Pagi itu, aku tak mau duduk di bangku biasaku. Aku duduk di
bangkumu! Aku ingin merasakan betapa hangatnya duduk di sampingmu, aku hanya
ingin mengetahui bagaimana rasanya jadi temanmu; bagaimana rasanya tertawa
keras bersamamu. Apakah kau tahu? Aku bisa lebih setia dibandingkan dengan
teman-temanmu!
Buku gambar
dan sebatang pensil kuletakkan di meja. Kurasa mereka memandangku dengan
tatapan menghakimi.
Mana pria pujaanmu? Melukislah! Melukislah!
Melukislah!
Ah, kedua temanku itu memang
menyebalkan! Kualihkan pandanganku ke seluruh kantin kampus yang mulai ramai.
Kau belum muncul. Teman-temanmu juga tidak tampak.
Aku masih
menanti. Aku telah merindukan bibirmu yang senantiasa menyapaku dalam imaji. Aku
telah membayangkan rambut berantakan dengan aromanya yang khas, aku telah
menunggu angan-angan tentang hangatnya pelukan melalui dada bidangmu.
Singkatnya, aku kangen padamu, seorang pria yang mampu membuatku jatuh cinta
diam-diam.
Kantin
semakin ramai. Kau belum juga muncul. Aku memutar pandanganku ke segala arah.
Tak ada tanda-tanda kau akan datang.
Aku diam.
Kupandanhi buku gambarku. Ingin rasanya kulukis wajahmu dengan sebuah tawa yang
khas. Tapi tidak! Aku tidak akan melukis sebelum aku melihat wajahmu!
Kantin
perlahan-lahan mulai sepi. Beberapa mahasiswa tampak masih duduk disana sambil
memandangi layar laptop mereka, sementara sebagian besar sudah menuju ke
fakultas masing-masing.
Aku
menghela nafas panjang. Ah, dimana kau? Kenapa kau belum juga muncul? Apakah
kau tidak lapar sehingga kau tak menginjakkan kakimu di tempat ini? Apakah
teman-temanmu tidak kehausan sehingga mereka tidak mengajakmu ke tempat ini?
Ribuan
tanya menggantung di dalam kepalaku. Semuanya tanpa jawab. Aku masih menahan niatku
untuk melukis. Aku akan menunggumu. Aku akan menunggumu menginjakkan kaki di
tempat ini!
Kantin pun
sepi. Tidak ada mahasiswa tersisa. Semuanya sudah pulang. Aku masih menanti.
Bodoh, ya? Memang. Tetapi kau lebih bodoh! Mengapa kau biarkan orang bodoh
menunggumu dan membiarkannya masuk ke dalam pesona sehingga ia mencintaimu?
Bodoh!
Aku masih
diam. Kedua mataku memandang lurus ke pintu masuk kantin. Mengapa kau tak juga datang? Apakah kau tidak sudi melihatku? Apakah
kau sudah menyadari adanya tubuh yang nuata yang selama ini menantimu dalam
diam dengan siksaan rindu yang tak tersampaikan?
Seseorang menepuk pundakku. Aku
terperanjat kaget sambil menoleh marah. Belum sempat aku memaki-maki, dia sudah
menyuruhku diam dengan isyarat jari telunjuk. Aku diam dan kemudian menyadari
bahwa dia adalah salah satu teman dekatmu.
“Kamu
Sari?”
Aku
mengangkat alis, menerka-nerka darimana ia tahu namaku. Tapi itu tidak penting.
Aku menganggukkan kepala.
“Ikut
saya,” katanya.
“Kemana?”
Bukannya
menjawab, dia menggenggam tanganku. Aku terkejut. Belum sempat aku
berkata-kata, dia menggandeng tanganku keluar dari kantin dengan gerakan dan
langkah cepat.
Dia
menyuruhku masuk ke mobilnya. Aku tidak mau. Dia menggertak. Akhirnya aku
menyerah, kuturuti segala perintahnya.
Mobil yang
membawa kami berdua keluar dari pelataran kampus. Dengan kecepatan penuh yang
bisa saja mengantar kami kepada malaikat maut, mobil itu melaju.
***
Rumah mewah itu ada di depan mata. Seseorang yang tadi
menculikku menyuruh aku turun dari mobil. Sekali lagi, ia menggandeng tanganku
dan menarikku masuk ke dalam rumah itu.
Suasana
rumah sangat sepi. Tidak ada siapa-siapa di sana . Penculikku menghentikan langkah,
membuatku ikut menghentikan langkah. Ia melirikku.
“Kenapa
berhenti? Masuklah,” perintahnya.
Aku
mengerutkan kening. “Saya? Masuk sendirian ke sana ?”
Penculik
itu menjawab dengan anggukkan kepala.
Aku menatapnya
sejenak. Tidak yakin.
“Saya mohon,
masuklah,” pintanya lagi, dengan nada lirih.
Aku menatap
rumah mewah itu. Kemudian, aku mulai melangkahkan kaki. Awalnya masih penuh keraguan,
tetapi akhirnya mantap juga.
Hingga aku sampai
di ruang tengah rumah mewah itu. Ukurannya sangat luas tetapi tidak ada
siapa-siapa di sana .
Hanya ada sebuah peti mati di tengah ruangan. Bau dupa tercium tajam. Dua lilin
masih menyala di setiap sudut peti tersebut. Tanpa foto.
Bulu
kudukku merinding, namun langkahku mendekati peti itu. Siapa yang mati?
Peti yang masih terbuka sudah
berada di depan mata. Mayat yang masih segar tidur tenang di dalamnya. Wajahnya
tertutup kain putih sehingga tidak terlihat. Kedua tangannya memeluk sebuah
buku gambar yang persis sama dengan punyaku.
Perlahan-lahan—dengan
tubuh yang semakin merinding—aku membuka kain putih yang menutup wajah sang
mayat. Begitu kain itu tersingkap, kedua mataku langsung membulat dan membesar
melihat siapa yang terbujur kaku dengan tubuh dingin di sana .
Buku gambar
yang kau peluk dalam diam ku raih. Kubuka. Dan benar, itulah buku gambarku.
Yang kau peluk adalah buku gambar yang menceritakan tentang betapa kagumnya aku
padamu, betapa sayangnya aku padamu, betapa tersiksanya bila aku merindukanmu.
Aku menangis, kutemukan surat
di dalam buku gambar itu.
Aku menemukan ini.
Aku mengambilnya.
Aku menyadari adanya tubuh nyata
yang mencintaiku dalam diam.
Terima kasih atas segalanya, tetapi
aku harus pergi.
Ku simpan lukisan ini dalam
keabadian.
Biarlah menjadi temanku kala aku
berjalan menuju surga, atau bisa jadi neraka.
Karena mencintaiku dalam diam adalah
caramu mencintaiku.
Biarlah aku juga merasakannya tetapi
di alam keabadian.
Biarlah kini aku yang menjadi
bayangan hitam.
Terima kasih atas lukisan ini.
***
Tiga tahun sudah kau pergi untuk selamanya tetapi tidak ada
yang berubah dari dalam diriku. Aku tetap masih sama. Aku masih sering
menunggumu muncul dari pintu masuk kantin sambil tertawa keras bersama
teman-temanmu. Aku masih sering melukismu meski tanpa wujud yang nyata. Aku
masih sering merindukanmu.
Tetapi dia,
salah seorang temanmu yang menculikku, telah berusaha menguatkan aku. Dia
membuatku melupakanmu. Dan kini dia muncul dari pintu kantin, tersenyum
kepadaku, menghampiriku, lalu menggandeng tanganku untuk pergi dari segala
kenangan tentangmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar