Minggu, 08 September 2013

Cinta Versi Kita

Ini bukanlah kisah cinta ala Romeo dan Juliet. Ini juga bukanlah kisah cinta yang terjalin karena pertemuan disebuah pesta dansa. Dan ini bukan kisah cinta yang terjadi karena kejadian-kejadian istimewa sama seperti yang terjadi dalam film-film drama.
            Tetapi ini hanyalah kisah cinta biasa, yang terasa luar biasa. Sebuah kisah cinta sederhana ala aku dan kekasihku, Raga.
            Malam minggu datang lagi. Setelah mengalami berbagai perdebatan tentang kemana kami akan pergi untuk melewati malam spesial bagi kami berdua ini, aku dan Raga memutuskan untuk singgah di sebuah hik dekat Taman Budaya Surakarta, hik Budi Anduk.
            Sama seperti biasa, warung lesehan itu terlihat ramai oleh mahasiswa-mahasiswa yang sedang beristirahat dari kelelahan mereka hari ini. Tawa mereka bercampur dengan tawa kami, tawa gembira antara aku dan Raga yang sedang berbagi cerita berdua. Sambil menikmati es tape dan berbagai macam sate serta gorengan, kami sama-sama bersahut canda, sesekali saling menggoda, sewaktu-waktu saling bertengkar kecil karena hal sepele.
            Tiga hal pokok yang selalu kami lakukan. Biasa, tapi terasa luar biasa.
            Aku akhirnya terdiam, membiarkan Raga sejenak menikmati sate ayamnya. Bibir cowok itu dipenuhi kecap, membuat aku tertawa kecil sehingga Raga menoleh dengan kening berkerut dan bertanya, “Kamu kenapa?”
            Aku mengulum senyum. “Nggak apa-apa,” jawabku kemudian tertawa lagi sambil melirik bibir Raga.
            Raga yang menyadari lirikanku pun menyentuh bibirnya dan menyadari kalau kecap belepotan di sekitar bibirnya. “Sial,” ucapnya kemudian menorehkan kecap di jarinya ke wajahku.
            Aku langsung pura-pura judes. “Apaan sih? Norak!”
            Raga tertawa, kemudian menikmati kembali sate ayamnya sambil sesekali meneguk es tape.
            Aku memandanginya lagi. Senyum mengembang dibibirku, ada rasa sayang yang luar biasa di dalam sudut penggalih rena. Aku sangat menyayangi Raga. Cowok itu selalu mengerti aku, selalu bisa membuatku tertawa, selalu bisa membuatku tersenyum. Sudah dua tahun kami menjalani hubungan ini, tak pernah ada kata putus. Hingga akhirnya aku sadar, Raga tak pernah main-main padaku. Raga juga menyayangi aku.
            Namun, senyum di bibirku seketika pudar ketika aku menyadari sesuatu. Kami bukanlah pasangan terkenal di sekolah. Tak ada yang tahu kalau kami berpacaran. Aku menghembuskan nafas kecewa, mengetahui bahwa kami bukanlah pasangan gaul yang bisa menciptakan romansa di sekolah kami. Kami pasangan yang tersembunyi di seantero sekolah. Kami adalah pasangan yang tak kasat mata di antara teman-teman kami.
            Sebagai remaja, aku juga ingin orang lain bilang kalau aku dan Raga adalah sepasang manusia yang romantis. Sebagai cewek, aku juga ingin orang lain bilang kalau mereka suka gaya berpacaran kami. Tetapi, Raga tak pernah secara terang-terangan mengumbar hubungan kami di depan orang banyak, Raga hanya mengatakan status kami kepada teman-temannya. Tak tahulah aku bagaimana kisah yang ia ceritakan kepada mereka.
            Aku meremas-remas tanganku. Jari-jariku saling berpeluk tak nyaman. Aku resah. Apa jangan-jangan, Raga malu punya pacar seperti aku? Apa jangan-jangan, Raga sebenarnya tak ingin punya pacar yang tak cantik? Aku memang tidak cantik. Aku memang tidak sempurna. Apa jangan-jangan Raga hanya bermain menggunakan perasaanku?
            Aku tidak tahu.
            Hingga pada akhirnya, Raga menyadari kebisuanku. Ia menatapku dengan cemas.
            “Kamu kenapa?” tanyanya singkat.
            Aku langsung menoleh dan menatapnya. “Hm? Enggak, aku nggak kenapa-kenapa, kok.”
            Raga mengibaskan tangan. “Halah, nggak usah bohong. Kita udah dua tahun pacaran, aku udah kenal gimana kamu yang enggak kenapa-kenapa, gimana kamu yang lagi sedih. Jujur aja deh.”
            Aku menatap Raga dengan ragu-ragu, kemudian menggigit bibir bawahku. Aku gugup mau berbagi cerita. Ini baru yang pertama kali.
            “Sebenernya aku…”
            Raga tak melepaskan pandangannya daripadaku.
            “Sebenernya aku kecewa sama sikap kamu.”
            Sejenak, Raga langsung mengerutkan kening. “Kecewa gimana? Kenapa?”
            Aku menelan ludah. “Aku nggak yakin kalau kamu beneran sayang sama aku.”
            “Why?”
            Aku mengangkat bahu lemas. “I don’t know. Kamu nggak pernah ngajak aku terang-terangan pacaran di sekolah, kamu nggak nyantumin nama aku di bio twitter-mu, kamu juga nggak ngajak aku buat merubah status hubungan kita di facebook. Nggak ada yang tahu kalau kita berdua pacaran.”
            Raga terdiam, sedetik kemudian ia tertawa terbahak-bahak. Aku mengangkat alis. Kenapa harus tertawa? Untuk yang pertama kali, aku merasa Raga tidak bisa memahami aku.
            “Jadi kamu ngerasa kecewa karena empat hal itu?” Raga kembali tertawa. “Lita, Lita. Kamu lucu.”
            “Aku nggak lagi bercanda, Ga.”
            Raga terdiam. Bisu. Ia menatapku dengan keseriusan, kemudian ia menyadari kalau aku memang sedang tidak bercanda. Sama seperti biasa, tatapan matanya berubah jadi bijaksana. Ia menghembuskan nafas.
            “Aku sayang kamu apa adanya.”
            “Bukan masalah itu, aku cuma pengen…”
            “Jadi pasangan terkenal di sekolah? Jadi pasangan yang dibilang romantis?”
            Aku diam. Raga menepuk-nepuk ujung kepalaku dengan lembut.
            “Kamu percaya nggak sama aku?”
            Aku hanya bisa diam.
            “Rasa sayang yang tulus nggak didasari sebetapa sering kamu nulis nama pacar kamu di bio twitter, nulis status kalau kamu sayang banget sama pacar kamu di facebook, dan foto sebanyak-banyaknya sama pacar kamu kemudian di share di media sosial. Tetapi, rasa sayang yang tulus ditunjukkan dari betapa besar kamu percaya sama pacar kamu, dan betapa kuat perjuangan kamu untuk mempertahankan dia.”
            Aku menatap Raga. Menatap matanya, menatap maniknya yang bewarna hitam.
            Raga tersenyum. “Aku lebih nyaman nulis nama kamu di hatiku, daripada nulis nama kamu di bio twitter. Percaya itu, Lita.”
            Aku menelan ludah. Belum pernah Raga berbicara dengan nada sedalam dan seserius ini.
            “Biarkan kisah kita jadi kisah kita, biarkan ini mengalir, hingga akhirnya kala kita berdua sama-sama dewasa, kita bikin mereka terkejut dengan romansa tentang aku dan kamu.”
            Raga melebarkan senyumannya.
            “Biarkan ini jadi…”
            Aku meletakkan telunjukku di bibirnya, kemudian tersenyum, “Cinta versi kita,” sahutku lembut.
            Raga tertawa. “Cinta versi kita, biarkan jadi milik kita. Jadi rahasia kita, jadi surprise buat mereka. Aku sayang sama kamu.”

            Senyumku semakin lebar.          

Rabu, 04 September 2013

Untuk Ranu.

Aku memandanginya lagi. Sama seperti biasanya, mataku tak pernah bisa berpaling ketika wajahnya tampak. Aku berada di bangkuku, sedang duduk diam, tak berkutik, tak mendengarkan penjelasan guru, dan membisu dalam sebuah tatapan kepada bentuk bibirnya, lekuk wajahnya, tajam sorot matanya—yang memperhatikan guru—beserta seluruh keindahan yang bertengger dalam citranya.
            Namanya Ranu. Sudah sekian bulan ia berhasil menyita segala perhatian sekaligus konsentrasi dalam diriku terhadap pelajaran. Teman sekelasku itu berhasil meraih seluruh fokus menjadi khayal yang menari dalam lamunan. Segala imajinasi tentangnya mengalir dan berbisik dalam benakku, membuatku kadang jadi merinding sendiri ketika membayangkan khayalan gila soal keberadaannya di sampingku.
            Aku menghembuskan nafas panjang sambil menggigit bibir. Pandanganku masih tak beralih dari Ranu yang tetap tak menyadari bahwa ada satu tatapan yang setia mengawasinya setiap hari. Cowok itu memang sangat cuek, sampai-sampai membuatku bertanya-tanya; apakah sikap yang dia miliki adalah sikap dasar, atau memang sudah menyadari tapi pura-pura tak peduli?
            Kembali aku menghembuskan nafas panjang. Belum pernah aku frustasi karena jatuh cinta begini. Memang benar kata Titiek Puspa, jatuh cinta memang sejuta rasanya. Jatuh cinta memang bisa membuat segala rasa yang terdiri dari berbagai variasi bergabung menjadi satu; antara rasa malas, sangat bersemangat, takut, malu, hingga… sakit hati karena yang dicintai tak kunjung memberi dan membalas kode yang sudah dikirim berjuta kali.
            Ranu mulai mencatat pelajaran Biologi yang ditulis di papan tulis dalam buku catatannya. Sementara aku mulai menulis segala puisi dan pujian kepadanya, dalam buku catatan Biologiku pada halaman paling belakang.
            Sesekali aku senyum-senyum sendiri, melukiskan rasa dan bayangan tentang orang yang kita cintai memang sangat menyenangkan.
            Aku mulai menulis sebuah puisi.
            Untuk Ranu,
            Meraihmu melalui khayal
            Memelukmu melalui doa
            Mendambamu melalui mata yang terpejam
            Jatuh cinta.

            Mata dan mata bertemu
            Diam jadi kata
            Kata jadi tawa
            Tawa jadi canda
            Canda (semoga) jadi cinta
           
            Siang merambat cepat
            Mentarinya pancarkan panas pada tubuh
            Bagai rasa yang juga tak kunjung sembuh   
            Pabila kau tak pernah menyadari adanya cinta

            Menelusup dihati
            Menembus bayang dan imaji
            Meraih konsentrasi
            Semoga kau lekas mengetahui
            Segala rasa cinta yang membuncah dalam hati ini

            Aku kembali membaca puisi buatanku, kemudian menggeleng-geleng kagum. Tak kusangka, kedua tangan di tubuh ini mampu menghasilkan kata berdiksi indah dalam secarik kertas pada halaman paling belakang di buku Biologi. Jatuh cinta memang hebat, sekalipun bukan penyair, ia mampu membuatmu melukiskan segala rasa dengan sejuta kalimat indah yang kau ungkapkan pada kertas, bahkan bisa lebih hebat dari penulis puisi terkenal.
            Aku tersenyum terkagum-kagum, sampai-sampai tak menyadari kalau Ranu sedang berbalik kemudian menatapku.
            “Aku belum punya catatan Biologi yang minggu lalu, nih. Kamu punya, nggak?” tanyanya sambil tersenyum.
            Aku terhipnotis. Senyumnya mampu membuat jantungku merasa luluh. Aku mengangguk-anggukkan kepala. “Punya,” jawabku seadanya.
            “Aku pinjem ya?” pintanya.
            Segera saja kuberikan buku Biologiku kepada Ranu yang langsung menerimanya dengan senang hati sambil mengucapkan, “Makasih, ya?”
            Bel pulang sekolah akhirnya berbunyi.
            Sudah selesai dengan tugas masing-masing, seluruh murid langsung berhamburan keluar kelas.
            Aku menatap Ranu yang menjauh bersama teman-temannya. Seperti biasa, ia pasti langsung pulang.
            Aku menghembuskan nafas. Sial, gara-gara harus piket kebersihan, aku tak bisa menatapnya diam-diam saat Ranu keluar dari parkiran sekolah sambil menaiki motornya. Aku menghembuskan nafas kesal.
            Tetapi sepertinya, ada sesuatu yang mengganjal dalam benakku. Sesuatu yang aneh, sekaligus bodoh dan konyol.
***
Malam akhirnya tiba. Aku tak sanggup mengarahkan pikiranku pada buku-buku pelajaran di hadapanku. Sejak pulang sekolah tadi, aku merasa ada sesuatu yang aneh. Aku merasa ada sebuah hal bodoh yang aku lakukan siang hari tadi. Tetapi ketika aku berusaha merapalkannya, otak tak mau meraih memori tentang apa yang aku lakukan pada siang tadi.
            Sial.
            Hingga akhirnya, malam semakin larut dan aku beranjak tidur. Tidur yang sama sekali tak nyenyak, karena makin dalam aku memejamkan mata, makin dalam dan menyayat rasa gusar dalam hati ini.
***
Dan esok pun tiba lagi.
            Dengan semangat seperti biasa, aku berjalan menuju kelasku; bukan dengan semangat karena siap untuk menerima pelajaran dari para guru pada hari ini, tetapi bersemangat karena hanya di tempat ini aku bisa bertemu dengan Ranu, sang dewa penyemangat.
            Aku masuk ke dalam kelas. Namun merasa aneh juga ketika kulihat Ranu yang ternyata sudah duduk di bangkunya sedang membaca buku catatan Biologiku sambil tersenyum. Aku menyambutnya dengan pertanyaan menginterogasi dan alis terangkat.
            “Ada yang lucu ya sama buku Biologiku?”
            Ranu langsung menoleh dan menatapku. Entah hanya perasaanku saja, atau memang fakta, wajah pria itu langsung merona merah.
            “Kenapa?”
            Ia menutup buku Biologiku kemudian mengulum senyum sambil menyodorkan buku itu kepadaku.
            “Ini buku catatan Biologi apa buku kumpulan puisi cinta, sih?”
            Sejenak aku terdiam, mencoba menerka-nerka arti pertanyaan Ranu dengan seksama. Keningku berkerut, mencoba untuk mengerti sebuah makna. Hingga akhirnya, aku sadar dan mengerti pertanyaan Ranu dan langsung menatapnya dengan mata yang seketika membesar dan membulat.
            “Kamu…”
            “Aku udah baca semuanya,” sahutnya sambil tersenyum.
            Aku terdiam, bisu, bungkam. Jantungku berdegup sangat amat cepat, hingga akhirnya Ranu berkata, “Makasih ya?”
            Aku memberanikan diri untuk menatapnya matanya, kemudian mengangguk.
            Kami terdiam.
            Sedetik…
            Dua detik…
            Tiga detik…
            “Terus, komentar kamu gimana?” tanyaku memecahkan sepi. Lontaran pertanyaan yang sebenarnya cukup berani, sih.
            Ranu tersenyum.
            “Kita temenan aja, ya?”           
            Aku menatapnya, kecewa.
            Ia menelan ludah. “Aku belum ada rasa yang sama, aku belum punya rasa yang kamu punya buat aku. Jadi, aku belum siap. Kita temenan aja, ya?”
            Aku terdiam. Bisu. Tak menyangka, setelah sekian lama aku jatuh cinta, begini ujungnya. Pangkal kebahagiaan, ujung kesakitan.
            “Tapi aku janji, kalau kamu bisa buktikan rasamu itu, dengan berbagai cara, aku akan mempersiapkan diri.”
            Aku menatapnya, heran.
            Ranu tersenyum. “Karena cinta sejati, bukanlah sekedar rasa biasa. Karena cinta sejati, tak akan pernah datang tanpa kesiapan. Dan karena cinta sejati, nggak akan pernah terlambat, sebetapa lama kamu menantinya.”

            Aku tersentuh. Ucapan bijaksana dari bibir Ranu membuat bibirku melengkung merenda sebuah senyum tulus pemancar rasa cinta.

Selasa, 03 September 2013

Cinta yang Berjarak

Aku memandang wajah manis Pamor melalui foto yang berbingkai di atas meja belajarku. Sebuah senyum melengkungkan bibirku. Aku memutuskan untuk memejamkan mata, hati mulai bertugas tuk meraba-raba. Ada sebuah rasa yang gila dan menggelitik di dalam dada, orang banyak menyebutnya cinta.
            Lagu yang dilantunkan oleh Mandy Moore berjudul The Way To My Heart mengalun pelan dari mp3 kecil di sampingku. Malam yang dingin membuat aku menyadari bahwa aku sedang merindu, rindu pada seseorang yang berada di jauh sana, di Surabaya.
            Sudah dua tahun aku dan Pamor menjalin hubungan jarak jauh. Susah menjalaninya, butuh komunikasi yang baik agar hubungan tetap berjalan lancar. Apalagi kalau sudah kangen begini, susah untuk mengatasinya. Segala perasaan tidak akan selamanya terasa lega bila tidak diselesaikan dengan tatap muka, begitulah aku.
            Biasanya, jika rindu sedang menelusup dalam ruang hatiku dan membuat pikiranku bernostalgi tentang kenangan kami selama masih tinggal dalam hubungan yang tak berjarak seperti ini, aku langsung menghubunginya; menelfon untuk melepas rindu atau sekedar mengirim pesan singkat untuk melegakan hati yang bertanya-tanya tentang keadaannya.
            Tapi tidak untuk malam ini.
            Pamor bagaikan menghilang ditelan bumi. Gadis itu tidak mengangkat telefon atau sekedar mengirim sms. Aku menghembuskan nafas. Pikiranku jadi melayang-layang tak menentu. PR yang sejak tadi berada di hadapanku sama sekali tidak tersentuh. Aku hanya diam sambil memandangi bintang-bintang yang menghias langit malam itu.
            Hubungan jarak jauh. Hmm, aku berpikir lagi. Tak semua pasangan bisa menjalani hubungan rumit ini. Berarti aku termasuk golongan orang hebat? Ya. Aku memberikan apresiasi yang besar pada mereka, pasangan-pasangan yang mampu menjalani hubungan jarak jauh dengan penuh kesabaran.
            Rindu untuk saling bertatap muka seringkali menghantui pada malam hari, terutama pada malam yang terasa sepi dan dingin begini. Tetapi apa yang bisa dilakukan? Hanya menatap bingkai foto saja sudah cukup.
            Kenangan-kenangan selama masih sangat dekat pun juga sering melayang dalam benak dan pikiran. Sialnya, hati ikut-ikutan memanas-manasi dan bilang bahwa kamu harus menghubungi dia, siapa tau dia lagi cari gebetan lain…
            Aku tertawa membayangkan pikiran itu. Hubungan jarak jauh lucu juga, ya? Dijalani tanpa tatap muka, dijalani hanya dengan sebatas pesan singkat dan telefon, dijalani hanya dengan rindu yang terukir dalam hati tanpa setiap waktu bisa disampaikan pada empunya pemilik hati.
            Asa merengut nyawa, mimpi merengut imaji. Ketika bayang mendambakannya, aku tau aku sedang merindu. Hubungan jarak jauh membuat kita bisa merasa kangen pada seseorang tiap detik. Karena rasa kangen bisa menelusup sewaktu-waktu, meski tanpa perantara.
            Mataku melirik lagi ke arah handphone yang masih sepi. Handphone itu sama sekali tak bergeming dari diamnya. Aku kembali menghembuskan nafas panjang. Beginilah sulitnya menjalani hubungan jarak jauh. Hati selalu dipenuhi rasa kecewa, kecewa, dan kecewa apabila sang pemilik hati tak memberi kabar, tetapi sedetik kemudian merasa sangat amat lega ketika dia akhirnya memberi tahu keadaanya meski hanya melalui pesan singkat, meski rasa lega itu hanya terjadi beberapa saat karena rindu tak mau pergi dan selalu menelusup dalam dasar hati disertai pikiran tentang raga sang kekasih.
            Jantungku berdegup; teringat pertama kali aku terpesona pada Pamor. Teringat pertama kali aku mulai menyukai senyumnya, terpana pada tatapan matanya, terpaku saat mendengar ucap dari bibirnya, hingga akhirnya aku tahu, aku sadar, dan aku merasa; aku jatuh cinta.
            Dan akhirnya kami memutuskan untuk menjalin sebuah hubungan.
            Pengalaman jatuh cinta yang selalu membuatku melengkungkan bibir kemudian tersenyum, atau bahkan tertawa kecil jika mengingatnya.
            Malam makin larut. Handphone masih belum berdering. Rindu semakin menjadi-jadi. Aku kesal. Kemana dia? Apa yang sedang dia lakukan? Kenapa dia tak memberi kabar? Apa dia tidak rindu kepadaku? Apa dia…. Sejuta pertanyaan tentang apa, mengapa, dimana, sedang apa, dan lain-lain melayang dalam pikiranku: membuatku berpikir lebih sulit dan menerka sesuatu yang tak pasti; sesuatu yang lebih rumit dibanding Matematika.
            Hingga akhirnya, aku meraih handphone-ku. Siap-siap marah karena Pamor tak kunjung memberi kabar, dan kemudian mematikan handphone itu sampai esok pagi dan membaca sms minta maaf dari Pamor karena tak memberi kabar. Tetapi niat itu batal ketika handphone akhirnya berdering juga.
            Aku mengangkat telefon dari Pamor, siap-siap marah.
            “Menunggu kerinduan, mendamba kesabaran. Apa malam ini kamu menanti kabarku, Sayang?” Pamor tertawa.
            Sial. Dia berusaha mengujiku. Aku langsung bersungut-sungut kesal.
            “Iyalah, kamu kemana aja sih?”
            “Hehe, di rumah aja. Tapi sengaja nggak telfon biar aku tau respon kamu. Marah, ya?” godanya.
            Aku uring-uringan dalam hati, tapi lega juga ketika suaranya terdengar dalam telinga.
            “Iyalah, marah.”
            Aku mendengar Pamor tertawa kecil.
            “Sayang, jangan marah-marah lagi, ya? Aku tau kamu kangen, aku juga kok. Tapi sekarang, aku disini, melalui saluran telefon, aku membalas dan menjawab segala tanya yang melayang dalam pikiran kamu. Aku menjelma jadi jawaban, atas pertanyaan gimana kabarku. Aku selalu baik-baik aja, meski jauh dari kamu. Rindumu dan rinduku yang menyatu adalah kekuatan yang tak akan pernah membuat aku goyah.”

            Aku terdiam membiarkan Pamor bercerita dengan kalimat indahnya. Hingga akhirnya dia berhenti, dan aku berkata, “Aku kangen sama kamu.”

Senin, 02 September 2013

Kereta Yang Membawaku Pulang Malam Ini

Oleh: Aj. Susmana
ereta ekonomi membawaku pulang malam ini. Sudah empat jam yang lalu meninggalkan Jakarta dan tinggal dalam hitungan menit memasuki Cirebon.
Ibu di kampung sebenarnya tak memintaku pulang. Hanya aku, perasaanku, yang menginginkan aku pulang meninggalkan kesumpekan Jakarta. Aku sendiri merasa Ibu tak pernah kangen padaku. Dia tak pernah meneleponku atau sekedar titip salam atau tanya kabar melalui SMS. Ibu memang pernah bilang secara tak sengaja kepadaku ketika aku pulang enam bulan yang lalu.
            “Anak lelaki-ku tak pernah bikin aku kangen. Kubiarkan dia pergi kemana dia suka dan aku tak pernah bertanya. Kalau dia pulang juga tak pernah bawa uang atau sekedar oleh-oleh untuk ibunya.” Kata-kata itu memang disampaikan kepada tetangga yang kebetulan main ke rumah. Dan aku hanya tersenyum sambil terus membaca “Simfoni Pastoral” karya Andre Gide. Namun yang kusuka dari Ibu dan betapa jelas ia menunjukkan kasih-sayangnya kepadaku, ia selalu memberikan hidangan yang terbaik buatku bila aku tiba dan tinggal di rumah yang sering tak lebih dari tiga hari. Perlakuan yang istimewa ibuku itu sering membikin cemburu saudara-saudaraku. Tetanggaku yang tak pernah mengerti apa pekerjaanku sebenarnya biasanya hanya bisa menjawab: “Nanti, Bu. Nanti. Sabar. Kalau sudah dapat pekerjaan, pastilah dia juga membalas.”
            Enam bulan yang lalu itu juga aku pamit ke Aceh. Ada kelompok mahasiswa yang mengundangku kesana untuk diskusi Kebudayaan. Aku bilang juga mungkin enam bulan aku akan ada di Aceh. Ibuku tersenyum dan bertanya: “Enam bulan di Aceh? Kebudayaan? Apakah itu juga tak menghasilkan uang?”
            “Tidak. Mereka yang mengundangku juga tak punya uang. Hanya cukup untuk biaya ongkos bolak-balik Jakarta-Aceh,” jawabku.
            “Terus bagaimana kamu makan di sana?”
            “Ah… Ibu seperti tak mengerti saja?” balik aku bertanya.
            “Jangan bilang: burung-burung di udara tak menanam tapi makan ya?”
            Aku tersenyum mendengar canda ibuku. Di desaku burung-burung, terutama burung pipit adalah burung yang paling dibenci walau untuk itu tak perlu ada pembantaian. Bila padi-padi telah mulai menguning, kami sekeluarga dan juga orang-orang desa lainnya terpaksa harus berteriak keras-keras mengusir kawanan pipit itu sampai suara serak sambil menarik-narik dan menggoyang-goyangkan memedi sawah yang sudah dikalungi kaleng-kaleng bekas. Begitulah dulu masa kanak-kanakku sampai sekolah menengah pertama.
“Ibu tak perlu khawatir. Aku bisa makan di mana saja walau tak punya uang. Mereka akan menanggungku. Nanti kalau aku pulang kubawakan Ibu selendang Aceh.”
            “Huu, kamu ini. Tak usah. Mending kamu bawa calon istri saja. Ibu ingin melihat kamu menikah.”
            Menikah. Menikah. Itulah yang selalu ditagih ibuku. Tak hanya enam bulan yang lalu. Tapi juga sebelumnya dan sebelumnya setiap kali aku pulang ke rumah. Walau untuk ini, Ibu tak begitu menuntut amat. Ibu hanya bertanya dan mengingatkan saja bahwa dalam hidup bermasyarakat ini salah satunya adalah menikah. Barangkali jalan pikiran ibuku kira-kira begini: menikah adalah jalan menjadi orang desa yang dewasa. Semacam inisiasi. Aku sendiri merasakan bila pulang ke desa. Tak pernah aku mendapat kewajiban untuk menyumbang pesta pernikahan misalnya sementara adikku yang lebih muda justru berkewajiban menyumbang. Soalnya hanya satu: aku belum menikah dan karenanya masih menjadi tanggungan orang tua. Lagi, bila aku menikah pasti aku segera mencari pekerjaan yang mapan untuk menghidupi isteri dan anak-anak yang dilahirkan.
            “Ingat. Umurmu sudah kepala tiga. Semua pemuda seangkatanmu pun sudah menikah. Tinggal kamu yang belum. Apa kamu tidak malu?”
            “Jangan-jangan ibu sendiri yang malu?”
            “Kamu ini bisanya hanya balik bertanya? Apa itu pelajaran filsafat?” Aku tersenyum mendengar pertanyaan kritis tak terduga dari ibuku.
            “Jangan bilang kamu: kalau aku pernah mengijinkan dalam hidupmu untuk tidak menikah.”
            Aku pun tertawa ngakak mendengar jawaban Ibuku yang sudah memagari jawabanku begitu rupa.
            “Tidak. Memang belum ada, Ibu. Bukankah aku harus mendapatkan calon istri yang baik, berani dan pintar sehingga tidak membuat malu Ibu?”
            “Alasan saja kamu. Semua kawan kuliahmu yang mampir ke sini semuanya baik di mata ibumu yang bodoh ini. Dimana mereka?”
            “Mereka punya pilihan hidup sendiri,” jawabku cepat. Ibuku pun tak segera melanjutkan bertanya dan menyibukkan diri dengan pekerjaan sambilannya: membikin roti bila ada pesanan. Biasanya aku hanya membantu mengocok telurnya sampai lembut sebelum dijadikan adonan. Tapi hari ini tidak karena aku sendiri sedang bersiap balik ke Jakarta. Pertanyaan ibuku yang terakhir mengingatkanku pada Wani, satu-satunya kawan perempuan di kampus yang pernah mampir ke rumahku dan aku tak suka membahasnya.Bukan benci tetapi merasa kosong bila mendengar namanya. Seperti kembali ke titik nol dan belajar kembali berkenalan dan mulai menjalani proses mengenal. Jadinya, mengecewakan dan melelahkan. Aku tak mau Ibu tahu sebabnya.
            Ketika aku sudah siap berangkat, aku pamit. “Bu, berangkat sekarang aku. Ke Jakarta.”
            “Ada ongkos?”
            “Ada.”
            “Kapan pulang?”
            “Ya… sekitar enam bulan mungkin. Kalau jadi ke Aceh. Sekalian kubawakan menantu.” Ia tersenyum dan tampak semakin tua dengan rambut panjangnya yang memutih. Aku bersalaman. Lalu pergi.
            Kereta ekonomi yang membawaku malam ini sudah meninggalkan Cirebon tiga jam yang lalu. Seorang perempuan tampak lebih muda dariku, cantik, duduk di sampingku. Mungkin dia naik dari Cirebon dan mendapatkan tempat duduk kosong disampingku dan aku baru menyadarinya sekarang karena sedari tadi mataku lebih banyak terpejam wakau tak dapat tidur. Kereta memang tak berjubel malam ini. Aku iseng bertanya, “Naik dari mana?”
            “Cikampek,” jawabnya pelan. Ya ampun aku tak menyadarinya.
            “Ke Yogya juga?”
            “Iya. Mas, sendiri?”
            “Sama. Kuliah?”
            “Tak lagi. Sedang melamar kerja.”
            “Mending kalau aku jadi perempuan menunggu dilamar saja, kan lebih enak?” Aku menggoda. Dan ia tak menyahut.
            Aku menyesal jadinya. Kenapa yang keluar pertanyaan bodoh yang merendahkan derajat perempuan itu? Beberapa menit kami terdiam. Aku jadi tersiksa menghadapi situasi ini. Bukankah lebih baik jika aku tadi bertanya mengapa melamar kerja di Jakarta. Bukankah Yogya kota yang nyaman untuk bekerja sekaligus bisa melanjutkan kuliah? Lagi, bukankah pertanyaan mengapa membuat orang harus menjawab dengan uraian sehingga ia banyak mengeluarkan kata-kata dan terus menjadi perdebatan. Tidak berhenti senyap seperti ini.
            “Kenapa memilih naik kereta ekonomi? Bukankah tak aman?” Aku beranikan lagi memulai daripada diam membeku sampai Yogyakarta.
            “Kamu sendiri kenapa?” Ai ya, ia justru balik bertanya. Aku jawab sekenanya.
            “Hari seperti ib\ni biasanya sepi. Daripada naik bisnis lebih baik naik ekonomi, toh pelayanan bisnis sekarang hampir tak jauh beda dari kereta ekonomi?”
            “Iya. Sama. Barangkali yang beda cuma…” Ia tak melanjutkan.
            “Cuma apa?”
            Ia tersenyum tipis sehingga tambah manis.
            “Cuma banyak membawa kematian.”
            Aku terkejut perempuan ini punya keberanian mengatakan seperti itu. Bercanda dengan maut di tengah perjalanan hampir dikatakan sebagai tindakan yang sembrono dalam kebudayaan Jawa. Tapi aku tak mau kalah. “Memang lebih baik mati daripada hanya membuat kita cacat dan menjadi beban orang lain.” Lagi, ia tersenyum tipis tanpa menoleh kepadaku.
            “Sudah banyak kereta ekonomi yang menyengsarakan rakyat akhir-akhir ini,” katanya yakin. “Padahal seharusnya dengan penumpang yang selalu berjubel pemerintah bisa menaikkan kualitas mesin kereta api termasuk pelayanannya,” tambahnya. Aku mengangguk-angguk membenarkan.
            “Korupsi. Itulah awal mula dari bencana. Jawatan kereta api juga tak luput dari korupsi. Nyawa manusia pun dianggap murah dengan tindakan tak memperbarui dan merawat secara maksimal mesin-mesin kereta api yang sudah kuno ini.” Ia memandangku. Dan memang cantik.
            “Tentu. Ini tak bisa dilepaskan dari kebijakan ekonomi-politik yang dianut dan dijalankan pemerintah,” balasku. Dan ia pun mengangguk membenarkan. Tapi tak segera keluar juga kata-kata dari mulutnya.
            Perempuan disampingku ini kupikir-pikir luar biasa. Ia tampak tak mengenal takut dan cerdas. Mungkin selama mahasiswa ia aktif dalam kegiatan politik atau setidaknya kegiatan politik di kampus. Tapi sekarang sedang melamar kerja? Tak mungkin. Ia bisa berbohong kepadaku atau barangkali ia wartawati yang suka mencari suasana lain karena sudah sering naik kereta eksekutif atau bisa juga ia sedang membikin tulisan-tulisan tentang kecelakaan kereta api yang banyak membawa kematian rakyat ini dan naik kereta api ekonomi ini hanyalah jalan untuk mempertajam reportasenya saja. Tapi aku tak ingin tahu.
            “Kita sudah naik kereta yang bisa membawa celaka ini bahkan sampai pada kematian. Kalau itu terjadi, apa yang kamu inginkan?”
            Aku langsung menyahut pantun gaul, “Edi Sud Rahmat Kartolo.”
            “Maksud lo?” dan kami tertawa ngakak bareng. Menyenangkan sekali bertemu dengan perempuan seperti ini apalagi di kereta ekonomi; membuat perjalanan jadi tak nelangsa. Masih dalam sisa-sisa tawanya ia menjawab:
            “Mungkin tak ada yang aku inginkan dan aku tak berpikir itu akan terjadi.” Ia terdiam mengambil nafas.“Dan toh bila itu terjadi, aku ingin terbang bersama malaikat ke surga.” Ia tersenyum.
            “Kamu sendiri?”
            “Aku? Aku ingin menikah denganmu dan mencium bibirmu,” jawabku pelan sambil memandang matanya yang tampak tak percaya pada kata-kataku.
            “Baik. Kamu orang suka pada kebetulan ya?” Ia bertanya untuk menguasai diri.
            “Kadang-kadang. Dalam hidup selalu ada kebetulan dalam arti lain kecelakaan dan kita harus percaya kepadanya ketika ilmu pengetahuan tak sanggup memastikannya atau belum sanggup membuatnya menjadi pasti, termasuk dalam hal cinta. Kenapa?”
            “Kamu bahkan belum mengenal namaku?”
            “Tinggal berkenalan kan kita?” aku mengajukan tanganku untuk bersalaman. Tangan kanannya pun menyambut.
            “Gita.”
            “Nyali.”
            Kereta yang membawaku pulang malam ini melaju menderu. Terseok-seok melintasi bukit-bukit. Mengaduh-aduh seperti kuda-kuda yang hanya berlari bila dicambuk cemeti berduri. Sudah hampir delapan jam meninggalkan Jakarta. Jeritnya membelah bukit-bukit. Ketika memasuki lorong gelap, jeritannya semakin keras menyayat seperti suara anak-anak manusia yang terluka. Aku pun mendengar jeritan-jeritan terluka itu semakin dekat di telingaku. Lorong gelap itu semakin tampak tak berujung dan tak berakhir. Jeritan-jeritan pun semakin menjauh. Menjauh. Menjauh.
***
“Ibu, inilah anak lelakimu. Pulang membawa istri pilihan, menantu yang ibu nanti-nantikan. Ibu tak akan kecewa.” Aku melihat wajah Ibu tersenyum, semakin tua dengan rambut panjangnya yang semakin memutih.


Jakarta, 20 Februari 2007

Selasa, 27 Agustus 2013

Melati Bangsa

Bentrok masih saja terjadi dimana-mana. Katanya, Indonesia sudah merdeka, tak lagi mau dijajah. Tetapi, tentara Jepang dan Belanda masih saja datang untuk kembali menghasut pemerintahan negara cincin api ini.
            Tahun 1945 masih bertengger di kalender tahunan. Kabar berita dari berbagai koran dan radio berucap bahwa kemerdekaan Indonesia pasti sanggup dipertahankan. Bahkan, berbagai pertempuran terjadi di berbagai daerah di negeri ini. Di Ambarawa, di Bandung, di Yogyakarta, di Surabaya, dan di seluruh daerah di Indonesia, semua demi satu tujuan; Merdeka.
            Senja mulai tiba. Kumasukkan koran ke dalam kolong meja. Kedua mata yang menghias wajahku ini memandang ke langit jingga yang mulai tampak teduh. Suara radio yang keras mengalunkan lagu-lagu keroncong tanpa biduan. Sesekali, berita tentang terjadinya bentrok di suatu tempat diumumkan. Terakhir kudengar, berita tentang Brigjen Mallaby berkumandang. Rakyat Surabaya makin bersemangat untuk merebut kekuasaan pemerintahan atas wilayahnya.
            Mataku beralih kepada sang empunya kedaulatan negara, merah-putih yang terjahit dari kain-kain bekas yang sedang melambai-lambai di halaman rumah tetangga. Betapa agungnya bendera kemerdekaan ibu pertiwi ini.
            Pikiran dan pandanganku kembali beralih. Kini, beralih kepada sepucuk surat yang sedari tadi berada di jarik baju kebayaku. Aku tersenyum memandang nama yang tertera di kertas pembungkus surat itu.
            Pramono, Surabaya, November 1945.
            Senyumku makin mengembang. Kerinduan dalam hatiku semakin mengembang, teringat pada seorang kekasih di medan perang yang sedang merebut kemerdekaan. Aku membuka pembungkus surat bergambar melati putih itu.
            Untuk Riyanti,
            Mas akan pulang sebagai pejuang.
            Mas akan pulang dengan sirat wajah penuh dengan kebahagiaan.
            Kemerdekaan akan diraih sebentar lagi
            Bukan hanya sekedar penyampaian proklamasi bulan Agustus kemarin
            Mas sudah rindu kepada Riyanti, mas sudah tak tahan bertemu dengan Riyanti
            Surabaya memanans, semoga kau baik saja di Jogja
            Terus sembahyang, dik. Mas pasti pulang.
            Aku tersenyum. Cinta dan rindu bergelora jadi satu menghasilkan candu. Kulirik kebaya yang aku pakai. Bermotif melati putih, salah satu kebaya kesayangan pemberian Mas Pram sebelum ia berangkat ke Surabaya untuk raih kemerdekaan.
            Pikiran berkhayal, melemparkan diri ke dalam nostalgia. Aku rasakan hawa penuh katresnan, kemudian melambungkan pandangan kepada tanaman melati putih yang telah berbunga dan menghasilkan bau yang semerbak harumnya. Melati, lambang bahwa Mas Pram selalu ada di sisi, di sisi seorang Riyanti yang setia menanti sang kekasih.
            Kebahagiaan selalu ada kala aku berdiri dan melakukan segalanya bersama Mas Pram. Pria yang umurnya tak jauh dari aku tersebut meninggalkan berbagai kenangan yang membekas dalam penggalih rena ini.
            Aku beranjak dari tempat dudukku. Kuhampiri tanaman melati yang ada di teras rumahku. Kupetik satu kembangnya. Kuselipkan di dalam rambutku yang tergelung sempurna. Ini yang selalu Mas Pram lakukan bersamaku, pecinta bunga melati itu selalu tersenyum ketika menyelipkan bunga melati putih disela-sela rambutku. Dia bilang, aku tampak cantik.
            Melati putih adalah lambang kesucian beserta kebahagiaan. Mas Pram yang empunya pecinta bunga melati mengatakan, dimana ada melati disitu ada kebahagiaan.
***
Satu pesan lagi di pagi berikutnya. Sepeda onthel berpenumpang seorang tukang pos desa itu jadi keranjingan menuju ke rumahku untuk mengantarkan surat sejak Mas Pram pergi ke Surabaya.
            Pramono, Surabaya, November 1945.
            Untuk Riyanti,
            Dik, masihkan menunggu Mas?
            Masihkah sabar?
            Kau tetap sembahyang kan untuk kekasihmu ini?
            Tentara Inggris semakin kuat, korban mulai berjatuhan.
            Senjata Inggris lebih kuat, sementara Indonesia hanyalah bermodal raga.
            Namun apalah arti raga dibanding kemerdekaan?
            Mas tetap akan berjuang demi negeri ini.
            Tak kuat rasanya lihat ibu pertiwi selalu menangis terjajah oleh negeri tetangga.
            Tunggulah aku, dik. Aku pasti pulang.
            Aku tersenyum kemudian memeluk surat itu dalam dekapan hangat penuh rasa sayang. Kerinduan tak dapat lagi ditahan, tapi beginilah nasib sang kekasih pejuang. Aku memandang keluar jendela. Bunga melati putih tampak makin mekar. Baunya lebih semerbak dari kemarin, Mas Pram bilang kalau bunganya makin semerbak berarti kebahagiaan juga makin mekar. Aku tersenyum.
***
Hingga setelah sebulan lamanya, sepeda onthel berpenumpang tukang pos desa itu tak datang lagi tuk sampaikan surat dari Surabaya. Bukan jarang lagi, tapi tak pernah.
            Padahal, berita di koran serta radio mengatakan bahwa keadaan Surabaya hampir stabil. Inggris berhasil di depak minggir. Namun, Mas Pram tak berbagi kebahagiaan. Ia juga tak kunjung pulang.
Aku selalu menunggu di depan rumah sambil memandangi bunga melati yang makin lama makin semerbak harumnya. Wanginya tidak biasa, sangat wangi. Mungkin memang Surabaya sudah berbahagia, dan Mas Pram terhanyut di dalamnya tanpa ingat lagi kepada sang kekasih yang menanti di Jogja sendirian.
***
Esok hari aku kembali menanti. Aku duduk di teras rumah. Hal ini yang selalu aku lakukan selama berjam-jam setiap hari dengan harapan Mas Pram muncul dari balik pagar dengan senyum bahagianya dan bersorak bahwa Indonesia berhasil mempertahankan kemerdekaan.
            Tapi, dia tak pernah datang.
Hingga esok pagi, esoknya lagi, esoknya lagi, hingga sebulan kembali berlalu.
***
Pada akhirnya, yang kutunggu akhirnya tiba. Sepeda onthel berpenumpang tukang pos desa itu datang lagi. Mataku berbinar, berharap adanya kabar dari Mas Pram bahwa ia sudah pulang dan minta dijemput di Tugu.
            Aku sudah bersiap-siap mengambil sepeda onthel di dalam rumah, tetapi ketika membaca isi surat di dalamnya, hatiku terasa sesak.
            Surat itu tebal, namun bukanlah surat dari Mas Pram yang menceritakan keberhasilannya mempertahankan kemerdekaan bersama tentara Indonesia yang lain. Bukan. Sama sekali bukan.
            Surat itu berisi soal daftar korban hilang dan meninggal dalam medan perang. Jantungku berdegup, doa semoga Mas Pram masuk dalam korban menghilang asalkan raganya selamat kuucapkan ribuan kali di dalam hati. Tetapi nama itu tak ada.
            Nama Pramono jelas-jelas tertulis dalam daftar korban meninggal.
            Seketika, lututku kehilangan tenaga dan kekuatan untuk menopang tubuhku. Aku menjatuhkan diri di tanah. Tangisan mengucur deras dari kedua mataku. Bibirku menjerit dan meronta, meminta kepada Tuhan bahwa hari ini adalah sebuah mimpi.
            Kupandangi tanaman melati di teras rumahku. Semerbak harumnya mulai meredup. Padahal, beberapa menit yang lalu sebelum aku menerima surat yang tergenggam dalam tanganku sekarang, semerbak harum ratusan melati itu masih berlebihan.
            Aku sadar, bunga melati itu mencoba menyampaikan firasat yang tak akan pernah diketahui realitanya. Kini, kutatap ratusan melati itu dengan pandangan kabur karena tertutup air mata.
***
Melati putih bertaburan di atas makam seorang pejuang, Pramono. Tahun 1945 telah berlalu. Tahun 2000 sudah menyambut. Aku tak lagi ingat berapa umurku, pastilah sudah 60 tahun lebih. Meski begitu, meski semakin tua umurku, meski semakin lumpuh ingatanku, tetapi hatiku tak pernah lupa kepada satu nama; Pramono, seorang kekasih sekaligus pejuang yang telah berbahagia di surga bersama Sang Pencipta…
 Putih
Putih melatiMekar di taman sariSemerbak wangi penjuru bumi
SeriSeri melatiBersemi anggun asriKucipta dalam gubahan hati
Tajuk bak permataSiratan bintang kejora'Kan kupersembahkanBagimu pahlawan bangsa
Putiknya personaRama-rama 'neka warnaKan ku persembahkanBagi Pandu Indonesia

           
           


Sabtu, 24 Agustus 2013

Pria Argolawu

Kemana kamu akan pergi kala malam minggu akhirnya datang lagi? Kemana kekasih membawamu ketika hari yang ditunggu itu akhirnya tiba?
            Mall-kah? Taman-kah? Atau mungkin, toko buku?
            Hal-hal di atas sudah biasa. Berbeda denganku. Berbeda dengan segala malam mingguku. Tahukah kamu kemana kekasihku membawaku?
            Ke Stasiun Purwosari.
            Mungkin terdengar aneh, tapi beginilah nyatanya.
            Galih. Kekasihku bernama Galih. Kini, cowok itu sedang berjalan-jalan di besi tepian rel kereta api sambil merentangkan kedua tangan. Aku tersenyum melihat tingkahnya. Cowok itu layak jadi pemain sirkus.
            Aku menghembuskan nafas panjang. Pemilik hatiku itu memang aneh. Dari sekian juta manusia di dunia, mungkin sebagian kecil adalah pecinta lokomotif alias kereta api. Dan Galih adalah salah satu di antaranya.
            Cowok berusia lima belas tahun itu sangat menyukai kereta api. Kaos yang dipakainya saat ini saja bergambar kereta api. Wallpaper yang menghias kamarnya juga bergambar kereta api. Bahkan, Galih punya tumpukan kaset Thomas and Friend yang bercerita tentang kehidupan persahabatan kereta api.
            Unik. Bagiku, Galih sangat unik.
            Cowok itu meninggalkan berbagai kekocakan apabila kami sedang pergi berdua. Salah satu diantaranya adalah kenangan malam minggu kami beberapa waktu yang lalu.
            Kala itu, aku dan Galih sedang menuju ke sebuah toko buku. Tetapi, mengetahui palang kereta api mengeluarkan bunyi khas-nya dan bergerak turun, Galih segera menepikan motornya dan mematikan mesinnya. Aku mengangkat alis, kupikir ada sesuatu yang terjadi. Ternyata, setelah kereta api lewat, Galih segera menyalakan kembali mesin motornya dan melajukan motor yang kami tumpangi dengan kecepatan yang bisa menghantarkan kamu ke maut saat itu juga.
            Galih berniat mengejar kereta itu. Aku memegangi punggungnya kuat-kuat. Mataku terpejam dan bibirku terkunci rapat-rapat. Jantungku berdegup cepat, belum pernah aku naik kendaraan yang lajunya sekencang ini.
            Tapi ternyata, Galih kurang cepat. Kecepatan laju kendaraannya belum bisa mensejajari kecepatan Argolawu yang sedang melaju. Cowok itu berhenti. Ia merapatkan motornya ke tepi jalan. Kemudian tanpa berkata-kata lagi, Galih turun dari motornya dan  duduk di tepian rel kereta api. Dia galau.
            Lebay sih memang, tetapi aku tetap berjalan menghampirinya. Aku tahu bagaimana perasaan Galih. Akhirnya, malam minggu waktu itu, aku dan Galih tidak jadi ke toko buku. Kami menghabiskan waktu berdua, di tepi rel kereta api yang gelap tanpa penerangan.
***
            “Awas, ada kereta mau lewat!” Galih buru-buru berlari menghampiriku dan menarik tubuhku menjauhi rel kereta api. Pada akhirnya, kami berdiri di dekat rel sambil menunggu kereta lewat.
            Mengetahui bahwa Argolawu-lah yang lewat, Galih langsung bersorak senang. Memang, dari sekian banyak nama kereta api, Argolawu-lah yang Galih pilih sebagai kereta api paling favorit. Aku tak tahu apa penyebabnya.
            Bibirku menyunggingkan senyum ketika memandangi Galih yang terdiam dengan raut wajah gembira ketika Argolawu melintas dihadapan kami. Matanya berbinar, selalu seperti itu tiap ada kereta lewat.
            Begitu Argolawu berlalu, Galih meraih dompet dari dalam saku celananya. Ia meraih satu uang receh lima ratusan. Pria itu sangat antusias. Kembali lagi ia melangkah menuju ke tengah rel kereta api. Diletakkannya uang lima ratus rupiah itu di tengah-tengahnya. Aku mengangkat alis, bingung melihat tingkah Galih.
            Hingga akhirnya ia menghampiri aku lagi dan menyuruhku duduk di tempat semula kami berdiri tadi. Galih menyuruhku menunggu kereta yang lewat. Menit demi menit berlalu, kami berdua duduk berdampingan sambil bercanda untuk menunggu kereta api apalagi yang akan melaju.
            Dan ‘benda’ itu akhirnya datang. Prameks.
            Galih bersorak lagi. Kereta itu sudah dekat. Begitu ia melintas di hadapan kami, sorak senang Galih bertambah keras. Setelah kereta menghilang dari pandangan, ia berjalan mendekati rel kereta lagi. Diraihnya koin yang tadi dilindas kereta.
            Ia menatapku. “Tuh, gepeng kan? Kereta api memang keren!”
            Aku mengangkat alis. “Ya iyalah, orang bodo juga tau kalau koin dilindas kereta api bakal gepeng! Manusia dilindas kereta api aja bisa remuk kok!”
            “Tapi nggak ada kendaraan sehebat kereta api. Mobil segede apapun juga nggak bakalan bisa, coba aja!”
            Sudahlah, aku malas untuk berdebat, apalagi berdebat soal hal kurang penting yaitu kereta api.
            Galih kembali melakukan hal yang sama. Ia meraih lagi dompetnya dan mengeluarkan uang receh lima ratusan kemudian meletakkannya di bagian tengah rel kereta api. Hal itu dilakukannya berulang-ulang, hingga malam menjelang, dan malam minggu hampir usai.
***
            Hingga akhirnya aku mengetahui segala kebohongan pria kereta api itu. Aku mengetahui berbagai kebohongan Galih sekarang. Galih telah mengkhianatiku, ia suka dengan wanita lain. Tidak hanya satu, tapi banyak.
            Hatiku benar-benar hancur mengetahui bahwa selama ini ungkapan perasaan Galih kepadaku hanya omong kosong. Wanita-wanita di belakangnya, meski tidak menjalin hubungan apa-apa dengan Galih selalu saja mengungkapkan kata rindu dan Galih menanggapinya.
            Bahkan, kenyataannya, Galih sering mengajak mereka pergi berdua.
            Aku menangis sejadinya. Pria kereta api itu benar-benar sialan. Kubuang miniatur kereta api Argolawu yang awalnya ingin kujadikan kado ulang tahunnya beberapa waktu lagi. Aku benar-benar remuk. Hancur.
            Aku membenci pria itu. Tetapi, aku masih saja menangis jika mengingat kenangan kami berdua bersama kereta-kereta yang dicintai Galih, bersama film-film Thomas and Friend yang sering kami saksikan berdua, bersama rel kereta api stasiun Purwosari yang menjadi saksi kebersamaan kami.
            Aku benci pria Argolawu itu. Tetapi, masih saja aku terluka kala tak sengaja berhenti dan menunggu kereta lewat ketika palangnya diturunkan di suatu jalan.
            Aku sudah bilang putus, tetapi Galih tak mau. Ia bilang dia sayang padaku, hanya padaku, dan dia tidak mau mengaku tentang wanita-wanita di belakangnya. Omong kosong! Bangsat! Berengsek!
            Waktu demi waktu makin bergulir, namun luka di hati tak kunjung sembuh dan menemukan pengganti. Galih juga begitu, ia masih bertahan untukku, ia masih memaksaku untuk kembali lagi padahal sudah ratusan kali aku menolak.
            Hingga akhirnya aku sadar, aku masih sangat menyayanginya. Bagaimana tidak? Sejak SMP, aku dan Galih sudah memulai hubungan kami, merajut asmara, merajut khayal, menjahit mimpi, dan berusaha untuk terus bertahan.
            Tetapi jika mengingat apa yang Galih perbuat di belakangku, sakit hati selalu menghampiri. Aku tak bisa memaafkan dia, meski hatiku menjerit untuk kembali mengungkapkan rasa sayang kepadanya dan meski ragaku meronta untuk kembali ke dalam pelukannya.
            Aku patah hati, aku terjatuh, luka, tetapi aku masih cinta.
            Pada suatu siang, Galih menghampiri aku yang sedang duduk sendirian di dalam kelas sembari mengerjakan tugas. Teman-temanku sedang makan siang di kantin sementara siswa-siswi yang lain sudah pulang sejak bel akhir pelajaran berdering.
            Aku melirik Galih dengan lirikan sinis. Tetapi, seperti biasa, cowok itu lempeng-lempeng saja. Ia duduk di sampingku kemudian menggenggam tanganku. Buru-buru, aku langsung menariknya. Aku sok najis, padahal aku merindukan saat-saat seperti ini.
            “Kok belum pulang?” tanyanya sok perhatian.
            Aku langsung menjawab dengan nada ketus, “Nggak liat ya tugas numpuk di hadapan mata?”
            Galih tersenyum. “Mau dibantuin?”
            “Nggak! Nggak usah, nggak sudi juga.”
            Galih menghembuskan nafas panjang, sambil mengalihkan pandangan kepada objek yang lain.
            “Masih belum bisa maafin aku ya?” tanyanya.
            Aku memilih diam, tidak menjawab dan tidak berniat untuk menjawab.
            “Sa?”
            Aku tetap terdiam, pura-pura konsentrasi pada tugasku.
            “Sa?”
            Aku diam.
            “Rissa!”
            “Apa sih?”
            Galih menatapku. Entah itu hanya perasaanku atau memang kenyataan, sorot matanya menunjukan rasa bersalah yang amat dalam. Diam-diam, aku langsung terhanyut. Sialan, cowok di sampingku itu memang bisa membuatku luluh.
            “Kamu masih belum bisa maafin aku, ya?” tanyanya lagi.
            Aku terdiam, memikirkan jawaban. Hatiku rasanya ingin meledak, mengutarakan segala yang ada tetapi bibirku membisu.
            “Kalau gitu, aku pergi deh. Rasanya, memang kamu pengen kita putus,” Galih tersenyum nanar. “Aku udah siap kalau kita putus.”
            Aku membisu. Galih beranjak dari bangku di sampingku dan mulai melangkah pergi. Tetapi, tanpa sadar, bibirku memanggilnya, membuat cowok itu menghentikan langkah.
            Aku berlari menghampirinya, kemudian menelan ludah ketika berdiri di hadapannya.
            “Gimana bisa aku maafin kamu? Apa pantas kamu di maafin?” Aku memukul dadanya.
            Galih terdiam, tidak mau menanggapi.
            “Pengecut kamu! Pengecut. Aku udah sayang sama kamu, aku udah berusaha bertahan, tapi apa yang kamu lakuin buat aku?”
            Galih tetap terdiam.      
            “Aku udah berjuang. Aku sakit, disini, di dalam sini. Sakit, Gal, sakit. Itu yang nggak bisa bikin aku maafin kamu.”
            Galih masih bisu.
            “Kamu tega lihat aku kayak gini? Bahkan sepuluh tahun lagi, dua puluh tahun lagi, aku nggak bisa berhenti sayang sama kamu. Tapi rasa sakit ini yang bikin aku benci sama kamu.”
            Galih memelukku. Aku menangis. Pertama kali dalam sejarah hubungan kami, rasa pelukannya sangat dewasa; menenangkan dan melindungi. Seakan pria itu tak mau melepaskan aku lagi, seolah pria itu ingin aku berada terus di sisinya.
            “Kenapa, Gal? Kenapa kamu lakuin itu?”
            Pelukan Galih makin erat. “Maaf,” bisiknya di telingaku.
            Kami terdiam. Galih terdiam, aku bungkam. Tak ada kata lagi yang keluar selain isak tangisku yang terdengar.
            Galih membelai rambutku dengan lembut.
            “Aku sayang sama kamu, cuma sama kamu.”
            “Omong kosong!”
            “Kamu nggak tahu.”
            “Tahu apa?”
            Galih melepaskan aku dari dalam pelukannya, kemudian menatap aku dengan tatapan dalam.
            “Kereta datang silih berganti, tetapi kereta melaju hanya dalam satu jalan; rel kereta api.”
            Aku mengangkat alis.
            “Wanita datang silih berganti, tetapi kamu tetap yang ada di hati. Aku bagaikan kereta api, memandang yang lain, menanggapi rindu kepada yang lain, tetapi sebenarnya, aku berjalan dalam satu hati; hatimu. Aku berjalan hanya dalam satu jalan; cinta. Aku nggak bisa sama yang lain, meski rindu buat yang lain, meski ungkapan aku sampaikan kepada yang lain. Tapi aku memilih kamu, dan aku yakin kamu juga memilih aku.”
            Galih kembali memelukku. Senja mulai tiba. Lembayung sebentar lagi muncul dan langit yang membias dari jendela bewarna oranye. Kami berpelukan lama, saling menyakinkan, menguatkan, dan meneguhkan.

            Hingga pada akhirnya, aku memilih untuk kembali.

Aku, Aura dan Arka

Namanya Aura. Dia sahabatku. Seorang sahabat yang cantik, berkharisma, dan penuh dengan pesona. Sahabatku itu punya sejuta keajaiban, dia bisa membuat jutaan pria jatuh cinta padanya meski hanya sedetik terdiam dalam pandangan.
            Banyak yang memuji Aura. Di setiap sudut di berbagai tempat yang pernah kami singgahi, gadis manis itu selalu membuat setiap pria tak mau pergi. Gadis cantik itu menyimpan sebuah ikatan perhatian yang mampu meraih segala tatapan dan pandang.
            Berbeda dengan aku. Aku hanyalah seorang gadis yang bahkan jarang yang mengenali aku. Kulitku tak seputih kulit Aura. Rambutku tak selembut rambut Aura. Pipiku tidak menghasilkan lesung ketika tersenyum, sangat berbeda dengan Aura yang kecantikannya sudah amat sempurna.
            Dan kali ini, aku akan menceritakan kisahku yang…
***
            Lagi. Setiap pagi dibalik tiang koridor. Aku menunggu seseorang. Arka, seorang adik kelas dengan senyum yang biasa tetapi bisa membuatku terhipnotis dengan segala kekaguman yang luar biasa.
            Aura selalu menemani aku. Dia selalu duduk di sampingku. Dengan bawel, dia selalu berkata; ‘Apa sih yang kamu suka dari dia? Dia enggak cakep tau!”
            Dan biasanya aku hanya tertawa kecil ketika mendengar pertanyaan tersebut. Aura tak pernah tahu, sebetapa dalam aku terkagum dan jatuh cinta pada Arka.
            “Itu Arka!” bisik Aura ketika sosok yang kami tunggu akhirnya tiba.
            Arka berjalan dari ujung koridor. Sebuah senyum selalu muncul tanpa sadar di bibirku ketika aku melihatnya. Padahal, Arka tak pernah menyadari akan adanya aku, fisik yang nyata yang diam-diam mengagumi dan jatuh cinta padanya.
            Arka.
            Nama itu selalu terngiang dalam benakku, dalam setiap doaku, dan dalam setiap kedipan mataku.
***
            “Ana! Aku satu ekskul tau sama Arka!” seru Aura di depan pintu kelasku. Aku menghampirinya dengan wajah cemberut. Jelas, aku iri.
            “Sialan. Harusnya aku!”
            Aura tertawa melecehkan. “Pertanda nggak jodoh tuh!”
            Aku langsung uring-uringan sementara Aura tertawa terbahak-bahak sebagai tanggapan.
            Dan sejak saat itulah, kisahku dimulai…
***
            Satu ekskul dengan Arka membuat Aura mengenalnya. Mereka berdua selalu bekerja sama. Tetapi, Aura memang sahabat yang baik. Tak lupa ia mengenalkan aku kepada Arka.
            Sejak saat perkenalan terjadi, Arka jadi sering menyapaku dengan senyumnya ketika tak sengaja berpapasan denganku. Aku sangat bahagia. Akhirnya, raga yang seperti dewa itu menyadari adanya aku, sang pemimpi yang ingin terus bersamanya padahal tak pantas.
            Harapanku melambung tinggi ketika akhirnya Arka mengirimkan sebuah pesan pendek berisi sapaan kepadaku. Hampir setiap malam kami berkirim pesan. Sejak saat itu, aku dan Arka jadi semakin dekat. Pria itu mampu melambungkan aku tinggi-tinggi dan mempertahankan aku agar tetap berada di atas awan.
            Kalau sudah begini, aku makin jatuh cinta pada Arka. Hati ini sudah sangat yakin, Arka adalah calon pemiliknya. Ya, aku telah menyerahkan seluruh rasaku kepada Arka, kepada sang dewa.
            Aura benar-benar seorang sahabat sejati. Gadis itu mendukung hubungan kami yang sebenarnya masih belum resmi. Kalimat-kalimat dukungan dari Aura kepadaku tentang kedekatanku dengan Arka membuatku semakin melambung tinggi. Amat sangat tinggi.
            Rasa jatuh cinta membebaskan aku dari keterpurukan. Dan akhirnya aku sadar, bahwa Arka-lah yang akan menjaga hatiku agar tetap berada di atas awan dan merasa bebas. Aku sangat menyayangi Arka.
***
            Hingga pada suatu hari, aku yang sedang menuruni tangga sendirian dan bertujuan menghampiri Aura yang kelasnya berada di lantai bawah mendengar suara-suara dari gudang bawah tangga.
            Aku curiga. Perlahan-lahan dengan langkah yang sama sekali tak mengeluarkan nada, aku menghampiri sumber suara.
            Ternyata pintu gudang bawah tangga tidak terkunci. Ada sedikit celah yang menyisakan ruang agar aku bisa melihat siapa yang berada di dalam sana.
            Aku langsung mengerutkan kening. Arka dan Aura berada di sana. Berdua. Arka sedang menggenggam pundak Aura sementara Aura sendiri malah menangis. Aku mengangkat alis.
            “Tapi, Ana temanku. Dia sahabatku.”
            Arka menatap Aura dalam-dalam.
            “Aku tau, Ra. Cuma, aku nggak bisa nahan lagi. Aku sayangnya sama kamu, bukan sama Ana.”
            Seketika tubuhku membeku. Arus listrik dengan kekuatan sejuta volt serasa menyengat seluruh tubuhku. Dunia di sekitarku terasa runtuh. Aku tak dapat melihat apa-apa selain melihat Arka yang sedang mengusap air mata Aura dengan lembut.
            “Aku tau kamu juga sayang sama aku. Aku tau, Ra. Kamu nggak usah ngorbanin perasaan kamu.”
            Tangis Aura kembali pecah.
            Arka memeluknya erat, kemudian mengecup kening Aura dengan lembut.
            “Aku sayang sama kamu, Ra.”
            “Tapi, Ka…”
            “Udahlah, katanya Ana sahabat kamu. Harusnya, dia ngerti dong gimana kamu, gimana kebahagiaan kamu, dia pasti paham sama kita berdua kok.”
            “Tapi dia juga sayang sama kamu.”      
            “Aku lebih milih kamu. Aku lebih milih sayang sama kamu.”
            Aura hanya terdiam, tetapi masih menangis. Arka membelai lembut rambutnya dengan cinta. Aku merasa ada sesuatu yang menggores jantungku dengan tusukan yang amat sangat dalam.
            “Kamu mau kan, Ra? Nerima aku jadi pacar kamu? Aku sayang sama kamu, sayang banget.”
            Aura masih saja terdiam dan menangis dalam pelukan Arka.
            “Ra?” panggil Arka sekali lagi.
            Aura melepaskan tubuhnya dari pelukan Arka. Ia menatap pria itu dalam-dalam.
            “Kamu yakin, Ana mau ngerti?”
            “Yakin. Tapi, kamu mau kan nerima aku jadi pacar kamu? Aku tahu kamu sayang sama aku, jadi kamu nggak perlu nolak lagi.”
            Aura tersenyum.
            “Kamu udah tau aku juga sayang banget sama kamu, kenapa kamu masih nanya?”
            Arka tersenyum lucu. Sekali lagi, ia mencium kening Aura dengan lembut.
            Aku terdiam dengan bibir yang masih bisu. Aku tak mampu menahan air mataku, hingga akhirnya pelupuk mata tak sanggup menahan banjir yang berasal dari air mata. Aku menangis tanpa suara.
            “Kalau gitu, kita keluar yuk? Sumpek banget di sini.”
            Aura tersenyum, kemudian mengangguk.
            Melihat mereka mendekat ke pintu, rasanya aku ingin segera menjauh pergi. Tetapi langkahku tak mau beranjak. Aku terpaku di sana, terdiam, hingga akhirnya melihat betapa terkejutnya ekspresi Arka dan Aura yang melihatku berada di depan pintu.
            Aura menelan ludah.
            “Ana?”
            Barulah aku bisa berlari. Aku berlari menjauhi Arka dan Aura dengan sejuta rasa sedih dan hancur yang menyelimuti hatiku. Aku merasa remuk, aku merasa terhina ketika tau bahwa aku telah dibuang dan dihempaskan. Aku menangis di salah satu bilik kamar mandi. Aku menangis sejadinya.
***
            Beberapa bulan kemudian, aku mendengar bahwa Arka dan Aura putus hubungan. Harusnya, aku senang dan bahagia kan? Tetapi, hatiku berkata lain. Aku jadi ikut sedih.
            Pulang sekolah, kuputuskan untuk menghampiri Aura di kelasnya. Ternyata, gadis itu masih berada di sana. Menangis sendirian.
            Aku menghentikan langkah. Harusnya aku senang bukan, melihat orang yang pernah menghancurkan segala perasaanku gantian tersakiti? Tetapi tidak! Aku sahabatnya, aku berlari menghampiri Aura dan kemudian memeluknya erat.
            “Udah, cowok banyak, Ra! Kamu cantik, kamu bisa dengan mudah bikin orang lain sayang sama kamu!” kataku menghibur.
            “Maafin aku, Na! Maafin aku! Aku kena karma!” Aura masih menangis.
            “Enggak, Ra! Enggak! Aku nggak pernah mengharapkan kamu kena karma, aku sahabat kamu, aku selalu doain yang terbaik buat kamu dan Arka.”
            “Aku sayang Arka, Na! Aku sayang Arka!”
            “Kalau kamu sayang, bilang sama orangnya.”
            “Aku nggak enak sama kamu, Na.”
            “Aku nggak apa-apa. Aku udah rela kok.”
            Aura menatapku dengan tatapan memastikan. Aku tersenyum lembut. Kuusap air matanya. Gadis dihadapanku itu, meski habis menangis tetap terlihat manis.
            “Bilang, Ra sama Arka. Bilang yang sejujurnya. Aku rela, aku mau sahabatku bahagia. Aku bakal terus buka pintu persahabatan kita. Karena, sahabat yang baik adalah sahabat yang mau menerima apapun yang telah sahabatnya lakukan.”
            Aura tersenyum. Ia memelukku. Menangis lagi. Kami menangis bersamaan. Akhirnya, rasa tegang di antara kami yang terjadi selama beberapa bulan cair juga melalui sebuah pelukan persahabatan.
***

            Aku melambaikan tangan melihat Aura yang sedang duduk di boncengan motor Arka. Dia tampak sangat bahagia. Aku tersenyum. Akhirnya, mereka memilih untuk kembali; kembali merajut kasih dan melewati segala hal yang akhirnya akan menghasilkan sebuah kenangan indah hingga (semoga) sampai selamanya.