Sabtu, 24 Agustus 2013

Setapak Sriwedari

“Aku sayang banget sama kamu,” ucap Kania lembut kepadaku. Bibir tipis merah muda-nya menyunggingkan sebuah senyum.
            Aku menatap Kania. Gadis yang ada di sampingku itu menatap jauh ke objek yang lain setelah mengucapkan satu kalimat yang baru saja dia ungkapkan. Kami duduk di suatu bangku yang jauh dari keramaian Sriwedari. Berdua, berdampingan, namun terdiam dalam kesepian. Kami sama-sama bungkam untuk beberapa menit.
            Aku mulai berpikir. Kebanyakan pria  dari berbagai belahan dunia pasti merasakan hal yang sama ketika mendengar kalimat ‘Aku sayang banget sama kamu’ dari kekasih mereka. Satu kata; bangga.
            Berarti aku bukan pria.
            Mendengar Kania mengucapkan kalimat tersebut dengan lembut, membuat nafasku jadi terasa sesak dan hatiku terasa remuk. Mataku melirik sekilas memandang wajahnya.
            Manis.
            Kania punya segalanya, segala hal yang menarik dan mampu meraih perhatian seluruh pria meski hanya sekilas pandang dalam sebuah tatapan.
            Tetapi, tidak termasuk aku.
            Suasana Sriwedari malam yang sepi membuatku bernostalgia pada masa lalu. Masa-masa kami bertemu, beberapa bulan yang lalu.
            Aku tak pernah terpesona kepadanya. Aku tak pernah jatuh cinta kepadanya. Tetapi segala perhatiannya, membuatku tak tega apabila aku mengabaikannya.
            Kami bertemu beberapa hari yang lalu. Di SMA, sewaktu Masa Orientasi Siswa. Sebagai OSIS, tentu memakan banyak kegiatan. Dari pagi hingga malam, aku tak semenit pun beristirahat agar acara MOS berjalan dengan lancar.
            Sore itu, kala satu sesi dimulai. Waktu untuk OSIS beristirahat. Aku memilih untuk menyendiri, menghindari keramaian yang membuat kepalaku semakin pening. Aku duduk di sebuah bangku, menikmati kesepian.
            Kemudian seorang gadis datang dan duduk di sampingku sambil tersenyum lucu. Kedua rambutmu diikat dua, salah satu peraturan di dalam MOS.
            Gadis itu mengulurkan tangannya di depan wajahku.
            “Halo, Kak. Aku Kania,” katanya dengan nada lucu.
            Aku mengangkat alis, bingung terhadap respon yang Kania berikan. Ceria dan penuh semangat. Aku membalas jabatan tangannya.
            “Aku Koko.”
            Kania menatapku lagi, aku jadi salah tingkah. Ia melirik ke arah seluruh anggota OSIS yang sedang tertawa keras-keras sambil bercanda.
            “Yang lain rame disana, kenapa kakak malah sendirian di sini?”
            Aku tersenyum.
            “Pengen menyendiri aja,” jawabku sekenanya. Kania tertawa kecil.
            “Capek ya?” tanyanya penuh dengan perhatian.
            Aku mengangguk.
            Kania mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Sebotol air mineral dikeluarkannya, kemudian disodorkan kepadaku. “Minum gih, Kak. Biar capeknya hilang.”
            Aku mengerutkan kening; merasa ada yang aneh. Meski begitu, tetap saja kuraih botol air mineral itu dari genggaman tangan Kania. Aku memang haus, sehingga aku langsung meneguk air mineral itu dengan garangnya.
            “Haus banget ya? Jadi kayak onta,” komentar Kania sambil tertawa, membuatku mau tak mau ikut tertawa.
            Aku mengembalikan air mineralnya. “Kok kamu di sini sih? Bukannya ini waktunya sesi ya?” tanyaku dengan nada sok tegas.
            Kania malah tersenyum malu-malu dengan wajah memerah.
            “Aku maunya di sini aja, nemenin kak Koko.”
            Mendengar hal itu, aku hanya bungkam dan terdiam.
***
            Semakin lama sejak hari itu, semakin kurasa hari-hari makin berbeda. Kania dan caranya menatap serta tersenyum padaku, membuatku merasa aneh.
            Tiap hari, Kania berusaha mencari waktu untuk menemuiku; hanya untuk mengantarkan botol berisi air mineral. Jika sudah begitu, para anggota OSIS yang lain pasti tertawa-tawa genit dan menggodaku habis-habisan.
            Perhatian-perhatian yang diberikan oleh Kania benar-benar membuatku merasa aneh. Aneh, sangat amat aneh.
            Dan akhirnya aku menyadari, bahwa Kania jatuh cinta kepadaku.
***
            Hingga pada suatu saat aku mendengar suara tangisan dari balik koridor. Suara orang menangis. Aku mendekat dengan langkah mengendap-endap. Telingaku menempel di dinding, berusaha mencuri dengar sebuah pembicaraan yang diwarnai tangisan.
            “Dia nggak mungkin, Ra suka sama aku. Aku ngasih kode, dia nggak peduli. Aku ngasih perhatian, dia kayaknya risih. Aku harus gimana?”
            Yang dipanggil ‘Ra’ mulai melontarkan kalimat-kalimat penghibur.
            “Semua butuh proses, Ka. Nggak ada yang terjadi secara spontan. Semua butuh waktu, termasuk cinta.”
            “Tapi, harus ngode yang kayak gimana lagi? Aku malu kalau terus-terusan begini, nggak enak juga sama kakak-kakak OSIS.”
            Aku terenyak. Setelah beberapa menit memastikan, aku baru yakin bahwa itu adalah suara Kania.
            Aku melongok dari celah dibalik pintu. Memang benar, dia ada di sana bersama salah seorang temannya; menangis. Aku yang selalu tak tega melihat wanita menangis hanya bisa berdiri dan terdiam, tak tahu harus berbuat apa. Pada akhirnya, aku memilih pergi menjauh dari koridor tempat Kania berusaha menahan tangis.
***
MOS berakhir. Tugas terakhir yang diberikan adalah membuat surat cinta untuk kakak-kakak OSIS. Ketika para siswa hasil ‘kerjaan’ kami selama MOS pulang, seluruh anggota OSIS menyibukkan diri demi membaca dan membalas seluruh surat cinta yang dikirim untuk mereka.
            Aku hanya tertawa-tawa melihat teman-temanku membaca rayuan gombal dari adik-adik kelas dengan ekspresi jijik. Tetapi tawa itu menghilangm ketika kulihat Kania sudah berdiri di depan pintu ruang OSIS.
            Aku beranjak menemuinya. Sambil memaksakan senyum, aku berdiri di hadapannya.
            “Halo,” sapaku terlebih dahulu.
            Kania tidak menjawab, bahkan tersenyum. Gadis itu malah menyodorkan sepucuk surat dengan amplop bewarna biru muda kepadaku.
            “Yang lain menggoreskan tinta untuk menyatakan cinta karena tugas dan paksaan, tetapi terimalah ini, sebagai goresan cinta yang tulus dari hati yang telah menunggu.”
            Aku menelan ludah. Bisu. Bungkam. Terdiam.
            Perlahan-lahan, tanganku meraih sepucuk surat dari genggaman tangan Kania yang disodorkan kepadaku.
            Kania tersenyum meski matanya tidak menatapku. Ia berlalu pergi meninggalkanku yang masih terpana dengan ungkapan kalimat indah dari bibir gadis itu.
            Hingga sedetik kemudian aku tersadar, Kania memang menyayangi aku. Langkah kakiku memulai sebuah gerakan tuk berlari. Aku mengejar gadis itu dan meraih tangannya.
            “Kamu mau jadi pacarku?”
            Aku tak tahu apa yang aku katakan. Hanya itu yang ada di benakku. Aku menunggu Kania berpikir, hingga kemudian ia menganggukkan kepala.
            Kami pacaran.
***
            Ternyata perjalanan rasa tidak bersinkronisasi dengan perjalanan sebuah hubungan. Semakin lama aku bersama dengan Kania, aku merasa sama sekali tidak cinta.
Aku sadar, aku tidak menyayanginya.
            Aku khilaf mengajaknya berpacaran waktu itu. Aku hanya luluh, tanpa hatiku sebenarnya beku dan menolak cinta dari Kania. Bagai proton dan proton, bagai elektron dan elektron. Tolak-menolak.
            Aku mengajak gadis itu duduk berdua di bangku Sriwedari yang makin lama makin sepi. Kami masih terdiam, meski nostalgia dalam otakku telah berakhir.
            Kania menggenggam tanganku. Aku menatapnya, dia tersenyum.
            “Genggaman tangan terakhir,” katanya dengan lekuk bibir dan sorot mata yang berbeda. Nanar.
            Aku menghembuskan nafas panjang.
            “Maafin aku. Tapi inilah rasaku. Aku nggak bisa sayang sama kamu.”
            Kania mengangguk. Tidak terima tetapi mencoba untuk pasrah.
            “Ini bukan salah kamu kok. Aku aja yang terlalu maksain ngasih kode ke kamu dulu, jadi kamu merasa bersalah kalau kamu nggak nerima kode itu. Aku tau sejak awal. Kamu terpaksa.”
            Aku mengangguk. Kania memang pengertian.
            “Maafin aku ya, Koko.”
            Aku menatapnya kemudian mengangguk lagi.
            “Pesan terakhirku, jangan lagi cari wanita karena sebuah paksaan. Karena cinta dan wanita, datang dari ketulusan dan pengertian.”
            Aku mengangguk lagi. Setuju dengan ucapannya, hingga pada akhirnya, hubungan kami berakhir di setapak Sriwedari yang makin lama makin sepi.

            

Tidak ada komentar:

Posting Komentar