Aku memandanginya lagi. Sama
seperti biasanya, mataku tak pernah bisa berpaling ketika wajahnya tampak. Aku
berada di bangkuku, sedang duduk diam, tak berkutik, tak mendengarkan
penjelasan guru, dan membisu dalam sebuah tatapan kepada bentuk bibirnya, lekuk
wajahnya, tajam sorot matanya—yang memperhatikan guru—beserta seluruh keindahan
yang bertengger dalam citranya.
Namanya
Ranu. Sudah sekian bulan ia berhasil menyita segala perhatian sekaligus
konsentrasi dalam diriku terhadap pelajaran. Teman sekelasku itu berhasil
meraih seluruh fokus menjadi khayal yang menari dalam lamunan. Segala imajinasi
tentangnya mengalir dan berbisik dalam benakku, membuatku kadang jadi merinding
sendiri ketika membayangkan khayalan gila soal keberadaannya di sampingku.
Aku
menghembuskan nafas panjang sambil menggigit bibir. Pandanganku masih tak
beralih dari Ranu yang tetap tak menyadari bahwa ada satu tatapan yang setia
mengawasinya setiap hari. Cowok itu memang sangat cuek, sampai-sampai membuatku
bertanya-tanya; apakah sikap yang dia miliki adalah sikap dasar, atau memang
sudah menyadari tapi pura-pura tak peduli?
Kembali
aku menghembuskan nafas panjang. Belum pernah aku frustasi karena jatuh cinta
begini. Memang benar kata Titiek Puspa, jatuh cinta memang sejuta rasanya.
Jatuh cinta memang bisa membuat segala rasa yang terdiri dari berbagai variasi
bergabung menjadi satu; antara rasa malas, sangat bersemangat, takut, malu,
hingga… sakit hati karena yang dicintai tak kunjung memberi dan membalas kode
yang sudah dikirim berjuta kali.
Ranu
mulai mencatat pelajaran Biologi yang ditulis di papan tulis dalam buku
catatannya. Sementara aku mulai menulis segala puisi dan pujian kepadanya,
dalam buku catatan Biologiku pada halaman paling belakang.
Sesekali
aku senyum-senyum sendiri, melukiskan rasa dan bayangan tentang orang yang kita
cintai memang sangat menyenangkan.
Aku
mulai menulis sebuah puisi.
Untuk Ranu,
Meraihmu melalui
khayal
Memelukmu melalui doa
Mendambamu melalui
mata yang terpejam
Jatuh cinta.
Mata dan mata bertemu
Diam jadi kata
Kata jadi tawa
Tawa jadi canda
Canda (semoga) jadi
cinta
Siang merambat cepat
Mentarinya pancarkan
panas pada tubuh
Bagai rasa yang juga
tak kunjung sembuh
Pabila kau tak pernah
menyadari adanya cinta
Menelusup dihati
Menembus bayang dan
imaji
Meraih konsentrasi
Semoga kau lekas mengetahui
Segala rasa cinta yang
membuncah dalam hati ini
Aku kembali
membaca puisi buatanku, kemudian menggeleng-geleng kagum. Tak kusangka, kedua
tangan di tubuh ini mampu menghasilkan kata berdiksi indah dalam secarik kertas
pada halaman paling belakang di buku Biologi. Jatuh cinta memang hebat,
sekalipun bukan penyair, ia mampu membuatmu melukiskan segala rasa dengan
sejuta kalimat indah yang kau ungkapkan pada kertas, bahkan bisa lebih hebat
dari penulis puisi terkenal.
Aku
tersenyum terkagum-kagum, sampai-sampai tak menyadari kalau Ranu sedang
berbalik kemudian menatapku.
“Aku
belum punya catatan Biologi yang minggu lalu, nih. Kamu punya, nggak?” tanyanya
sambil tersenyum.
Aku
terhipnotis. Senyumnya mampu membuat jantungku merasa luluh. Aku
mengangguk-anggukkan kepala. “Punya,” jawabku seadanya.
“Aku
pinjem ya?” pintanya.
Segera
saja kuberikan buku Biologiku kepada Ranu yang langsung menerimanya dengan
senang hati sambil mengucapkan, “Makasih, ya?”
Bel
pulang sekolah akhirnya berbunyi.
Sudah
selesai dengan tugas masing-masing, seluruh murid langsung berhamburan keluar
kelas.
Aku
menatap Ranu yang menjauh bersama teman-temannya. Seperti biasa, ia pasti
langsung pulang.
Aku
menghembuskan nafas. Sial, gara-gara harus piket kebersihan, aku tak bisa
menatapnya diam-diam saat Ranu keluar dari parkiran sekolah sambil menaiki
motornya. Aku menghembuskan nafas kesal.
Tetapi
sepertinya, ada sesuatu yang mengganjal dalam benakku. Sesuatu yang aneh,
sekaligus bodoh dan konyol.
***
Malam akhirnya tiba. Aku tak
sanggup mengarahkan pikiranku pada buku-buku pelajaran di hadapanku. Sejak
pulang sekolah tadi, aku merasa ada sesuatu yang aneh. Aku merasa ada sebuah
hal bodoh yang aku lakukan siang hari tadi. Tetapi ketika aku berusaha merapalkannya,
otak tak mau meraih memori tentang apa yang aku lakukan pada siang tadi.
Sial.
Hingga
akhirnya, malam semakin larut dan aku beranjak tidur. Tidur yang sama sekali
tak nyenyak, karena makin dalam aku memejamkan mata, makin dalam dan menyayat rasa
gusar dalam hati ini.
***
Dan esok pun tiba lagi.
Dengan
semangat seperti biasa, aku berjalan menuju kelasku; bukan dengan semangat
karena siap untuk menerima pelajaran dari para guru pada hari ini, tetapi
bersemangat karena hanya di tempat ini aku bisa bertemu dengan Ranu, sang dewa
penyemangat.
Aku
masuk ke dalam kelas. Namun merasa aneh juga ketika kulihat Ranu yang ternyata
sudah duduk di bangkunya sedang membaca buku catatan Biologiku sambil
tersenyum. Aku menyambutnya dengan pertanyaan menginterogasi dan alis
terangkat.
“Ada yang lucu ya sama
buku Biologiku?”
Ranu
langsung menoleh dan menatapku. Entah hanya perasaanku saja, atau memang fakta,
wajah pria itu langsung merona merah.
“Kenapa?”
Ia
menutup buku Biologiku kemudian mengulum senyum sambil menyodorkan buku itu
kepadaku.
“Ini
buku catatan Biologi apa buku kumpulan puisi cinta, sih?”
Sejenak
aku terdiam, mencoba menerka-nerka arti pertanyaan Ranu dengan seksama.
Keningku berkerut, mencoba untuk mengerti sebuah makna. Hingga akhirnya, aku
sadar dan mengerti pertanyaan Ranu dan langsung menatapnya dengan mata yang
seketika membesar dan membulat.
“Kamu…”
“Aku
udah baca semuanya,” sahutnya sambil tersenyum.
Aku
terdiam, bisu, bungkam. Jantungku berdegup sangat amat cepat, hingga akhirnya
Ranu berkata, “Makasih ya?”
Aku
memberanikan diri untuk menatapnya matanya, kemudian mengangguk.
Kami
terdiam.
Sedetik…
Dua
detik…
Tiga
detik…
“Terus,
komentar kamu gimana?” tanyaku memecahkan sepi. Lontaran pertanyaan yang
sebenarnya cukup berani, sih.
Ranu
tersenyum.
“Kita
temenan aja, ya?”
Aku
menatapnya, kecewa.
Ia
menelan ludah. “Aku belum ada rasa yang sama, aku belum punya rasa yang kamu
punya buat aku. Jadi, aku belum siap. Kita temenan aja, ya?”
Aku
terdiam. Bisu. Tak menyangka, setelah sekian lama aku jatuh cinta, begini
ujungnya. Pangkal kebahagiaan, ujung kesakitan.
“Tapi
aku janji, kalau kamu bisa buktikan rasamu itu, dengan berbagai cara, aku akan
mempersiapkan diri.”
Aku
menatapnya, heran.
Ranu
tersenyum. “Karena cinta sejati, bukanlah sekedar rasa biasa. Karena cinta
sejati, tak akan pernah datang tanpa kesiapan. Dan karena cinta sejati, nggak
akan pernah terlambat, sebetapa lama kamu menantinya.”
Aku
tersentuh. Ucapan bijaksana dari bibir Ranu membuat bibirku melengkung merenda
sebuah senyum tulus pemancar rasa cinta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar