Rabu, 04 September 2013

Untuk Ranu.

Aku memandanginya lagi. Sama seperti biasanya, mataku tak pernah bisa berpaling ketika wajahnya tampak. Aku berada di bangkuku, sedang duduk diam, tak berkutik, tak mendengarkan penjelasan guru, dan membisu dalam sebuah tatapan kepada bentuk bibirnya, lekuk wajahnya, tajam sorot matanya—yang memperhatikan guru—beserta seluruh keindahan yang bertengger dalam citranya.
            Namanya Ranu. Sudah sekian bulan ia berhasil menyita segala perhatian sekaligus konsentrasi dalam diriku terhadap pelajaran. Teman sekelasku itu berhasil meraih seluruh fokus menjadi khayal yang menari dalam lamunan. Segala imajinasi tentangnya mengalir dan berbisik dalam benakku, membuatku kadang jadi merinding sendiri ketika membayangkan khayalan gila soal keberadaannya di sampingku.
            Aku menghembuskan nafas panjang sambil menggigit bibir. Pandanganku masih tak beralih dari Ranu yang tetap tak menyadari bahwa ada satu tatapan yang setia mengawasinya setiap hari. Cowok itu memang sangat cuek, sampai-sampai membuatku bertanya-tanya; apakah sikap yang dia miliki adalah sikap dasar, atau memang sudah menyadari tapi pura-pura tak peduli?
            Kembali aku menghembuskan nafas panjang. Belum pernah aku frustasi karena jatuh cinta begini. Memang benar kata Titiek Puspa, jatuh cinta memang sejuta rasanya. Jatuh cinta memang bisa membuat segala rasa yang terdiri dari berbagai variasi bergabung menjadi satu; antara rasa malas, sangat bersemangat, takut, malu, hingga… sakit hati karena yang dicintai tak kunjung memberi dan membalas kode yang sudah dikirim berjuta kali.
            Ranu mulai mencatat pelajaran Biologi yang ditulis di papan tulis dalam buku catatannya. Sementara aku mulai menulis segala puisi dan pujian kepadanya, dalam buku catatan Biologiku pada halaman paling belakang.
            Sesekali aku senyum-senyum sendiri, melukiskan rasa dan bayangan tentang orang yang kita cintai memang sangat menyenangkan.
            Aku mulai menulis sebuah puisi.
            Untuk Ranu,
            Meraihmu melalui khayal
            Memelukmu melalui doa
            Mendambamu melalui mata yang terpejam
            Jatuh cinta.

            Mata dan mata bertemu
            Diam jadi kata
            Kata jadi tawa
            Tawa jadi canda
            Canda (semoga) jadi cinta
           
            Siang merambat cepat
            Mentarinya pancarkan panas pada tubuh
            Bagai rasa yang juga tak kunjung sembuh   
            Pabila kau tak pernah menyadari adanya cinta

            Menelusup dihati
            Menembus bayang dan imaji
            Meraih konsentrasi
            Semoga kau lekas mengetahui
            Segala rasa cinta yang membuncah dalam hati ini

            Aku kembali membaca puisi buatanku, kemudian menggeleng-geleng kagum. Tak kusangka, kedua tangan di tubuh ini mampu menghasilkan kata berdiksi indah dalam secarik kertas pada halaman paling belakang di buku Biologi. Jatuh cinta memang hebat, sekalipun bukan penyair, ia mampu membuatmu melukiskan segala rasa dengan sejuta kalimat indah yang kau ungkapkan pada kertas, bahkan bisa lebih hebat dari penulis puisi terkenal.
            Aku tersenyum terkagum-kagum, sampai-sampai tak menyadari kalau Ranu sedang berbalik kemudian menatapku.
            “Aku belum punya catatan Biologi yang minggu lalu, nih. Kamu punya, nggak?” tanyanya sambil tersenyum.
            Aku terhipnotis. Senyumnya mampu membuat jantungku merasa luluh. Aku mengangguk-anggukkan kepala. “Punya,” jawabku seadanya.
            “Aku pinjem ya?” pintanya.
            Segera saja kuberikan buku Biologiku kepada Ranu yang langsung menerimanya dengan senang hati sambil mengucapkan, “Makasih, ya?”
            Bel pulang sekolah akhirnya berbunyi.
            Sudah selesai dengan tugas masing-masing, seluruh murid langsung berhamburan keluar kelas.
            Aku menatap Ranu yang menjauh bersama teman-temannya. Seperti biasa, ia pasti langsung pulang.
            Aku menghembuskan nafas. Sial, gara-gara harus piket kebersihan, aku tak bisa menatapnya diam-diam saat Ranu keluar dari parkiran sekolah sambil menaiki motornya. Aku menghembuskan nafas kesal.
            Tetapi sepertinya, ada sesuatu yang mengganjal dalam benakku. Sesuatu yang aneh, sekaligus bodoh dan konyol.
***
Malam akhirnya tiba. Aku tak sanggup mengarahkan pikiranku pada buku-buku pelajaran di hadapanku. Sejak pulang sekolah tadi, aku merasa ada sesuatu yang aneh. Aku merasa ada sebuah hal bodoh yang aku lakukan siang hari tadi. Tetapi ketika aku berusaha merapalkannya, otak tak mau meraih memori tentang apa yang aku lakukan pada siang tadi.
            Sial.
            Hingga akhirnya, malam semakin larut dan aku beranjak tidur. Tidur yang sama sekali tak nyenyak, karena makin dalam aku memejamkan mata, makin dalam dan menyayat rasa gusar dalam hati ini.
***
Dan esok pun tiba lagi.
            Dengan semangat seperti biasa, aku berjalan menuju kelasku; bukan dengan semangat karena siap untuk menerima pelajaran dari para guru pada hari ini, tetapi bersemangat karena hanya di tempat ini aku bisa bertemu dengan Ranu, sang dewa penyemangat.
            Aku masuk ke dalam kelas. Namun merasa aneh juga ketika kulihat Ranu yang ternyata sudah duduk di bangkunya sedang membaca buku catatan Biologiku sambil tersenyum. Aku menyambutnya dengan pertanyaan menginterogasi dan alis terangkat.
            “Ada yang lucu ya sama buku Biologiku?”
            Ranu langsung menoleh dan menatapku. Entah hanya perasaanku saja, atau memang fakta, wajah pria itu langsung merona merah.
            “Kenapa?”
            Ia menutup buku Biologiku kemudian mengulum senyum sambil menyodorkan buku itu kepadaku.
            “Ini buku catatan Biologi apa buku kumpulan puisi cinta, sih?”
            Sejenak aku terdiam, mencoba menerka-nerka arti pertanyaan Ranu dengan seksama. Keningku berkerut, mencoba untuk mengerti sebuah makna. Hingga akhirnya, aku sadar dan mengerti pertanyaan Ranu dan langsung menatapnya dengan mata yang seketika membesar dan membulat.
            “Kamu…”
            “Aku udah baca semuanya,” sahutnya sambil tersenyum.
            Aku terdiam, bisu, bungkam. Jantungku berdegup sangat amat cepat, hingga akhirnya Ranu berkata, “Makasih ya?”
            Aku memberanikan diri untuk menatapnya matanya, kemudian mengangguk.
            Kami terdiam.
            Sedetik…
            Dua detik…
            Tiga detik…
            “Terus, komentar kamu gimana?” tanyaku memecahkan sepi. Lontaran pertanyaan yang sebenarnya cukup berani, sih.
            Ranu tersenyum.
            “Kita temenan aja, ya?”           
            Aku menatapnya, kecewa.
            Ia menelan ludah. “Aku belum ada rasa yang sama, aku belum punya rasa yang kamu punya buat aku. Jadi, aku belum siap. Kita temenan aja, ya?”
            Aku terdiam. Bisu. Tak menyangka, setelah sekian lama aku jatuh cinta, begini ujungnya. Pangkal kebahagiaan, ujung kesakitan.
            “Tapi aku janji, kalau kamu bisa buktikan rasamu itu, dengan berbagai cara, aku akan mempersiapkan diri.”
            Aku menatapnya, heran.
            Ranu tersenyum. “Karena cinta sejati, bukanlah sekedar rasa biasa. Karena cinta sejati, tak akan pernah datang tanpa kesiapan. Dan karena cinta sejati, nggak akan pernah terlambat, sebetapa lama kamu menantinya.”

            Aku tersentuh. Ucapan bijaksana dari bibir Ranu membuat bibirku melengkung merenda sebuah senyum tulus pemancar rasa cinta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar