Sabtu, 24 Agustus 2013

Pria Argolawu

Kemana kamu akan pergi kala malam minggu akhirnya datang lagi? Kemana kekasih membawamu ketika hari yang ditunggu itu akhirnya tiba?
            Mall-kah? Taman-kah? Atau mungkin, toko buku?
            Hal-hal di atas sudah biasa. Berbeda denganku. Berbeda dengan segala malam mingguku. Tahukah kamu kemana kekasihku membawaku?
            Ke Stasiun Purwosari.
            Mungkin terdengar aneh, tapi beginilah nyatanya.
            Galih. Kekasihku bernama Galih. Kini, cowok itu sedang berjalan-jalan di besi tepian rel kereta api sambil merentangkan kedua tangan. Aku tersenyum melihat tingkahnya. Cowok itu layak jadi pemain sirkus.
            Aku menghembuskan nafas panjang. Pemilik hatiku itu memang aneh. Dari sekian juta manusia di dunia, mungkin sebagian kecil adalah pecinta lokomotif alias kereta api. Dan Galih adalah salah satu di antaranya.
            Cowok berusia lima belas tahun itu sangat menyukai kereta api. Kaos yang dipakainya saat ini saja bergambar kereta api. Wallpaper yang menghias kamarnya juga bergambar kereta api. Bahkan, Galih punya tumpukan kaset Thomas and Friend yang bercerita tentang kehidupan persahabatan kereta api.
            Unik. Bagiku, Galih sangat unik.
            Cowok itu meninggalkan berbagai kekocakan apabila kami sedang pergi berdua. Salah satu diantaranya adalah kenangan malam minggu kami beberapa waktu yang lalu.
            Kala itu, aku dan Galih sedang menuju ke sebuah toko buku. Tetapi, mengetahui palang kereta api mengeluarkan bunyi khas-nya dan bergerak turun, Galih segera menepikan motornya dan mematikan mesinnya. Aku mengangkat alis, kupikir ada sesuatu yang terjadi. Ternyata, setelah kereta api lewat, Galih segera menyalakan kembali mesin motornya dan melajukan motor yang kami tumpangi dengan kecepatan yang bisa menghantarkan kamu ke maut saat itu juga.
            Galih berniat mengejar kereta itu. Aku memegangi punggungnya kuat-kuat. Mataku terpejam dan bibirku terkunci rapat-rapat. Jantungku berdegup cepat, belum pernah aku naik kendaraan yang lajunya sekencang ini.
            Tapi ternyata, Galih kurang cepat. Kecepatan laju kendaraannya belum bisa mensejajari kecepatan Argolawu yang sedang melaju. Cowok itu berhenti. Ia merapatkan motornya ke tepi jalan. Kemudian tanpa berkata-kata lagi, Galih turun dari motornya dan  duduk di tepian rel kereta api. Dia galau.
            Lebay sih memang, tetapi aku tetap berjalan menghampirinya. Aku tahu bagaimana perasaan Galih. Akhirnya, malam minggu waktu itu, aku dan Galih tidak jadi ke toko buku. Kami menghabiskan waktu berdua, di tepi rel kereta api yang gelap tanpa penerangan.
***
            “Awas, ada kereta mau lewat!” Galih buru-buru berlari menghampiriku dan menarik tubuhku menjauhi rel kereta api. Pada akhirnya, kami berdiri di dekat rel sambil menunggu kereta lewat.
            Mengetahui bahwa Argolawu-lah yang lewat, Galih langsung bersorak senang. Memang, dari sekian banyak nama kereta api, Argolawu-lah yang Galih pilih sebagai kereta api paling favorit. Aku tak tahu apa penyebabnya.
            Bibirku menyunggingkan senyum ketika memandangi Galih yang terdiam dengan raut wajah gembira ketika Argolawu melintas dihadapan kami. Matanya berbinar, selalu seperti itu tiap ada kereta lewat.
            Begitu Argolawu berlalu, Galih meraih dompet dari dalam saku celananya. Ia meraih satu uang receh lima ratusan. Pria itu sangat antusias. Kembali lagi ia melangkah menuju ke tengah rel kereta api. Diletakkannya uang lima ratus rupiah itu di tengah-tengahnya. Aku mengangkat alis, bingung melihat tingkah Galih.
            Hingga akhirnya ia menghampiri aku lagi dan menyuruhku duduk di tempat semula kami berdiri tadi. Galih menyuruhku menunggu kereta yang lewat. Menit demi menit berlalu, kami berdua duduk berdampingan sambil bercanda untuk menunggu kereta api apalagi yang akan melaju.
            Dan ‘benda’ itu akhirnya datang. Prameks.
            Galih bersorak lagi. Kereta itu sudah dekat. Begitu ia melintas di hadapan kami, sorak senang Galih bertambah keras. Setelah kereta menghilang dari pandangan, ia berjalan mendekati rel kereta lagi. Diraihnya koin yang tadi dilindas kereta.
            Ia menatapku. “Tuh, gepeng kan? Kereta api memang keren!”
            Aku mengangkat alis. “Ya iyalah, orang bodo juga tau kalau koin dilindas kereta api bakal gepeng! Manusia dilindas kereta api aja bisa remuk kok!”
            “Tapi nggak ada kendaraan sehebat kereta api. Mobil segede apapun juga nggak bakalan bisa, coba aja!”
            Sudahlah, aku malas untuk berdebat, apalagi berdebat soal hal kurang penting yaitu kereta api.
            Galih kembali melakukan hal yang sama. Ia meraih lagi dompetnya dan mengeluarkan uang receh lima ratusan kemudian meletakkannya di bagian tengah rel kereta api. Hal itu dilakukannya berulang-ulang, hingga malam menjelang, dan malam minggu hampir usai.
***
            Hingga akhirnya aku mengetahui segala kebohongan pria kereta api itu. Aku mengetahui berbagai kebohongan Galih sekarang. Galih telah mengkhianatiku, ia suka dengan wanita lain. Tidak hanya satu, tapi banyak.
            Hatiku benar-benar hancur mengetahui bahwa selama ini ungkapan perasaan Galih kepadaku hanya omong kosong. Wanita-wanita di belakangnya, meski tidak menjalin hubungan apa-apa dengan Galih selalu saja mengungkapkan kata rindu dan Galih menanggapinya.
            Bahkan, kenyataannya, Galih sering mengajak mereka pergi berdua.
            Aku menangis sejadinya. Pria kereta api itu benar-benar sialan. Kubuang miniatur kereta api Argolawu yang awalnya ingin kujadikan kado ulang tahunnya beberapa waktu lagi. Aku benar-benar remuk. Hancur.
            Aku membenci pria itu. Tetapi, aku masih saja menangis jika mengingat kenangan kami berdua bersama kereta-kereta yang dicintai Galih, bersama film-film Thomas and Friend yang sering kami saksikan berdua, bersama rel kereta api stasiun Purwosari yang menjadi saksi kebersamaan kami.
            Aku benci pria Argolawu itu. Tetapi, masih saja aku terluka kala tak sengaja berhenti dan menunggu kereta lewat ketika palangnya diturunkan di suatu jalan.
            Aku sudah bilang putus, tetapi Galih tak mau. Ia bilang dia sayang padaku, hanya padaku, dan dia tidak mau mengaku tentang wanita-wanita di belakangnya. Omong kosong! Bangsat! Berengsek!
            Waktu demi waktu makin bergulir, namun luka di hati tak kunjung sembuh dan menemukan pengganti. Galih juga begitu, ia masih bertahan untukku, ia masih memaksaku untuk kembali lagi padahal sudah ratusan kali aku menolak.
            Hingga akhirnya aku sadar, aku masih sangat menyayanginya. Bagaimana tidak? Sejak SMP, aku dan Galih sudah memulai hubungan kami, merajut asmara, merajut khayal, menjahit mimpi, dan berusaha untuk terus bertahan.
            Tetapi jika mengingat apa yang Galih perbuat di belakangku, sakit hati selalu menghampiri. Aku tak bisa memaafkan dia, meski hatiku menjerit untuk kembali mengungkapkan rasa sayang kepadanya dan meski ragaku meronta untuk kembali ke dalam pelukannya.
            Aku patah hati, aku terjatuh, luka, tetapi aku masih cinta.
            Pada suatu siang, Galih menghampiri aku yang sedang duduk sendirian di dalam kelas sembari mengerjakan tugas. Teman-temanku sedang makan siang di kantin sementara siswa-siswi yang lain sudah pulang sejak bel akhir pelajaran berdering.
            Aku melirik Galih dengan lirikan sinis. Tetapi, seperti biasa, cowok itu lempeng-lempeng saja. Ia duduk di sampingku kemudian menggenggam tanganku. Buru-buru, aku langsung menariknya. Aku sok najis, padahal aku merindukan saat-saat seperti ini.
            “Kok belum pulang?” tanyanya sok perhatian.
            Aku langsung menjawab dengan nada ketus, “Nggak liat ya tugas numpuk di hadapan mata?”
            Galih tersenyum. “Mau dibantuin?”
            “Nggak! Nggak usah, nggak sudi juga.”
            Galih menghembuskan nafas panjang, sambil mengalihkan pandangan kepada objek yang lain.
            “Masih belum bisa maafin aku ya?” tanyanya.
            Aku memilih diam, tidak menjawab dan tidak berniat untuk menjawab.
            “Sa?”
            Aku tetap terdiam, pura-pura konsentrasi pada tugasku.
            “Sa?”
            Aku diam.
            “Rissa!”
            “Apa sih?”
            Galih menatapku. Entah itu hanya perasaanku atau memang kenyataan, sorot matanya menunjukan rasa bersalah yang amat dalam. Diam-diam, aku langsung terhanyut. Sialan, cowok di sampingku itu memang bisa membuatku luluh.
            “Kamu masih belum bisa maafin aku, ya?” tanyanya lagi.
            Aku terdiam, memikirkan jawaban. Hatiku rasanya ingin meledak, mengutarakan segala yang ada tetapi bibirku membisu.
            “Kalau gitu, aku pergi deh. Rasanya, memang kamu pengen kita putus,” Galih tersenyum nanar. “Aku udah siap kalau kita putus.”
            Aku membisu. Galih beranjak dari bangku di sampingku dan mulai melangkah pergi. Tetapi, tanpa sadar, bibirku memanggilnya, membuat cowok itu menghentikan langkah.
            Aku berlari menghampirinya, kemudian menelan ludah ketika berdiri di hadapannya.
            “Gimana bisa aku maafin kamu? Apa pantas kamu di maafin?” Aku memukul dadanya.
            Galih terdiam, tidak mau menanggapi.
            “Pengecut kamu! Pengecut. Aku udah sayang sama kamu, aku udah berusaha bertahan, tapi apa yang kamu lakuin buat aku?”
            Galih tetap terdiam.      
            “Aku udah berjuang. Aku sakit, disini, di dalam sini. Sakit, Gal, sakit. Itu yang nggak bisa bikin aku maafin kamu.”
            Galih masih bisu.
            “Kamu tega lihat aku kayak gini? Bahkan sepuluh tahun lagi, dua puluh tahun lagi, aku nggak bisa berhenti sayang sama kamu. Tapi rasa sakit ini yang bikin aku benci sama kamu.”
            Galih memelukku. Aku menangis. Pertama kali dalam sejarah hubungan kami, rasa pelukannya sangat dewasa; menenangkan dan melindungi. Seakan pria itu tak mau melepaskan aku lagi, seolah pria itu ingin aku berada terus di sisinya.
            “Kenapa, Gal? Kenapa kamu lakuin itu?”
            Pelukan Galih makin erat. “Maaf,” bisiknya di telingaku.
            Kami terdiam. Galih terdiam, aku bungkam. Tak ada kata lagi yang keluar selain isak tangisku yang terdengar.
            Galih membelai rambutku dengan lembut.
            “Aku sayang sama kamu, cuma sama kamu.”
            “Omong kosong!”
            “Kamu nggak tahu.”
            “Tahu apa?”
            Galih melepaskan aku dari dalam pelukannya, kemudian menatap aku dengan tatapan dalam.
            “Kereta datang silih berganti, tetapi kereta melaju hanya dalam satu jalan; rel kereta api.”
            Aku mengangkat alis.
            “Wanita datang silih berganti, tetapi kamu tetap yang ada di hati. Aku bagaikan kereta api, memandang yang lain, menanggapi rindu kepada yang lain, tetapi sebenarnya, aku berjalan dalam satu hati; hatimu. Aku berjalan hanya dalam satu jalan; cinta. Aku nggak bisa sama yang lain, meski rindu buat yang lain, meski ungkapan aku sampaikan kepada yang lain. Tapi aku memilih kamu, dan aku yakin kamu juga memilih aku.”
            Galih kembali memelukku. Senja mulai tiba. Lembayung sebentar lagi muncul dan langit yang membias dari jendela bewarna oranye. Kami berpelukan lama, saling menyakinkan, menguatkan, dan meneguhkan.

            Hingga pada akhirnya, aku memilih untuk kembali.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar