“Aku sayang banget sama kamu,”
ucap Kania lembut kepadaku. Bibir tipis merah muda-nya menyunggingkan sebuah
senyum.
Aku
menatap Kania. Gadis yang ada di sampingku itu menatap jauh ke objek yang lain
setelah mengucapkan satu kalimat yang baru saja dia ungkapkan. Kami duduk di
suatu bangku yang jauh dari keramaian Sriwedari. Berdua, berdampingan, namun
terdiam dalam kesepian. Kami sama-sama bungkam untuk beberapa menit.
Aku
mulai berpikir. Kebanyakan pria dari
berbagai belahan dunia pasti merasakan hal yang sama ketika mendengar kalimat ‘Aku
sayang banget sama kamu’ dari kekasih mereka. Satu kata; bangga.
Berarti
aku bukan pria.
Mendengar
Kania mengucapkan kalimat tersebut dengan lembut, membuat nafasku jadi terasa
sesak dan hatiku terasa remuk. Mataku melirik sekilas memandang wajahnya.
Manis.
Kania
punya segalanya, segala hal yang menarik dan mampu meraih perhatian seluruh
pria meski hanya sekilas pandang dalam sebuah tatapan.
Tetapi,
tidak termasuk aku.
Suasana
Sriwedari malam yang sepi membuatku bernostalgia pada masa lalu. Masa-masa kami
bertemu, beberapa bulan yang lalu.
Aku
tak pernah terpesona kepadanya. Aku tak pernah jatuh cinta kepadanya. Tetapi
segala perhatiannya, membuatku tak tega apabila aku mengabaikannya.
Kami
bertemu beberapa hari yang lalu. Di SMA, sewaktu Masa Orientasi Siswa. Sebagai
OSIS, tentu memakan banyak kegiatan. Dari pagi hingga malam, aku tak semenit
pun beristirahat agar acara MOS berjalan dengan lancar.
Sore
itu, kala satu sesi dimulai. Waktu untuk OSIS beristirahat. Aku memilih untuk
menyendiri, menghindari keramaian yang membuat kepalaku semakin pening. Aku
duduk di sebuah bangku, menikmati kesepian.
Kemudian
seorang gadis datang dan duduk di sampingku sambil tersenyum lucu. Kedua
rambutmu diikat dua, salah satu peraturan di dalam MOS.
Gadis
itu mengulurkan tangannya di depan wajahku.
“Halo,
Kak. Aku Kania,” katanya dengan nada lucu.
Aku
mengangkat alis, bingung terhadap respon yang Kania berikan. Ceria dan penuh
semangat. Aku membalas jabatan tangannya.
“Aku
Koko.”
Kania
menatapku lagi, aku jadi salah tingkah. Ia melirik ke arah seluruh anggota OSIS
yang sedang tertawa keras-keras sambil bercanda.
“Yang
lain rame disana, kenapa kakak malah sendirian di sini?”
Aku
tersenyum.
“Pengen
menyendiri aja,” jawabku sekenanya. Kania tertawa kecil.
“Capek
ya?” tanyanya penuh dengan perhatian.
Aku
mengangguk.
Kania
mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Sebotol air mineral dikeluarkannya,
kemudian disodorkan kepadaku. “Minum gih, Kak. Biar capeknya hilang.”
Aku
mengerutkan kening; merasa ada yang aneh. Meski begitu, tetap saja kuraih botol
air mineral itu dari genggaman tangan Kania. Aku memang haus, sehingga aku
langsung meneguk air mineral itu dengan garangnya.
“Haus
banget ya? Jadi kayak onta,” komentar Kania sambil tertawa, membuatku mau tak
mau ikut tertawa.
Aku
mengembalikan air mineralnya. “Kok kamu di sini sih? Bukannya ini waktunya sesi
ya?” tanyaku dengan nada sok tegas.
Kania
malah tersenyum malu-malu dengan wajah memerah.
“Aku
maunya di sini aja, nemenin kak Koko.”
Mendengar
hal itu, aku hanya bungkam dan terdiam.
***
Semakin
lama sejak hari itu, semakin kurasa hari-hari makin berbeda. Kania dan caranya
menatap serta tersenyum padaku, membuatku merasa aneh.
Tiap
hari, Kania berusaha mencari waktu untuk menemuiku; hanya untuk mengantarkan
botol berisi air mineral. Jika sudah begitu, para anggota OSIS yang lain pasti
tertawa-tawa genit dan menggodaku habis-habisan.
Perhatian-perhatian
yang diberikan oleh Kania benar-benar membuatku merasa aneh. Aneh, sangat amat
aneh.
Dan
akhirnya aku menyadari, bahwa Kania jatuh cinta kepadaku.
***
Hingga
pada suatu saat aku mendengar suara tangisan dari balik koridor. Suara orang
menangis. Aku mendekat dengan langkah mengendap-endap. Telingaku menempel di
dinding, berusaha mencuri dengar sebuah pembicaraan yang diwarnai tangisan.
“Dia
nggak mungkin, Ra suka sama aku. Aku ngasih kode, dia nggak peduli. Aku ngasih
perhatian, dia kayaknya risih. Aku harus gimana?”
Yang
dipanggil ‘Ra’ mulai melontarkan kalimat-kalimat penghibur.
“Semua
butuh proses, Ka. Nggak ada yang terjadi secara spontan. Semua butuh waktu,
termasuk cinta.”
“Tapi,
harus ngode yang kayak gimana lagi? Aku malu kalau terus-terusan begini, nggak
enak juga sama kakak-kakak OSIS.”
Aku
terenyak. Setelah beberapa menit memastikan, aku baru yakin bahwa itu adalah
suara Kania.
Aku
melongok dari celah dibalik pintu. Memang benar, dia ada di sana bersama salah seorang temannya;
menangis. Aku yang selalu tak tega melihat wanita menangis hanya bisa berdiri
dan terdiam, tak tahu harus berbuat apa. Pada akhirnya, aku memilih pergi
menjauh dari koridor tempat Kania berusaha menahan tangis.
***
MOS berakhir. Tugas terakhir yang
diberikan adalah membuat surat
cinta untuk kakak-kakak OSIS. Ketika para siswa hasil ‘kerjaan’ kami selama MOS
pulang, seluruh anggota OSIS menyibukkan diri demi membaca dan membalas seluruh
surat cinta
yang dikirim untuk mereka.
Aku
hanya tertawa-tawa melihat teman-temanku membaca rayuan gombal dari adik-adik
kelas dengan ekspresi jijik. Tetapi tawa itu menghilangm ketika kulihat Kania
sudah berdiri di depan pintu ruang OSIS.
Aku
beranjak menemuinya. Sambil memaksakan senyum, aku berdiri di hadapannya.
“Halo,”
sapaku terlebih dahulu.
Kania
tidak menjawab, bahkan tersenyum. Gadis itu malah menyodorkan sepucuk surat dengan amplop
bewarna biru muda kepadaku.
“Yang
lain menggoreskan tinta untuk menyatakan cinta karena tugas dan paksaan, tetapi
terimalah ini, sebagai goresan cinta yang tulus dari hati yang telah menunggu.”
Aku
menelan ludah. Bisu. Bungkam. Terdiam.
Perlahan-lahan,
tanganku meraih sepucuk surat
dari genggaman tangan Kania yang disodorkan kepadaku.
Kania
tersenyum meski matanya tidak menatapku. Ia berlalu pergi meninggalkanku yang
masih terpana dengan ungkapan kalimat indah dari bibir gadis itu.
Hingga
sedetik kemudian aku tersadar, Kania memang menyayangi aku. Langkah kakiku
memulai sebuah gerakan tuk berlari. Aku mengejar gadis itu dan meraih
tangannya.
“Kamu
mau jadi pacarku?”
Aku
tak tahu apa yang aku katakan. Hanya itu yang ada di benakku. Aku menunggu
Kania berpikir, hingga kemudian ia menganggukkan kepala.
Kami
pacaran.
***
Ternyata
perjalanan rasa tidak bersinkronisasi dengan perjalanan sebuah hubungan.
Semakin lama aku bersama dengan Kania, aku merasa sama sekali tidak cinta.
Aku sadar, aku tidak
menyayanginya.
Aku
khilaf mengajaknya berpacaran waktu itu. Aku hanya luluh, tanpa hatiku
sebenarnya beku dan menolak cinta dari Kania. Bagai proton dan proton, bagai
elektron dan elektron. Tolak-menolak.
Aku
mengajak gadis itu duduk berdua di bangku Sriwedari yang makin lama makin sepi.
Kami masih terdiam, meski nostalgia dalam otakku telah berakhir.
Kania
menggenggam tanganku. Aku menatapnya, dia tersenyum.
“Genggaman
tangan terakhir,” katanya dengan lekuk bibir dan sorot mata yang berbeda.
Nanar.
Aku
menghembuskan nafas panjang.
“Maafin
aku. Tapi inilah rasaku. Aku nggak bisa sayang sama kamu.”
Kania
mengangguk. Tidak terima tetapi mencoba untuk pasrah.
“Ini
bukan salah kamu kok. Aku aja yang terlalu maksain ngasih kode ke kamu dulu,
jadi kamu merasa bersalah kalau kamu nggak nerima kode itu. Aku tau sejak awal.
Kamu terpaksa.”
Aku
mengangguk. Kania memang pengertian.
“Maafin
aku ya, Koko.”
Aku
menatapnya kemudian mengangguk lagi.
“Pesan
terakhirku, jangan lagi cari wanita karena sebuah paksaan. Karena cinta dan
wanita, datang dari ketulusan dan pengertian.”
Aku
mengangguk lagi. Setuju dengan ucapannya, hingga pada akhirnya, hubungan kami
berakhir di setapak Sriwedari yang makin lama makin sepi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar