Sabtu, 03 Agustus 2013

Cinta dalam Imaji 2

Pagi itu, aku tak mau duduk di bangku biasaku. Aku duduk di bangkumu! Aku ingin merasakan betapa hangatnya duduk di sampingmu, aku hanya ingin mengetahui bagaimana rasanya jadi temanmu; bagaimana rasanya tertawa keras bersamamu. Apakah kau tahu? Aku bisa lebih setia dibandingkan dengan teman-temanmu!
            Buku gambar dan sebatang pensil kuletakkan di meja. Kurasa mereka memandangku dengan tatapan menghakimi.
            Mana pria pujaanmu? Melukislah! Melukislah! Melukislah!
            Ah, kedua temanku itu memang menyebalkan! Kualihkan pandanganku ke seluruh kantin kampus yang mulai ramai. Kau belum muncul. Teman-temanmu juga tidak tampak.
            Aku masih menanti. Aku telah merindukan bibirmu yang senantiasa menyapaku dalam imaji. Aku telah membayangkan rambut berantakan dengan aromanya yang khas, aku telah menunggu angan-angan tentang hangatnya pelukan melalui dada bidangmu. Singkatnya, aku kangen padamu, seorang pria yang mampu membuatku jatuh cinta diam-diam.
            Kantin semakin ramai. Kau belum juga muncul. Aku memutar pandanganku ke segala arah. Tak ada tanda-tanda kau akan datang.
            Aku diam. Kupandanhi buku gambarku. Ingin rasanya kulukis wajahmu dengan sebuah tawa yang khas. Tapi tidak! Aku tidak akan melukis sebelum aku melihat wajahmu!
            Kantin perlahan-lahan mulai sepi. Beberapa mahasiswa tampak masih duduk disana sambil memandangi layar laptop mereka, sementara sebagian besar sudah menuju ke fakultas masing-masing.
            Aku menghela nafas panjang. Ah, dimana kau? Kenapa kau belum juga muncul? Apakah kau tidak lapar sehingga kau tak menginjakkan kakimu di tempat ini? Apakah teman-temanmu tidak kehausan sehingga mereka tidak mengajakmu ke tempat ini?
            Ribuan tanya menggantung di dalam kepalaku. Semuanya tanpa jawab. Aku masih menahan niatku untuk melukis. Aku akan menunggumu. Aku akan menunggumu menginjakkan kaki di tempat ini!
            Kantin pun sepi. Tidak ada mahasiswa tersisa. Semuanya sudah pulang. Aku masih menanti. Bodoh, ya? Memang. Tetapi kau lebih bodoh! Mengapa kau biarkan orang bodoh menunggumu dan membiarkannya masuk ke dalam pesona sehingga ia mencintaimu? Bodoh!
            Aku masih diam. Kedua mataku memandang lurus ke pintu masuk kantin. Mengapa kau tak juga datang? Apakah kau tidak sudi melihatku? Apakah kau sudah menyadari adanya tubuh yang nuata yang selama ini menantimu dalam diam dengan siksaan rindu yang tak tersampaikan?
            Seseorang menepuk pundakku. Aku terperanjat kaget sambil menoleh marah. Belum sempat aku memaki-maki, dia sudah menyuruhku diam dengan isyarat jari telunjuk. Aku diam dan kemudian menyadari bahwa dia adalah salah satu teman dekatmu.
            “Kamu Sari?”
            Aku mengangkat alis, menerka-nerka darimana ia tahu namaku. Tapi itu tidak penting. Aku menganggukkan kepala.
            “Ikut saya,” katanya.
            “Kemana?”
            Bukannya menjawab, dia menggenggam tanganku. Aku terkejut. Belum sempat aku berkata-kata, dia menggandeng tanganku keluar dari kantin dengan gerakan dan langkah cepat.
            Dia menyuruhku masuk ke mobilnya. Aku tidak mau. Dia menggertak. Akhirnya aku menyerah, kuturuti segala perintahnya.
            Mobil yang membawa kami berdua keluar dari pelataran kampus. Dengan kecepatan penuh yang bisa saja mengantar kami kepada malaikat maut, mobil itu melaju.
***
Rumah mewah itu ada di depan mata. Seseorang yang tadi menculikku menyuruh aku turun dari mobil. Sekali lagi, ia menggandeng tanganku dan menarikku masuk ke dalam rumah itu.
            Suasana rumah sangat sepi. Tidak ada siapa-siapa di sana. Penculikku menghentikan langkah, membuatku ikut menghentikan langkah. Ia melirikku.
            “Kenapa berhenti? Masuklah,” perintahnya.
            Aku mengerutkan kening. “Saya? Masuk sendirian ke sana?”
            Penculik itu menjawab dengan anggukkan kepala.
            Aku menatapnya sejenak. Tidak yakin.
            “Saya mohon, masuklah,” pintanya lagi, dengan nada lirih.
            Aku menatap rumah mewah itu. Kemudian, aku mulai melangkahkan kaki. Awalnya masih penuh keraguan, tetapi akhirnya mantap juga.
            Hingga aku sampai di ruang tengah rumah mewah itu. Ukurannya sangat luas tetapi tidak ada siapa-siapa di sana. Hanya ada sebuah peti mati di tengah ruangan. Bau dupa tercium tajam. Dua lilin masih menyala di setiap sudut peti tersebut. Tanpa foto.
            Bulu kudukku merinding, namun langkahku mendekati peti itu. Siapa yang mati?
            Peti yang masih terbuka sudah berada di depan mata. Mayat yang masih segar tidur tenang di dalamnya. Wajahnya tertutup kain putih sehingga tidak terlihat. Kedua tangannya memeluk sebuah buku gambar yang persis sama dengan punyaku.
            Perlahan-lahan—dengan tubuh yang semakin merinding—aku membuka kain putih yang menutup wajah sang mayat. Begitu kain itu tersingkap, kedua mataku langsung membulat dan membesar melihat siapa yang terbujur kaku dengan tubuh dingin di sana.
            Buku gambar yang kau peluk dalam diam ku raih. Kubuka. Dan benar, itulah buku gambarku. Yang kau peluk adalah buku gambar yang menceritakan tentang betapa kagumnya aku padamu, betapa sayangnya aku padamu, betapa tersiksanya bila aku merindukanmu. Aku menangis, kutemukan surat di dalam buku gambar itu.
            Aku menemukan ini.
            Aku mengambilnya.
            Aku menyadari adanya tubuh nyata yang mencintaiku dalam diam.
            Terima kasih atas segalanya, tetapi aku harus pergi.
            Ku simpan lukisan ini dalam keabadian.
            Biarlah menjadi temanku kala aku berjalan menuju surga, atau bisa jadi neraka.
            Karena mencintaiku dalam diam adalah caramu mencintaiku.
            Biarlah aku juga merasakannya tetapi di alam keabadian.
            Biarlah kini aku yang menjadi bayangan hitam.
            Terima kasih atas lukisan ini.
                                                                                                            Roy-
***
Tiga tahun sudah kau pergi untuk selamanya tetapi tidak ada yang berubah dari dalam diriku. Aku tetap masih sama. Aku masih sering menunggumu muncul dari pintu masuk kantin sambil tertawa keras bersama teman-temanmu. Aku masih sering melukismu meski tanpa wujud yang nyata. Aku masih sering merindukanmu.
            Tetapi dia, salah seorang temanmu yang menculikku, telah berusaha menguatkan aku. Dia membuatku melupakanmu. Dan kini dia muncul dari pintu kantin, tersenyum kepadaku, menghampiriku, lalu menggandeng tanganku untuk pergi dari segala kenangan tentangmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar