihan kafeku. Seluruh kursi kutata di atas meja, kuputuskan untuk membiarkan debu menghias meja kafe. Toh, tak ada yang akan peduli. Tak ada yang mengunjungi tempat ini.
            Radio kubiarkan menyala. Setidaknya, walaupun berisik, aku bisa mendengarkan apa yang terjadi di luar sana. Ku dengar debu vulkanik sudah beterbangan menuju Tasikmalaya. Aku berdecak heran. Dalam waktu hanya beberapa jam, debu-debu sialan hasil amukan Gunung Kelud itu main rusak dan menghancurkan kota saja.
            Aku mengambil tasku, kumasukkan beberapa buku catatan ke dalamnya kemudian mengambil kunci mobil. Aku memutuskan untuk segera pulang meski jam kerja belum habis. Baru saja aku akan berjalan menuju ke pintu belakang, ku dengar seorang wanita berteriak-teriak minta tolong di luar kafe.
            Aku menoleh.
            Seorang wanita menggedor-gedor pintu kafeku. Aku melongo. Hebat juga wanita ini. Dia menjerit meminta tolong di luar sana. Aku mengerutkan kening bingung, tak tahu apa yang harus aku lakukan. Kalau aku membuka pintu dan mengizinkannya masuk, seluruh debu yang beterbangan tertiup angin di luar sana pasti ikut masuk. Tetapi jika aku membiarkan wanita itu berada di luar sana, dia bisa saja mati karena kehabisan nafas.
            Untung saja aku punya jiwa kemanusiaan. Kuputuskan untuk melangkahkan kaki menuju ke pintu, ku hasilkan sedikit celah. Benar saja, debu langsung menerpa wajahku dan membuat mataku terasa pedih.
            “Mau apa?” tanyaku sewot.
            Wanita itu terbatuk-batuk dengan tubuh tiba-tiba terjatuh lemas di kakiku. “Biarkan aku masuk,” jawabnya.
            Aku mengerutkan kening. “Untuk apa? Kafeku sudah tutup.”
            “Kumohon, izinkan aku masuk,” wanita itu berucap dengan nada memelas.
            Aku menatapnya iba. Kupersilakan dia masuk setelah berpikir sejenak. Wanita itu berusaha untuk bangkit. Tubuhnya terhuyung-huyung, refleks aku membantunya berdiri. Wanita itu terbatuk-batuk dan berpeluk pada dadaku. Seluruh rambutnya putih. Debu menyelimuti seluruh bagian mantel hitam yang dia pakai. Kulit telapak tangannya terasa kering dan kotor. Matanya tak dapat melihat dengan jelas.
            Aku mengambil sebuah kursi, ku bantu dia untuk duduk.
            “Mau apa?” tanyaku lagi.
            Wanita itu menatapku dengan mata separuh terpejam. “Boleh minta teh?”
            Aku mengeluh. Seharusnya hari ini aku libur, batinku kesal. “Tentu saja,” jawabku kemudian melangkah menuju ke balik bar.
            “Aku minta jangan terlalu banyak gula. Gula mengandung kalori yang sangat tinggi,” pesannya membuatku menatapnya sejenak, kemudian mengedikkan bahu dan kembali melanjutkan meracik teh.
            “Hujan debu benar-benar parah. Kau tak akan bisa melihat apa-apa di luar sana.”
            Aku mengangkat alis. Ku antarkan teh ke hadapan wanita itu. Dia sedang berusaha membersihkan debu di mantelnya. “Apa yang kau lakukan di luar sana? Bunuh diri?”
            “Tidak.” Wanita itu menatapku. “Aku sedang menikmati alam.”
            Aku mengerutkan kening bingung. Wanita di hadapanku ini sepertinya gila. Baru saja dia memperkenalkan diri, namanya Evelyn. “Apa maksudmu dengan ‘menikmati alam’?”
            Wanita itu mengangkat bahu, ia meneguk tehnya sejenak. “Angin menghembuskan pesan dan hujan debu menjadi isinya. Aku ingin mengetahui surat apa yang dikirim oleh alam melalui hujan debu dan angin. Mungkin alam ingin menyampaikan sesuatu melalu fenomenanya kali ini,” jawabnya.
            Keningku makin berkerut. Aku benar-benar tidak mengerti. Ku tatap matanya, mencoba menerka-nerka apakah dia waras atau tidak. Dan dia tidak bergeming, malahan meneguk teh hangatnya lagi.
            Evelyn tiba-tiba tertawa dan mengibaskan tangannya di depan mataku. “Kau tidak akan mengerti,” sambungnya.
            “Aku memang tidak mengerti.”
            Evelyn memutar-mutar jemarinya di permukaan gelas. “Yah, memang tidak mudah mengerti ucapan alam. Ngomong-ngomong, teh buatanmu enak,” pujinya.
            Aku berterima kasih. Sedetik kemudian, aku mengingat toples berisi kue yang ada di meja bar. Segera aku beranjak dari tempat duduk, dan ku ambil kue itu kemudian menawarkannya kepada Evelyn.
            “Ambilah,” kataku.
            Evelyn tersenyum tidak nyaman.
            “Tak perlu sungkan. Ambilah,” kataku lagi membuat gadis itu mengambil beberapa kue. “Ambil lebih banyak.” Dan dia mengambil beberapa lagi.
            Aku kembali duduk di hadapan wanita itu. Ku tatap rona wajahnya yang agak kotor karena debu. Dagunya runcing, pipinya tirus, matanya hitam dan alisnya tebal. Barangkali dia cantik, aku tidak tahu. Namun dari ciri-ciri fisik yang aku lihat, gadis itu adalah gadis pemberani.
            “Lantas, apa yang akan kau lakukan setelah ini? Kembali mencoba untuk bunuh diri lagi?” tanyaku.
            Evelyn tertawa renyah. “Aku sudah bilang aku tidak bunuh diri,” jawabnya. “Mungkin aku akan menunggu hujan debu reda. Barusan ku dengar debu sedang mengarah ke samudra walau aku tidak tahu kapan.”
            “Tinggalah,” tawarku membuatnya menatapku.
            “Apa?”
            “Tinggalah. Untuk beberapa saat, sampai hujan reda.”
            “Dan kau?” tanyanya.
            “Apa?”
            “Bukankah kau akan pulang?” tanya Evelyn.
            Aku mengerutkan kening. “Dari mana kau tahu?”
            Wanita itu melirik kunci mobil di jemariku. “Sejak tadi kau memutar kunci mobil di jemarimu. Aku dengar nafasmu mendesah kesal. Dan tadi, di luar sana kulihat kau berjalan menuju ke pintu belakang.”
            Aku tercenung. Evelyn benar. Dia seperti membacaku. “Kau menafsir gerak-gerikku?”
            Evelyn tersenyum. “Tidak,” jawabnya. “Alam yang memberi tahuku.”
            “Apa? Apa maksudmu?”
            Evelyn kembali tertawa renyah. “Alam membuatmu terburu-buru. Kau tahu, desahan alam melalui hujan debu membuatku berlari ke sini—tidak ada toko dan kafe yang membuatku mau mampir ke tempat mereka—selain kafemu. Alam menyuruhku untuk memberi tahumu bahwa kau harus berhati-hati dan lebih baik tinggal di sini, sampai dia berhenti untuk menunjukkan betapa dia sangat berkuasa.”
             Aku tertawa. “Barangkali itu hanya feeling-mu. Kau ke sini karena tempat lain sudah tidak ada orangnya dan kau melihat aku.”
            “Tidak. Aku tidak setuju dengan ucapanmu. Aku merasa bahwa aku harus menjadi pengirim kabar untukmu.”
            Aku tertawa meremehkan. “Kau tahu benar tentang alam, ya? Apakah kau dewi? Atau malaikat pencabut nyawa?”
            “Jika kau melihatku sebagai pencabut nyawa, aku bisa saja tidak datang ke sini dan memberi tahumu apa yang akan terjadi. Aku lebih baik melihatmu dari jauh dan membiarkanmu mati karena kekuasaanku atau kekuatan alam.”
            Aku benar-benar tidak mengerti dengan wanita di hadapanku. Dia memang gila, sepertinya. Tidak, tidak, wanita di hadapanku memang gila. Tidak waras. Aneh. Dan terlalu berimajinasi.
            “Kau ini siapa sebenarnya?”
            Evelyn tersenyum. “Pembawa kabar untukmu. Setidaknya berusaha untuk menyampaikan sesuatu padamu. Aku manusia biasa, hanya saja aku adalah saudara alam.”
            “Saudara alam, huh?”
            Evelyn tampak mengangguk.
            “Apa yang akan terjadi setelah ini?”
            “Aku tidak tahu. Alam tidak bisa di tebak. Dia hanya berusaha untuk berkomunikasi, namun kadang tidak logis. Kepastian alam adalah ke-tidak-logisan manusia. Namun aku siap menerima apa yang akan terjadi setelah ini.”
            “Kau bilang kau saudara alam,” tukasku.
            Evelyn mengedikkan bahu. “Tapi alam juga punya rahasia, kan? Tidak semua dia beritahukan kepadaku.”
            “Kau aneh.”
            “Dan kau keras kepala.”
            Aku tercenung. Wanita ini… menantang. “Mau ke mana kau?” tanyaku.
            “Aku ingin melamar kerja tadi pagi. Aku pikir hujan debu tidak akan separah ini. Aku nekat dan yah… terjebak bersamamu.”
            Aku tersenyum menggoda. “Kau? Melamar kerja? Bukankah sebaiknya dan seharusnya wanita lebih baik menunggu dilamar? Kau tahu maksudku,” ucapku.
            Kulihat rona Evelyn memerah, setelah mendengar ucapanku. Dia berusaha menyembunyikan wajahnya yang tersipu. Duduknya jadi tidak nyaman. Aku tertawa.
            “Aku hanya bercanda.”
            Evelyn tersenyum. “Aku tahu. Kau hanya bercanda,” katanya.
            “Kau sudah punya pacar?” tanyaku lagi, Evelyn langsung menatapku dengan kening berkerut.
            “Ada apa dengan pertanyaanmu?”
            Aku mengedikkan bahu. “Hanya ingin tahu,” jawabku.
            Evelyn menggeleng. “Belum. Kau?”
            “Bebas,” jawabku.
            Evelyn mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia kembali menatap ke luar jendela. Angin berhembus, membuat seluruh benda yang ada di luar sana menjadi benda tak kasat mata. Kami bagaikan terdampar di sebuah tempat antah-berantah yang mengerikan. Hanya berdua dan tak ada yang lain.
            “Cuaca tambah parah!” kata Evelyn bingung.
            “Aku pikir Gunung Kelud marah.”
            “Tidak!” tukas gadis itu. “Dia tidak marah. Dia hanya sedang mencari perhatian. Dia hanya ingin orang-orang mengetahui bahwa dia bijaksana. Dia kuat dan pasti bisa meluluh-lantakkan seluruh Pulau Jawa. Dia hanya ingin, manusia di alam ini melihatnya dan bertobat,” jelasnya dengan nada menggebu-gebu dan bisikan pada tiga kata terakhir.
            Aku mengerutkan kening. “Apakah kau berpikir jika waktu kita di dunia sudah habis dan kita harus segera berdoa agar masuk surga?” tanyaku.
            Evelyn menggeleng. “Dia masih mengizinkan kita hidup, hanya saja dengan penuh kasih sayang kepada orang lain. Dia tidak ingin kita serakah setelah dia menunjukkan kekuatannya yang super duper hebat.”
            “Dia? Tuhan-kah?”
            “Bukan. Dia sebagai Gunung Kelud. Tuhan hanya sebatas pembuat pesan, sementara Gunung Kelud adalah sarananya. Seperti pemimpin negeri, yang mengamati perkembangan sikap anarki di negeri kita dan meminta para pasukannya untuk segera turun tangan dan membenahi segala yang ada untuk mencapai kebaikan.”
            Aku terpukau dengan ucapannya. Ku tatap Evelyn yang sedang mengikat rambutnya. Dia mempesona.
            “Kalau rupanya kau salah, apa yang akan kau lakukan?” tanyaku menantangnya.
            Evelyn balas menatapku. “Barangkali membiarkan awan membawaku menuju ke alam keabadian dan berharap mereka menempatkan aku pada tempat paling bahagia di surga,” jawabnya.
            Aku melongo. Bingung apa lagi yang harus aku katakan untuk menyanggah ucapannya. Gadis itu mengikat, menjebak dan menjerat aku melalui ucapannya yang indah bagai balada dan puisi dewi-dewi.
            “Kalau kau?” Evelyn gantian menantangku.
            Aku tercekat. Ku tatap matanya dalam-dalam. “Menciummu sebelum mati, mungkin?” ucapku lembut.
            Evelyn terkesima. “Kau bahkan baru mengenalku sehari ini. Kau kah pria yang mudah mengucapkan godaan kepada wanita yang baru kau kenal?”
            “Cinta memang menjerat, bukan? Dia adalah akar. Mungkin alam berbisik kepadaku untuk mulai mencintaimu detik ini juga,” jawabku.
            Evelyn terpana. Wajahnya tak tanggung-tanggung memerah dan aku bisa merasakan darahnya yang mengalir cepat menuju ke otak. Dia tak lagi menjawab. Dia membiarkan aku mendekatkan wajah ke wajahnya dan bibir ke bibirnya. Tak lama kemudian, aku mengecup bibirnya yang lembut. Ku rasakan jantungnya berdegup.

            Seiring dengan desauan angin dan debu yang bertiup garang di luar sana, bumi bergolak. Seluruhnya bergerak dan berderak. Kelintingan garpu dan sendok terdengar. Berbagai barang berjatuhan. Aku memeluk Evelyn. Dan yakin, sebentar lagi alam menghantarkan kami kepada harapan kami masing-masing.

Senin, 30 Desember 2013

Laut dan Elegi

Laut.
Entah mengapa aku mencintai bagian terbesar alam ini. Bukan hanya karena awal kehidupanku berasal dari tempat ini, bukan juga karena penghasilan serta rezeki ayahku bergantung pada milyaran liter penampung air ini, bukan juga karena aku pernah mengakhiri kisah hidupku dari tempat ini. Tak ada penjelasan konkrit yang mampu menjelaskan alasan mengapa aku mencintai pembatas jutaan pulau, ribuan negara, dan satuan benua ini.
Yang jelas, aku mencintai segalanya tentang laut. Berawal dari ombak yang berlomba mencumbu darat, kemudian angin kencang yang seakan berbisik bahkan menjerit, “Lindungi aku! Lindungi aku!” hingga batu karang yang berdiri kokoh menghalangi air memperkosa kering. Aku mencintai segalanya tentang alam ini.
Laut pun pernah membuat aku jatuh hati. Ia membuat aku mencintai seorang nelayan yang mampu merebut rongga hati ini. Ia mampu membuat aku tak pernah menyesal pernah merelakan hatiku untuk dia miliki hingga aku akhirnya mati. Ia membuatku merelakan segalanya.
Aku duduk di salah satu batu karang. Ombak menabraknya, mencoba menggusur dan mengikis raksasa itu dengan kekuatannya yang semakin besar, bak prajurit yang melawan buto. Aku tak takut jatuh. Toh kalau aku jatuh dan ombak menerkamku, aku tak akan mati lagi karena kini aku abadi.
Teringat aku pada kejadian sepuluh tahun yang lalu. Di laut ini aku pernah bermain-main bersama temanku, di laut ini aku pernah belajar mendorong perahu dan merenda jaring untuk ayahku menangkap ikan, dan di laut ini aku pernah jatuh cinta pada seorang nelayan, kawan ayahku bernama Mas Prabu, pria menawan yang disukai semua gadis di pantai, pria mempesona yang dipuja-puja oleh semua orang tua, pria yang dianggap sebagai menantu idaman, dan pria yang hingga sekarang tak diketahui bahwa dia berdarah keji.
Aku tersenyum mengingat kisahku walau sakit hati datang menderu, berputar dalam nostalgiku ketika aku dan Mas Prabu merenda cinta berdua di bibir pantai, berlari kesana-kemari sambil tertawa lepas, naik ke perahu dan berlayar pada sore hari, berkisah tentang cinta kami pada laut, dan masih banyak lagi. Yang jelas, kenangan itu membuat aku sangat mencintai Mas Prabu hingga saat ini, hingga aku menunggu dia menyusulku di alam abadi.
Matahari mulai melaju turun dari singgasana-nya. Perlahan-lahan hingga gelap datang. Aku menelan ludah. Aku teringat pengalaman lima tahun yang lalu, ketika pertengkaran antara aku dan Mas Prabu terjadi.
Aku menunjuk wajahnya dengan marah ketika mendengar permohonannya. Dia bilang, kami sudah lama menjadi sepasang kekasih, namun tidak lengkap rasanya kalau tidak bersetubuh. Aku tersinggung. Harga diriku benar-benar dihancurkan.
            Mas Prabu terus memaksaku. Kini mulai mengancamku. Aku tak gentar dan tetap bersikukuh pada pendirianku untuk tetap menjaga kesucianku. Aku mencintai dia, tapi tidak untuk bersetubuh. Aku tunjuk dadaku dengan tegas. Aku tatap dia dalam-dalam. Air mata mengalir deras ketika merasa bahwa Mas Prabu sama saja dengan pria yang ada di luar sana.
            “Aku ini wanita! Aku ini gadis yang punya harga diri! Biarpun miskin dan hanya seorang anak nelayan, aku tetap merasa bahwa aku ini gadis yang mulia! Tak ada yang pantas mengambil kesucianku kecuali suamiku kelak!”
            Mas Prabu tertawa keras. “Hanya aku yang bakal jadi calon suamimu! Sebentar lagi kita menikah, tak ada salahnya kita mencoba!”
            “Aku tak mau mencoba-coba. Cinta itu butuh kepastian. Kalau kamu cinta, tunggulah hingga kita menikah!”
            Lagi-lagi Mas Prabu tertawa. “Kau tak tahu tentang cinta! Tak ada yang tidak seperti kita! Semua pasangan pun pernah mencobanya meski mereka belum menikah, dan itulah cinta yang sebenarnya!”
            “Cinta atau nafsu?” tanyaku dengan nada menantang. “Aku tidak mau menjadi pasangan yang kebanyakan, aku mau kita tetap suci.”
            “Jangan sok suci! Kaupun dilahirkan dari seorang ibu yang dahulu pernah merenda dosa!”
            “Dosa ibuku biarlah jadi dosa ibuku, aku tak mau!”
            Mas Prabu mencengkeram kedua pipiku dengan erat, tak peduli padaku yang langsung meringis kesakitan. Ia menatapku tajam, tapi aku tak takut.
            “Kalau kau tetap membantahku, ku bunuh kau!”
            Aku menatapnya dengan mata nyalang. “Bunuh saja aku! Daripada aku melayanimu dan menjadi seseorang yang terus menanggung malu selama hidupku.”
            Mas Prabu menatap kedua manik mataku. Aku tidak gentar dan tidak takut. Menyadari bahwa aku serius dengan ucapan yang keluar dari bibirku, Mas Prabu melepaskan cengkeramannya kemudian pergi dengan nafas terengah-engah karena menahan emosi.
            Aku bernafas lega.
***
Malam hari tiba. Keluargaku tidur pulas begitu juga denganku. Aku tak bercerita apa-apa tentang perkelahianku dengan Mas Prabu sore tadi kepada keluargaku. Semua menganggap aku baik-baik saja.
            Hingga akhirnya aku terbangun pada tengah malam. Kulihat sebuah bayangan hitam berkelebat di dinding rumahku yang terbuat dari anyaman bambu. Aku merinding. Ku awasi bayangan itu dan kulihat bayangan itu semakin lama semakin mendekat.
            Aku makin ketakutan. Bayangan itu menampakkan diri di pintu kamarku. Aku ingin berteriak, tapi sosok itu langsung berlari ke arahku dan membekap bibirku. Aku berusaha menjerit, tapi cengkeraman sosok itu di bibirku semakin erat. Aku tak sanggup berbuat apa-apa.
            Sosok yang seluruh wajahnya tertutup oleh topeng dan tubuhnya tertutup oleh sarung itu menggendongku, membawaku keluar kamar dan berlari menuju ke suatu tempat. Aku menjerit tapi percuma; tak akan ada yang mendengar.
            Dan ternyata, sosok itu membawaku ke pantai. Dia menurunkan aku di tengah kegelapan. Rembulan memancarkan sinarnya walau mendung membuatnya duka. Tak ada bintang yang bersinar.
            Sosok itu membuka topengnya. Aku terkejut melihat siapa dia; Mas Prabu yang tertawa dengan sisi sinis.
            “Kamu masih mau melawan?”
            Aku tak tahu harus bicara apa. Aku masih terkejut.
            “Di tempat ini, kamu tak akan mampu melawanku! Di tempat ini, serahkan kesucianmu!”
            Aku terkesima dengan ucapan Mas Prabu. Sosok yang selama ini lembut dan penuh cinta rupanya bisa berubah tiga ratus enam puluh derajat, menjadi keji dan tak punya rasa kasih.
            Aku kembali menangis. “Aku tak akan pernah memberikannya kepadamu! Sejauh apapun kamu memaksaku, aku tak akan pernah memberikannya!” balasku dengan tubuh bergetar.
            “Kamu menghadapi aku sendirian, masih berani menantangku?”
            “Aku tidak menantangmu! Aku hanya mempertahankan diriku! Aku tak mau dan tak akan pernah mau!”
            Mas Prabu menatapku. Dia benar-benar marah sekarang. Dikeluarkannya clurit dari dalam saku yang dia bawa. Aku terkesima.
            “Ku bunuh kau!” katanya kemudian berlari menghampiri aku.
            Aku langsung menyadari apa yang akan dilakukan Mas Prabu padaku. Segera aku berlari menjauh dengan nafas terengah-engah. Mas Prabu terus mengejarku dengan tangan yang mengacungkan cluritnya.
            Aku berlari ketakutan namun Mas Prabu berlari lebih cepat.
            Aku tak memperhatikan sekitar, yang penting aku selamat. Tak aku sadari bahwa aku sudah mencapai tepi laut yang memendam jutaan karang. Aku terus berlari, tak peduli kakiku mulai berdarah dan terasa perih karena menginjak jutaan karang.
            Mas Prabu tetap mengejarku. Ia berlari, berlari, berlari sembari berteriak “KU BUNUH KAU!”
            Tapi aku tidak gentar. Aku tetap berlari. Namun pada akhirnya, kakiku terantuk karang yang cukup besar kemudian terjatuh. Aku menjerit kesakitan melihat darahku yang mengalir dan luka terbuka yang terendam dalam air laut. Aku menangis dan kulihat Mas Prabu mendekat. Aku tak bisa berbuat apa-apa, aku tak bisa berlari lagi; aku pasrah.
            Mas Prabu menghampiriku. Ia tertawa dengan penuh kemenangan. Cluritnya masih dalam genggaman. “Masih mau melawan?” tantangnya.
            “Aku tidak akan pernah merelakan kesucianku padamu!”
            Mas Prabu menatap keseriusanku. Menyadari bahwa aku tetap kukuh pada pendirianku, ia mengacungkan cluritnya yang tajam. Dalam kejadian yang amat sangat cepat, ia menghunuskan cluritnya ke perutku. Terus dan terus, tak peduli padaku yang menjerit dan menangis. Ia menancapkan cluritnya kepadaku, ke seluruh tubuhku.
            Dan ketika aku lumpuh dan tak sanggup menjerit lagi, ia menancapkan cluritnya dalam-dalam di dadaku, membuat nafasku tak beraturan dan pandanganku kabur. Mas Prabu menatapku dengan penuh kemenangan kemudian pergi meninggalkanku yang masih telentang di tepi laut.
            Takut dia ketahuan membunuhku, Mas Prabu mendorong tubuhku yang melemas ke tengah, membiarkan aku yang pasrah pada laut akhirnya hanyut dalam ombak yang menggulung.
            Dan ketika aku sudah jauh dan terdengar bahwa ada nelayan datang, Mas Prabu meninggalkan aku.
***
Aku masih duduk di atas batu karang. Air mata kembali mengalir. Malam masih mengendap di tempat peraduanku. Aku lihat obor mulai menyala di kejauhan dan bapak-bapak nelayan mulai menyiapkan jaring dan alat mereka untuk menangkap ikan. Beberapa dari mereka mendorong perahu. Salah satu di antaranya adalah ayahku yang masih berwajah sendu karena anak gadisnya sudah tiada dan tidak ditemukan jenazahnya. Yang satu lagi adalah Mas Prabu, yang mendorong perahu sambil tertawa keras-keras bersama temannya.
            Aku menghela nafas panjang. Aku akan menunggunya, hingga akhirnya kami masuk ke alam nirwana bersama-sama.
***
Beberapa bulan kemudian.
            Mas Prabu diam-diam mendorong perahunya ke tepi laut. Dia ingin mencari ikan, mendahului teman-temannya. Aku yang melihat orang itu mulai berlayar dari atas karang mengikutinya.
            Mas Prabu menebarkan jaring ke laut. Dia tak sadar aku ada di sekitarnya. Sesekali ia bersenandung kecil untuk melepaskan sepi.
            “Selamat malam, Prabu,” sapaku.
            Mas Prabu yang membelakangiku langsung merinding. Perlahan-lahan dia memutar tubuh. Dan ketika melihat aku tersenyum, Mas Prabu menatapku dengan tatapan tidak percaya.
            “Lastri? Kamu… kamu Lastri!”
            Aku mengangguk. “Iya, Mas. Dingin, ya di sini?”
            Mas Prabu terkesima. “Kamu sudah mati!” katanya.
            “Memang. Tapi tetap merasa dingin,” kataku sembari mengulurkan tangan. “Mari pulang bersamaku!”
            “Tidak! Tidak! Kamu sudah mati!” katanya sembari menghindari aku yang terus mendekat.
            “Aku hanya  mengajakmu pulang,” balasku.
            “Tidak! Kamu sudah mati!” katanya.
            Tanpa menyadari dirinya masih di laut, Mas Prabu terpeleset dari dalam perahu. Dia berusaha menyelamatkan diri, tapi karena takut ada aku di atas perahu, Mas Prabu memutuskan untuk mencoba bertahan  di dalam laut hingga aku pergi.
            Namun aku memutuskan tidak pergi.

            Dan akhirnya, Mas Prabu kehabisan nafas dan mati.

Sabtu, 28 Desember 2013

Selamat Natal, P.

Malam ini tidak jauh berbeda dengan malam yang biasanya. Sepi. Aku memandangi langit malam yang mendung tertutup awan. Lagu dari Nadia Fatira berjudul Bintang Yang Meredup layak melukiskan perasaanku hari ini. Ya, tak hanya awan yang merasa bahwa dia kehilangan bintangnya, tetapi juga aku yang merasa kehilangan kamu; bintangku.
            Pikiranku pun bernostalgi pada masa lalu. Tentang aku dan kamu; tentang kita berdua yang pernah sangat amat dekat dan menciptakan romansa tanpa sedikitpun keraguan. Tentang kita berdua yang pada awalnya sama-sama saling percaya seperti layaknya kekasih, walau sebenarnya tak ada hubungan apa-apa selain persahabatan. Tentang kita yang selalu saling menguatkan ketika tangis dan jatuh menghampiri. Tentang kita, tentang kita, dan tentang kita; berdua, yang sama-sama pernah melewati hari-hari bersama dengan tawa dan canda.
            Semua nostalgi tentang itu membuat aku tanpa sadar melengkungkan bibir dan tersenyum. Kenangan berdua denganmu memang sangat menyenangkan, walau berakhir menyakitkan.
            Ya, menyakitkan. Sangat amat menyakitkan.
            Senyumku perlahan-lahan memudar ketika teringat penantian dan rinduku yang tak pernah menemui ujung. Setahun sudah aku menunggumu untuk mengungkapkan perasaan yang sama padaku; namun segalanya terasa berbeda.
            Sejauh kita pernah bersama, kaupun tak pernah sedikitpun ada rasa yang sama denganku. Selama kita pernah saling terdiam dan bungkam dalam sebuah tatapan, kau tak pernah memandang sorot mata ini ke bagian yang paling dalam, yang akan menghantarkan kamu pada pengertian bahwa aku serius; aku sayang padamu.
            Segala kenangan tentangmu tak hanya membekas dalam kehidupanku. Segala kenangan bersamamu sudah merasuk dan menjadi bagian dalam jiwaku. Aku tidak menggombal, aku bicara tentang realita bahwa aku memang cinta.
            Sejenak, aku menertawakan diriku sendiri. Puih! Cinta? Tahu apa aku soal cinta? Jelas-jelas cintaku tidak berbalas, buat apa aku masih mengatakan dan merasakannya; terutama masih merasakannya padamu?
            Aku menelan ludah. Siapa yang salah? Apakah aku yang jatuh terlalu dalam? Apakah aku yang terlalu narsis? Apakah aku yang bodoh? Atau mungkin, kau yang brengsek; membiarkan aku terus-menerus terdiam dalam kesakitan dan terjatuh dalam lubang penantian hingga terperosok amat dalam?
            Aku tidak tahu. Yang jelas, kau membuatku berada dalam berbagai rasa. Antara menghidupkan dan menyakitkan, antara menyembuhkan dan melukai, antara menghibur dan menyakiti. Kau memang pejantan tangguh, yang mampu menjeratku layaknya tumbuhan Venus; menjadikan aku mangsa dengan aroma asmaramu, kemudian melahapku habis-habis dan ketika aku benar-benar mencoba dan berusaha untuk masuk menjadi bagian-mu, kau menelanku, membuangku, dan tak lagi menolehkan wajah kepadaku.
            Aku kembali menelan ludah. Dulu di malam penuh kesepian ini, kau selalu hadir menemaniku melalui pesan singkat; menghiburku dan menyatakan bahwa seolah-olah malam tak akan pernah sepi jika aku bersamamu; menyatakan dengan bahasa yang bermakna bahwa aku tercipta untukmu. Kau memang pencuri yang licik dan picik!
            Aku benci padamu! Tidak!
            Aku mencintaimu. Sungguh mencintaimu dan yang jelas… masih merindukanmu. Sejahat apapun kamu melukai hatiku, selicik apapun kamu memainkan perasaanku, sekuat apapun kamu mendepakku pergi dari kehidupanmu, aku tak bisa melupakanmu dan tak akan pernah bisa.
            Kau kekuatanku, penyemangat belajar sekaligus penyebab rasa malasku, pencipta rindu yang diiringi tangis, perenda senyum dan pencetak tawa yang menghias rona wajahku. Kau segalanya untukku.
            Lagu dari Nadia Fatira berganti oleh lagu dari Maliq berjudul Kau yang Ada di Hatiku.
            Aku terdiam. Kutinggalkan nostalgi yang melayang liar di dalam otakku. Kuterka lirik yang dinyanyikan dalam alunan merdu suara Maliq. Dan ketika menyadari bahwa lagu itu benar-benar melukiskan perasaanku, tangis mengalir deras.
            Aku benar-benar merindukanmu. Aku benar-benar hancur. Tangisku sangat amat deras. Mengertikah kau? Mau-kah kau pahami aku sedikitpun? Tentu tidak. Kau sibuk dengan urusanmu sendiri, hingga akhirnya mengorbankan perasaanku yang berkobar-kobar bak api abadi.
            Yang jelas, aku menulis ini untukmu, sebagai tanda bahwa aku memang merindukanmu. Semoga kau membacanya.
            Aku hanya berharap kau tahu bahwa hingga saat ini, tak ada yang bisa menggerusmu dari dalam batin dan hatiku. Kau masih menjadi bagian-ku. Kau masih menjadi alasan dari air mataku dan kau masih menjadi yang nomor satu di dalam pikiranku.
            Dan sebagai kalimat terakhir tulisan ini, kuucapkan Selamat Natal. Semoga damai besertamu selalu. Maaf tidak mengirimkannya langsung, kini aku berbeda dari yang dulu. Aku sudah berevolusi menjadi seorang pengecut. Sebagai ungkapan yang terakhir, aku sayang padamu. Tidak salah kan bila hingga saat ini hanyalah dan masih tetap kau yang ada di hatiku?

                              

Selasa, 29 Oktober 2013

Dunia Maya

Detik demi detik berlalu, bahkan menitpun juga begitu. Aku mengetuk-ngetukkan jemariku dengan bosan sementara mataku terus memandang ke layar komputer. Akun Facebook-ku dalam keadaan online, namun hatiku tidak senang. Lingkaran kecil bewarna hijau di dekat namamu tak kunjung muncul, tanda bahwa Facebook-mu dalam keadaan off dan keadaan itu menyadarkanku bahwa kau tidak ada di sini bersamaku.
            Mataku beralih pada hujan yang menghasilkan bunyi percik air di kaca jendelaku. Aku benar-benar jenuh menunggumu.. Kuhembuskan nafas kesal, berharap dengan begitu, kau datang kemudian menyapaku melalui fasilitas obrolan di Facebook, sama seperti malam-malam yang lalu.
            Kita memang belum pernah bertemu. Kita memang belum pernah sama-sama mengenal senyum yang nyata milik masing-masing. Tetapi entah melalui angin macam apa rasa ini menelusup, rindu tiba-tiba merasuk dalam hatiku seiring dengan percakapan-percakapan sederhana yang berlanjut sewaktu-waktu.
            Namun hari ini kau tidak ada; tak ada pesan dan tak ada kabar. Walau begitu, aku tetap tak mau mematikan Facebook-ku. Aku hanya takut apabila aku melewatkan kehadiranmu .
            Hingga kemudian aku menoleh dan langsung terkejut ketika melihat lingkaran kecil itu muncul di samping namamu. Sama seperti biasa, jantungku langsung berdegup dan otakku mulai mencari kata-kata yang tepat untuk memulai pembicaraan.

            Hai.

            Ternyata kau duluan yang memulai. Aku tersenyum lega.
           
Hai juga.

            Mulai kukirim sebuah balasan.

            Gimana kegiatan hari ini?

            Luar biasa menyenangkan J
           
            Aku tersenyum senang diiringi darahku yang berdesir cepat. Aku tahu apa yang akan terjadi setelah ini; sebuah percakapan sederhana tetapi menarik dan baru berakhir ketika malam sudah tak berjarak lagi dengan hadirnya pagi.
            Dan dugaanku benar rupanya.
            Kau dan aku saling bertukar cerita. Aku mencoba memikatmu dengan bahasaku, sementara kau sudah berhasil memikatku dengan pesona kata-katamu. Mungkin di dunia nyata, kau memang pria pemikat wanita dengan rona yang luar biasa. Sayangnya, aku tak mampu melihat realita fisikmu. Aku hanya mampu menerkamu dalam angan.
            Jam demi jam yang menyenangkan terus berlanjut. Tanpa bosan kau ceritakan aku tentang kehidupanmu yang rupanya seorang pelukis. Aku terpana; pelukis yang pandai menulis. Hebat.
            Tak pernah ku ragu pada tiap ucapmu. Tak pernah ku anggap bohong tiap ceritamu. Aku yakin padamu dan tak pernah menganggap kau adalah pria jahat dan bejat yang menjerat wanita dengan daya pikat bahasanya.
            Aku percaya padamu. Aku tulus mau mengenal rinci kehidupanmu.
            Tetapi malam makin larut dan ngantuk mulai menyerbu. Aku harus mengakhiri percakapan ini.
           
            Kalau begitu, sudah dulu ya, Galih? Aku sudah ngantuk, tulisku.
           
            Hahaha, sudah ngantuk rupanya gadis ini. Tetapi, Maya, sebelum kamu memejamkan mata dan terlelap bersama mimpi, boleh aku minta satu permohonan?
           
            Aku mengerutkan kening membaca pesan darimu. Permohonan?
           
            Apa?

            Kau membalas cukup lama. Aku tak tahu pesan apa yang akan kau tulis. Namun, jantungku berdegup lebih mantap dan darahku berdesir makin tak menentu. Hingga akhirnya, inilah balasmu:

            Sebelum kau tertidur, bukalah pintu rumahmu. Lihatlah wujud nyata seseorang yang selama ini terasa ambigu.

            Jantungku berdegup makin tak pasti. Apa artinya semua ini?
            Buru-buru aku berlari membuka pintu. Mataku membesar melihat sosokmu dengan sebuah senyum yang rupanya lebih indah dari angan yang pernah kubayangkan. Benarkah itu kamu yang selama ini menyapaku melalui akun?
            Kau mengeluarkan ‘sesuatu’ dari balik punggungmu. ‘Sesuatu’ yang rupanya berupa buket bunga mawar warna putih. Aku terpana.

            “Hai, selamat malam, Maya. Rupanya cinta dapat tumbuh walau tak bertemu, ya?” ujarmu membuatku tersenyum lebar.

Senin, 14 Oktober 2013

Sebatas Pandangan

Aku memandanginya lagi. Tak tahu mengapa, tatapan mataku tak pernah bisa berpaling darinya akhir-akhir ini. Suasana sekolah yang ramainya hampir mirip dengan pasar pun tetap tak mampu membuatku mengalihkan tatap dari seorang gadis yang sedang tertawa terbahak-bahak sambil bercerita bersama teman-teman dekatnya dengan sorot mata ceria, seolah-olah tak menyadari aku yang duduk di sudut sekolah dengan cahaya mata penuh kekosongan.
            Sorot mataku berubah jadi nanar ketika gadis itu akhirnya memutuskan untuk menyudahi keberadaannya di sekolah ini. Ia memilih untuk melangkah lewat di depanku dengan mata yang—entahlah—berusaha untuk tidak menaruh pandangan kepadaku atau memang tidak peduli dengan adanya aku di sekitarnya. Yang jelas, laluan langkahnya yang angkuh dengan bibir bisu yang tak lagi menyapaku dengan nada cerianya seperti dulu menyadarkanku bahwa aku rindu kepadanya.
            Ya. Rindu, amat sangat rindu.
            Dia bukan pacarku dan dia bukan mantan kekasihku. Hal pertama-lah yang membuatku menyesal. Seharusnya, sejak dulu aku mengajaknya jadian. Ya, seharusnya sejak dulu aku mencoba membalas rasanya.
            Gadis itu bukanlah dambaanku, tetapi dulu perhatiannya selalu diberikan kepadaku. Tawanya selalu bisa memamcingku untuk ikut tertawa, sementara berbagai kisah yang mewarnai dunianya selalu mampu membuatku merelakan kedua telinga untuk mendengarkannya.
            Dia juga pernah mengungkapkan rasa sayangnya kepadaku. Tak hanya sekali, tapi hampir jutaan kali. Dia selalu mendoakan aku tiap malam dan menyampaikan rasa galaunya melalui jejaring sosial serta rasa rindunya melalui SMS yang selalu dikirimkan kepadaku setiap hari. Tetapi aku selalu menolaknya, mengabaikannya, dan menganggap bahwa rasa sayang dan rindunya hanya sebagai angin lalu.
            Dan itu terjadi dulu. Dulu, dulu sekali.
            Sementara kini? Kini semua telah berbeda. Semua rasa rindu dan sayangnya bagaikan berbalik kepadaku. Mungkin aku kena karma, tapi aku tak percaya pada karma. Sekarang, aku selalu merindukannya dan mungkin… mulai menyayangi dia.
***
Cahaya langit senja yang bewarna oranye menembus kaca kelasku. Aku masih berada di dalam kelas, sendirian dan berkutat dengan tugasku yang belum selesai.
            “Cela udah pulang, ya?”
            Aku menoleh. Gadis itu berada di sana. Gadis yang selama ini aku nanti sapaannya, sedang berada di depan pintu dengan tatapan mencari-cari. Mataku membesar, kaget dengan kehadirannya sama seperti matanya yang menyorotkan keterpanaan ketika mengetahui bahwa aku-lah yang berada di dalam kelas.
            Tatapan gadis itu meluruh. “Cela udah pulang, ya?” ulangnya sekali lagi.
            Aku perlahan-lahan mengangguk. “Udah,” jawabku seadanya membuat gadis itu balas mengangguk. Kemudian, “Oh,” balasnya singkat.
            Tetapi dia tak kunjung pergi. Dan aku memang tak ingin dia pergi.
            “Kalau begitu, makasih, ya? Aku pulang duluan.”
            Bibirku membisu, aku mengumpat di dalam hati. Hanya anggukan yang jadi jawaban atas ucapannya. Dan setelah anggukan singkat itu, dia mulai melangkah pergi.
            Tetapi tiba-tiba dia berbalik lagi, aku sadar, aku baru saja memanggilnya tanpa berpikir apa yang akan aku katakan kepadanya.
            “Apa?” tanyanya dengan alis terangkat.
            “Emm,” aku mulai gugup. “Emmm, kamu pulang bareng siapa?”
            Gadis itu tampak berpikir. “Harusnya sih sama Cela, tapi ternyata dia udah pulang. Yah, terpaksa nunggu jemputan deh.”
            “Pulang bareng aku aja, mau nggak?” responku cepat, membuat gadis itu tak mampu menyembunyikan keterkejutannya.
            “Emm, nggak usah, aku pulang sendiri aja,” jawabnya kemudian berbalik lagi. “Aku pulang duluan yah, daaa!” pamitnya tanpa menoleh lagi padaku.
            “Kamu berubah,” kataku tiba-tiba, membuatnya menghentikan langkah dan menoleh ke arahku lagi. Aku menelan ludah, gugup ketika melihat matanya mengirimkan tatapan dalam kepadaku. Aku memberanikan diri untuk melangkah mendekatinya.
“Katanya kamu nggak akan ninggalin aku, katanya kamu bakal terus nungguin aku, katanya kamu nggak akan diam sama aku. Tapi lihat buktinya sekarang, apa kamu begitu?”
Gadis itu mulanya terdiam dengan kepala tertunduk, tetapi setelah beberapa detik dia menatapku. “Buat apa aku nungguin kalau nggak akan pernah mendapat kepastian? Buat apa aku memperjuangkan kalau aku akan terus mendapat pengabaian? Buat apa aku terus bicara sayang sama kamu tetapi akhirnya aku dijatuhkan? Aku nggak mau hatiku tersakiti dan inilah waktu yang tepat untuk berhenti menanti,” jawabnya dengan nada dalam, membuat hatiku seketika terasa dihunus pisau tajam. Aku sadar, dia memang pernah sangat menyayangi aku.
Kutatap matanya lebih dalam, tetapi dia tak gentar. Ia tetap menatapku. “Aku mulai sayang sama kamu, aku mulai rindu sama kamu, hatimu masih terbuka buat aku?”
Gadis itu terdiam, untuk beberapa detik kami terdiam. Gadis itu sibuk dengan keputusannya, sementara aku sibuk membiarkannya memikirkan jawaban.
“Terlambat,” katanya tiba-tiba membuatku menatapnya. Gadis itu malah tersenyum. “Aku udah nggak bisa.”
Aku menelan ludah. “Kenapa?”
“Semuanya udah beda, semuanya udah nggak sama. Rasaku juga sudah beda, aku memang belum bisa lupa, tapi aku memutuskan untuk berhenti. Ini bukan balas dendam, tapi aku tahu keputusanku nggak salah.”
“Maksud kamu?”
“Aku nggak bisa nerima kamu, aku udah…”
“Kania!”
Aku dan Kania menoleh. Seorang cowok berpostur tinggi dan berkacamata berdiri di belakang kami.
Kania tersenyum padaku. “Aku udah menemukan yang baru. Dan aku sudah bahagia,” jawabnya kemudian menyambut pria yang tadi memanggil namanya. “Aku pulang dulu, ya? Daaah!”
Aku tahu apa maksudnya. Aku tahu bagaimana perasaannya padaku sekarang. Aku sadar, aku memang terlambat. Dan kini, aku hanya mampu melempar sebatas pandangan pada Kania dan kekasihnya yang merangkul bahu gadis itu dengan kasih sayang.


Minggu, 08 September 2013

Cinta Versi Kita

Ini bukanlah kisah cinta ala Romeo dan Juliet. Ini juga bukanlah kisah cinta yang terjalin karena pertemuan disebuah pesta dansa. Dan ini bukan kisah cinta yang terjadi karena kejadian-kejadian istimewa sama seperti yang terjadi dalam film-film drama.
            Tetapi ini hanyalah kisah cinta biasa, yang terasa luar biasa. Sebuah kisah cinta sederhana ala aku dan kekasihku, Raga.
            Malam minggu datang lagi. Setelah mengalami berbagai perdebatan tentang kemana kami akan pergi untuk melewati malam spesial bagi kami berdua ini, aku dan Raga memutuskan untuk singgah di sebuah hik dekat Taman Budaya Surakarta, hik Budi Anduk.
            Sama seperti biasa, warung lesehan itu terlihat ramai oleh mahasiswa-mahasiswa yang sedang beristirahat dari kelelahan mereka hari ini. Tawa mereka bercampur dengan tawa kami, tawa gembira antara aku dan Raga yang sedang berbagi cerita berdua. Sambil menikmati es tape dan berbagai macam sate serta gorengan, kami sama-sama bersahut canda, sesekali saling menggoda, sewaktu-waktu saling bertengkar kecil karena hal sepele.
            Tiga hal pokok yang selalu kami lakukan. Biasa, tapi terasa luar biasa.
            Aku akhirnya terdiam, membiarkan Raga sejenak menikmati sate ayamnya. Bibir cowok itu dipenuhi kecap, membuat aku tertawa kecil sehingga Raga menoleh dengan kening berkerut dan bertanya, “Kamu kenapa?”
            Aku mengulum senyum. “Nggak apa-apa,” jawabku kemudian tertawa lagi sambil melirik bibir Raga.
            Raga yang menyadari lirikanku pun menyentuh bibirnya dan menyadari kalau kecap belepotan di sekitar bibirnya. “Sial,” ucapnya kemudian menorehkan kecap di jarinya ke wajahku.
            Aku langsung pura-pura judes. “Apaan sih? Norak!”
            Raga tertawa, kemudian menikmati kembali sate ayamnya sambil sesekali meneguk es tape.
            Aku memandanginya lagi. Senyum mengembang dibibirku, ada rasa sayang yang luar biasa di dalam sudut penggalih rena. Aku sangat menyayangi Raga. Cowok itu selalu mengerti aku, selalu bisa membuatku tertawa, selalu bisa membuatku tersenyum. Sudah dua tahun kami menjalani hubungan ini, tak pernah ada kata putus. Hingga akhirnya aku sadar, Raga tak pernah main-main padaku. Raga juga menyayangi aku.
            Namun, senyum di bibirku seketika pudar ketika aku menyadari sesuatu. Kami bukanlah pasangan terkenal di sekolah. Tak ada yang tahu kalau kami berpacaran. Aku menghembuskan nafas kecewa, mengetahui bahwa kami bukanlah pasangan gaul yang bisa menciptakan romansa di sekolah kami. Kami pasangan yang tersembunyi di seantero sekolah. Kami adalah pasangan yang tak kasat mata di antara teman-teman kami.
            Sebagai remaja, aku juga ingin orang lain bilang kalau aku dan Raga adalah sepasang manusia yang romantis. Sebagai cewek, aku juga ingin orang lain bilang kalau mereka suka gaya berpacaran kami. Tetapi, Raga tak pernah secara terang-terangan mengumbar hubungan kami di depan orang banyak, Raga hanya mengatakan status kami kepada teman-temannya. Tak tahulah aku bagaimana kisah yang ia ceritakan kepada mereka.
            Aku meremas-remas tanganku. Jari-jariku saling berpeluk tak nyaman. Aku resah. Apa jangan-jangan, Raga malu punya pacar seperti aku? Apa jangan-jangan, Raga sebenarnya tak ingin punya pacar yang tak cantik? Aku memang tidak cantik. Aku memang tidak sempurna. Apa jangan-jangan Raga hanya bermain menggunakan perasaanku?
            Aku tidak tahu.
            Hingga pada akhirnya, Raga menyadari kebisuanku. Ia menatapku dengan cemas.
            “Kamu kenapa?” tanyanya singkat.
            Aku langsung menoleh dan menatapnya. “Hm? Enggak, aku nggak kenapa-kenapa, kok.”
            Raga mengibaskan tangan. “Halah, nggak usah bohong. Kita udah dua tahun pacaran, aku udah kenal gimana kamu yang enggak kenapa-kenapa, gimana kamu yang lagi sedih. Jujur aja deh.”
            Aku menatap Raga dengan ragu-ragu, kemudian menggigit bibir bawahku. Aku gugup mau berbagi cerita. Ini baru yang pertama kali.
            “Sebenernya aku…”
            Raga tak melepaskan pandangannya daripadaku.
            “Sebenernya aku kecewa sama sikap kamu.”
            Sejenak, Raga langsung mengerutkan kening. “Kecewa gimana? Kenapa?”
            Aku menelan ludah. “Aku nggak yakin kalau kamu beneran sayang sama aku.”
            “Why?”
            Aku mengangkat bahu lemas. “I don’t know. Kamu nggak pernah ngajak aku terang-terangan pacaran di sekolah, kamu nggak nyantumin nama aku di bio twitter-mu, kamu juga nggak ngajak aku buat merubah status hubungan kita di facebook. Nggak ada yang tahu kalau kita berdua pacaran.”
            Raga terdiam, sedetik kemudian ia tertawa terbahak-bahak. Aku mengangkat alis. Kenapa harus tertawa? Untuk yang pertama kali, aku merasa Raga tidak bisa memahami aku.
            “Jadi kamu ngerasa kecewa karena empat hal itu?” Raga kembali tertawa. “Lita, Lita. Kamu lucu.”
            “Aku nggak lagi bercanda, Ga.
            Raga terdiam. Bisu. Ia menatapku dengan keseriusan, kemudian ia menyadari kalau aku memang sedang tidak bercanda. Sama seperti biasa, tatapan matanya berubah jadi bijaksana. Ia menghembuskan nafas.
            “Aku sayang kamu apa adanya.”
            “Bukan masalah itu, aku cuma pengen…”
            “Jadi pasangan terkenal di sekolah? Jadi pasangan yang dibilang romantis?”
            Aku diam. Raga menepuk-nepuk ujung kepalaku dengan lembut.
            “Kamu percaya nggak sama aku?”
            Aku hanya bisa diam.
            “Rasa sayang yang tulus nggak didasari sebetapa sering kamu nulis nama pacar kamu di bio twitter, nulis status kalau kamu sayang banget sama pacar kamu di facebook, dan foto sebanyak-banyaknya sama pacar kamu kemudian di share di media sosial. Tetapi, rasa sayang yang tulus ditunjukkan dari betapa besar kamu percaya sama pacar kamu, dan betapa kuat perjuangan kamu untuk mempertahankan dia.”
            Aku menatap Raga. Menatap matanya, menatap maniknya yang bewarna hitam.
            Raga tersenyum. “Aku lebih nyaman nulis nama kamu di hatiku, daripada nulis nama kamu di bio twitter. Percaya itu, Lita.”
            Aku menelan ludah. Belum pernah Raga berbicara dengan nada sedalam dan seserius ini.
            “Biarkan kisah kita jadi kisah kita, biarkan ini mengalir, hingga akhirnya kala kita berdua sama-sama dewasa, kita bikin mereka terkejut dengan romansa tentang aku dan kamu.”
            Raga melebarkan senyumannya.
            “Biarkan ini jadi…”
            Aku meletakkan telunjukku di bibirnya, kemudian tersenyum, “Cinta versi kita,” sahutku lembut.
            Raga tertawa. “Cinta versi kita, biarkan jadi milik kita. Jadi rahasia kita, jadi surprise buat mereka. Aku sayang sama kamu.”

            Senyumku semakin lebar.