Kemana kamu akan pergi kala malam
minggu akhirnya datang lagi? Kemana kekasih membawamu ketika hari yang ditunggu
itu akhirnya tiba?
Mall-kah?
Taman-kah? Atau mungkin, toko buku?
Hal-hal
di atas sudah biasa. Berbeda denganku. Berbeda dengan segala malam mingguku.
Tahukah kamu kemana kekasihku membawaku?
Ke
Stasiun Purwosari.
Mungkin
terdengar aneh, tapi beginilah nyatanya.
Galih.
Kekasihku bernama Galih. Kini, cowok itu sedang berjalan-jalan di besi tepian
rel kereta api sambil merentangkan kedua tangan. Aku tersenyum melihat
tingkahnya. Cowok itu layak jadi pemain sirkus.
Aku
menghembuskan nafas panjang. Pemilik hatiku itu memang aneh. Dari sekian juta
manusia di dunia, mungkin sebagian kecil adalah pecinta lokomotif alias kereta
api. Dan Galih adalah salah satu di antaranya.
Cowok
berusia lima
belas tahun itu sangat menyukai kereta api. Kaos yang dipakainya saat ini saja
bergambar kereta api. Wallpaper yang
menghias kamarnya juga bergambar kereta api. Bahkan, Galih punya tumpukan kaset
Thomas and Friend yang bercerita tentang kehidupan persahabatan kereta api.
Unik.
Bagiku, Galih sangat unik.
Cowok
itu meninggalkan berbagai kekocakan apabila kami sedang pergi berdua. Salah
satu diantaranya adalah kenangan malam minggu kami beberapa waktu yang lalu.
Kala
itu, aku dan Galih sedang menuju ke sebuah toko buku. Tetapi, mengetahui palang
kereta api mengeluarkan bunyi khas-nya dan bergerak turun, Galih segera
menepikan motornya dan mematikan mesinnya. Aku mengangkat alis, kupikir ada
sesuatu yang terjadi. Ternyata, setelah kereta api lewat, Galih segera
menyalakan kembali mesin motornya dan melajukan motor yang kami tumpangi dengan
kecepatan yang bisa menghantarkan kamu ke maut saat itu juga.
Galih
berniat mengejar kereta itu. Aku memegangi punggungnya kuat-kuat. Mataku
terpejam dan bibirku terkunci rapat-rapat. Jantungku berdegup cepat, belum
pernah aku naik kendaraan yang lajunya sekencang ini.
Tapi
ternyata, Galih kurang cepat. Kecepatan laju kendaraannya belum bisa
mensejajari kecepatan Argolawu yang sedang melaju. Cowok itu berhenti. Ia
merapatkan motornya ke tepi jalan. Kemudian tanpa berkata-kata lagi, Galih
turun dari motornya dan duduk di tepian
rel kereta api. Dia galau.
Lebay
sih memang, tetapi aku tetap berjalan menghampirinya. Aku tahu bagaimana
perasaan Galih. Akhirnya, malam minggu waktu itu, aku dan Galih tidak jadi ke
toko buku. Kami menghabiskan waktu berdua, di tepi rel kereta api yang gelap
tanpa penerangan.
***
“Awas,
ada kereta mau lewat!” Galih buru-buru berlari menghampiriku dan menarik
tubuhku menjauhi rel kereta api. Pada akhirnya, kami berdiri di dekat rel
sambil menunggu kereta lewat.
Mengetahui
bahwa Argolawu-lah yang lewat, Galih langsung bersorak senang. Memang, dari
sekian banyak nama kereta api, Argolawu-lah yang Galih pilih sebagai kereta api
paling favorit. Aku tak tahu apa penyebabnya.
Bibirku
menyunggingkan senyum ketika memandangi Galih yang terdiam dengan raut wajah
gembira ketika Argolawu melintas dihadapan kami. Matanya berbinar, selalu
seperti itu tiap ada kereta lewat.
Begitu
Argolawu berlalu, Galih meraih dompet dari dalam saku celananya. Ia meraih satu
uang receh lima
ratusan. Pria itu sangat antusias. Kembali lagi ia melangkah menuju ke tengah
rel kereta api. Diletakkannya uang lima
ratus rupiah itu di tengah-tengahnya. Aku mengangkat alis, bingung melihat
tingkah Galih.
Hingga
akhirnya ia menghampiri aku lagi dan menyuruhku duduk di tempat semula kami
berdiri tadi. Galih menyuruhku menunggu kereta yang lewat. Menit demi menit
berlalu, kami berdua duduk berdampingan sambil bercanda untuk menunggu kereta
api apalagi yang akan melaju.
Dan
‘benda’ itu akhirnya datang. Prameks.
Galih
bersorak lagi. Kereta itu sudah dekat. Begitu ia melintas di hadapan kami,
sorak senang Galih bertambah keras. Setelah kereta menghilang dari pandangan,
ia berjalan mendekati rel kereta lagi. Diraihnya koin yang tadi dilindas
kereta.
Ia
menatapku. “Tuh, gepeng kan ?
Kereta api memang keren!”
Aku
mengangkat alis. “Ya iyalah, orang bodo juga tau kalau koin dilindas kereta api
bakal gepeng! Manusia dilindas kereta api aja bisa remuk kok!”
“Tapi
nggak ada kendaraan sehebat kereta api. Mobil segede apapun juga nggak bakalan
bisa, coba aja!”
Sudahlah,
aku malas untuk berdebat, apalagi berdebat soal hal kurang penting yaitu kereta
api.
Galih
kembali melakukan hal yang sama. Ia meraih lagi dompetnya dan mengeluarkan uang
receh lima
ratusan kemudian meletakkannya di bagian tengah rel kereta api. Hal itu
dilakukannya berulang-ulang, hingga malam menjelang, dan malam minggu hampir
usai.
***
Hingga
akhirnya aku mengetahui segala kebohongan pria kereta api itu. Aku mengetahui
berbagai kebohongan Galih sekarang. Galih telah mengkhianatiku, ia suka dengan
wanita lain. Tidak hanya satu, tapi banyak.
Hatiku
benar-benar hancur mengetahui bahwa selama ini ungkapan perasaan Galih kepadaku
hanya omong kosong. Wanita-wanita di belakangnya, meski tidak menjalin hubungan
apa-apa dengan Galih selalu saja mengungkapkan kata rindu dan Galih
menanggapinya.
Bahkan,
kenyataannya, Galih sering mengajak mereka pergi berdua.
Aku
menangis sejadinya. Pria kereta api itu benar-benar sialan. Kubuang miniatur
kereta api Argolawu yang awalnya ingin kujadikan kado ulang tahunnya beberapa
waktu lagi. Aku benar-benar remuk. Hancur.
Aku
membenci pria itu. Tetapi, aku masih saja menangis jika mengingat kenangan kami
berdua bersama kereta-kereta yang dicintai Galih, bersama film-film Thomas and
Friend yang sering kami saksikan berdua, bersama rel kereta api stasiun
Purwosari yang menjadi saksi kebersamaan kami.
Aku
benci pria Argolawu itu. Tetapi, masih saja aku terluka kala tak sengaja
berhenti dan menunggu kereta lewat ketika palangnya diturunkan di suatu jalan.
Aku
sudah bilang putus, tetapi Galih tak mau. Ia bilang dia sayang padaku, hanya
padaku, dan dia tidak mau mengaku tentang wanita-wanita di belakangnya. Omong
kosong! Bangsat! Berengsek!
Waktu
demi waktu makin bergulir, namun luka di hati tak kunjung sembuh dan menemukan
pengganti. Galih juga begitu, ia masih bertahan untukku, ia masih memaksaku
untuk kembali lagi padahal sudah ratusan kali aku menolak.
Hingga
akhirnya aku sadar, aku masih sangat menyayanginya. Bagaimana tidak? Sejak SMP,
aku dan Galih sudah memulai hubungan kami, merajut asmara , merajut khayal, menjahit mimpi, dan
berusaha untuk terus bertahan.
Tetapi
jika mengingat apa yang Galih perbuat di belakangku, sakit hati selalu
menghampiri. Aku tak bisa memaafkan dia, meski hatiku menjerit untuk kembali
mengungkapkan rasa sayang kepadanya dan meski ragaku meronta untuk kembali ke
dalam pelukannya.
Aku
patah hati, aku terjatuh, luka, tetapi aku masih cinta.
Pada
suatu siang, Galih menghampiri aku yang sedang duduk sendirian di dalam kelas
sembari mengerjakan tugas. Teman-temanku sedang makan siang di kantin sementara
siswa-siswi yang lain sudah pulang sejak bel akhir pelajaran berdering.
Aku
melirik Galih dengan lirikan sinis. Tetapi, seperti biasa, cowok itu
lempeng-lempeng saja. Ia duduk di sampingku kemudian menggenggam tanganku.
Buru-buru, aku langsung menariknya. Aku sok najis, padahal aku merindukan
saat-saat seperti ini.
“Kok
belum pulang?” tanyanya sok perhatian.
Aku
langsung menjawab dengan nada ketus, “Nggak liat ya tugas numpuk di hadapan
mata?”
Galih
tersenyum. “Mau dibantuin?”
“Nggak!
Nggak usah, nggak sudi juga.”
Galih
menghembuskan nafas panjang, sambil mengalihkan pandangan kepada objek yang
lain.
“Masih
belum bisa maafin aku ya?” tanyanya.
Aku
memilih diam, tidak menjawab dan tidak berniat untuk menjawab.
“Sa?”
Aku
tetap terdiam, pura-pura konsentrasi pada tugasku.
“Sa?”
Aku
diam.
“Rissa!”
“Apa
sih?”
Galih
menatapku. Entah itu hanya perasaanku atau memang kenyataan, sorot matanya
menunjukan rasa bersalah yang amat dalam. Diam-diam, aku langsung terhanyut.
Sialan, cowok di sampingku itu memang bisa membuatku luluh.
“Kamu
masih belum bisa maafin aku, ya?” tanyanya lagi.
Aku
terdiam, memikirkan jawaban. Hatiku rasanya ingin meledak, mengutarakan segala
yang ada tetapi bibirku membisu.
“Kalau
gitu, aku pergi deh. Rasanya, memang kamu pengen kita putus,” Galih tersenyum
nanar. “Aku udah siap kalau kita putus.”
Aku
membisu. Galih beranjak dari bangku di sampingku dan mulai melangkah pergi.
Tetapi, tanpa sadar, bibirku memanggilnya, membuat cowok itu menghentikan
langkah.
Aku
berlari menghampirinya, kemudian menelan ludah ketika berdiri di hadapannya.
“Gimana
bisa aku maafin kamu? Apa pantas kamu di maafin?” Aku memukul dadanya.
Galih
terdiam, tidak mau menanggapi.
“Pengecut
kamu! Pengecut. Aku udah sayang sama kamu, aku udah berusaha bertahan, tapi apa
yang kamu lakuin buat aku?”
Galih
tetap terdiam.
“Aku
udah berjuang. Aku sakit, disini, di dalam sini. Sakit, Gal, sakit. Itu yang
nggak bisa bikin aku maafin kamu.”
Galih
masih bisu.
“Kamu
tega lihat aku kayak gini? Bahkan sepuluh tahun lagi, dua puluh tahun lagi, aku
nggak bisa berhenti sayang sama kamu. Tapi rasa sakit ini yang bikin aku benci
sama kamu.”
Galih
memelukku. Aku menangis. Pertama kali dalam sejarah hubungan kami, rasa
pelukannya sangat dewasa; menenangkan dan melindungi. Seakan pria itu tak mau
melepaskan aku lagi, seolah pria itu ingin aku berada terus di sisinya.
“Kenapa,
Gal? Kenapa kamu lakuin itu?”
Pelukan
Galih makin erat. “Maaf,” bisiknya di telingaku.
Kami
terdiam. Galih terdiam, aku bungkam. Tak ada kata lagi yang keluar selain isak
tangisku yang terdengar.
Galih
membelai rambutku dengan lembut.
“Aku
sayang sama kamu, cuma sama kamu.”
“Omong
kosong!”
“Kamu
nggak tahu.”
“Tahu
apa?”
Galih
melepaskan aku dari dalam pelukannya, kemudian menatap aku dengan tatapan
dalam.
“Kereta
datang silih berganti, tetapi kereta melaju hanya dalam satu jalan; rel kereta
api.”
Aku
mengangkat alis.
“Wanita
datang silih berganti, tetapi kamu tetap yang ada di hati. Aku bagaikan kereta
api, memandang yang lain, menanggapi rindu kepada yang lain, tetapi sebenarnya,
aku berjalan dalam satu hati; hatimu. Aku berjalan hanya dalam satu jalan;
cinta. Aku nggak bisa sama yang lain, meski rindu buat yang lain, meski
ungkapan aku sampaikan kepada yang lain. Tapi aku memilih kamu, dan aku yakin
kamu juga memilih aku.”
Galih
kembali memelukku. Senja mulai tiba. Lembayung sebentar lagi muncul dan langit
yang membias dari jendela bewarna oranye. Kami berpelukan lama, saling menyakinkan,
menguatkan, dan meneguhkan.
Hingga
pada akhirnya, aku memilih untuk kembali.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar