Hujan, Roti Bakar, dan Susu Sirup 2
Pagi datang lagi sementara
bulir-bulir hujan yang sudah berjatuhan sejak tadi malam belum menunjukkan
tanda-tanda mau berhenti. Aku mengambil payungku. Sama seperti kemarin, aku
berjalan keluar rumah; melawan hujan dibawah lindungan sebuah payung yang
bertengger dalam genggaman. Kedua kakiku menuju sebuah tempat yang juga sama
seperti biasanya; halte bus. Tempat segala penantian berada, tempat segala
kepastian akan tiba.
Jalanan
tampak sepi. Tidak ada siapa-siapa. Suasana masih sama. Aku melongok ke halte
bus. Kulihat seseorang yang sedang duduk menunggu bus sambil memanfaatkan koran
untuk menghancurkan hening yang tercipta di sana .
Aku
berjalan menuju ke halte kemudian duduk di bangku panjangnya. Bangku panjang
yang terbuat dari besi itu masih saja terasa beku. Pria yang duduk di sampingku
tidak bergeming dari korannya. Aku jadi teringat pria yang kemarin, seorang
pria yang memberiku susu sirup.
Aku
membayangkan hangat yang tercipta di dalam bus kala susu sirup itu melewati
kerongkonganku. Manis. Rasa strawberry sangat kentara, sementara rasa susu
tidak terlalu memuakkan. Hmm, aku jadi kangen pada susu sirup itu.
“Kamu
nggak bawa roti bakar lagi?”
Aku
langsung menoleh. Kaget. Aku melongo. Tanpa sadar, aku hanya bisa menggeleng
sebagai sebuah jawaban. Pria yang ada di sampingku ternyata pria yang kemarin!
“Yah,
padahal aku laper banget lho!” kata sang pria sambil menepuk-nepuk perut
kurusnya.
Aku
mengedip-edipkan mata, tidak percaya terhadap respon sang pria dengan gelengan
kepalaku. Aku menelan ludah. “So-sorry.”
Pria
itu tersenyum sambil mengibaskan tangannya. “Nggak apa-apa, hehe,” katanya
sambil menatapku.
Kami
terdiam. Suara-suara hujan yang membentur tanah menjadi penghancur sepi. Bus
belum juga datang, sementara canggung mulai menyekapku dan rasaku. Padahal,
sang pria tampak biasa-biasa saja dengan keadaan dan situasi ini.
“Ngomong-ngomong,
susu sirup kemarin rasanya gimana?” Sang pria tiba-tiba saja bertanya.
Aku
tersenyum. Kembali samar-samar kurasakan nikmatnya susu sirup itu.
“Enak
kok, enak banget,” jawabku canggung.
“Kamu
mau lagi?”
Aku
langsung menoleh dengan bersemangat dan sebuah wajah ceria.
“Mau!
Mau bingit!”
Sang
pria tertawa. “Kecanduan ya?” godanya sambil mengeluarkan seplastik susu sirup
dari dalam tasnya. Sang pria menyodorkan susu sirup itu kepadaku.
Aku
langsung menerimanya dengan rasa berterima kasih.
“Makasih
ya? Kamu baik banget.”
“Sama-sama,”
kata sang pria sambil memandangiku yang sedang sibuk menyedot susu sirup
pemberiannya.
Aku
menghembuskan nafas puas. Rasanya nikmat sekali. Hangat. Beku yang tercipta
karena hujan serasa sirna sudah.
“Ngomong-ngomong,
kamu nggak pakai heroin atau ganja kan
buat bikin susu sirup ini?” tanyaku asal.
Sang
pria mengangkat alis, heran dengan pertanyaanku yang tidak biasa. “Kenapa kamu
tanya kayak gitu?”
Aku
tersenyum. “Habisnya, susu sirup ini bikin kecanduan sih. Bikin kangen terus
sama rasanya yang nikmat banget.”
Sang
pria tertawa terbahak-bahak. Ia mengibaskan tangan, menganggap remeh ucapanku.
“Enggaklah, kalau pakai heroin, mau dapet untung dari mana? Modalnya gede!
Heroin kan
mahal.”
Aku
ikut tertawa. Benar juga, batinku.
Hujan
belum juga mau berhenti. Tidak ada tanda-tanda bus akan datang. Tetapi aku dan
sang pria tidak peduli. Kami masih saja tertawa, berbagi canda, ceria, kisah,
dan ratusan cerita.
Melalui
kalimat dan bahasa yang keluar dari mulut kami, aku mengetahui sang pria
bernama Danis, seorang penjual susu sirup dari Boyolali yang amat sangat gigih.
Perjuangannya dimulai dari nol, dia berkelana ke daerah manapun di Jawa Tengah
demi menjual susu sirupnya. Kalau belum habis, Danis belum mau pulang. Maklum,
dia adalah tulang punggung keluarga, bagi ibunya, dan empat orang adiknya yang
rata-rata masih sekolah.
Aku
terisak haru mendengar cerita Danis. Aku sedih ketika mendengar pendapatannya
yang tidak menentu. Danis bilang, dia tak pernah sarapan sebelum berangkat
kerja, itu sebabnya dia meminta sebagian roti bakarku kemarin. Dia tidak diberi
uang saku, sehingga malu tidak malu, dia harus pasang wajah agar bisa makan
dengan cara memberanikan diri meminta makan dari orang lain dan menukarkannya
dengan susu sirup.
Danis dan
segala perjuangannya perlu diacungi jempol. Hmm, betapa sedikit manusia yang
mau merelakan kenikmatan yang disediakan oleh dunia.
Aku meraih
uang di sakuku, kemudian menyodorkannya kepada Danis.
“Aku belum
bayar susu sirup kamu. Nih, aku bayar sekalian yang kemarin.”
Danis
tersenyum.
“Nggak usah,
aku rela kok ngasih susu sirup yang spesial demi seseorang yang spesial,”
katanya membuatku menatap dan terdiam tidak percaya.
“Bus kamu
dateng tuh.” Danis menunjuk perempatan di dekat halte dengan dagu.
Aku menoleh. Benar
saja, bus sudah mendekat. Buru-buru aku memaksa Danis untuk menerima uang pemberianku.
Tetapi, tetap saja dia tidak mau. Sial. Bus berhenti di hadapan kami dan aku harus
segera masuk ke dalam agar sang kondektur tidak marah-marah seperti kemarin.
“Kalau gitu, makasih
ya, Danis! Aku duluan!”
Danis tersenyum
sambil menganggukkan kepala.
Aku melambaikan
tanganku kemudian berjalan masuk ke dalam perut bus yang langsung menelanku.
(Bersambung…)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar