Sabtu, 17 Agustus 2013

Hujan, Roti Bakar, dan Susu Sirup 2

Pagi datang lagi sementara bulir-bulir hujan yang sudah berjatuhan sejak tadi malam belum menunjukkan tanda-tanda mau berhenti. Aku mengambil payungku. Sama seperti kemarin, aku berjalan keluar rumah; melawan hujan dibawah lindungan sebuah payung yang bertengger dalam genggaman. Kedua kakiku menuju sebuah tempat yang juga sama seperti biasanya; halte bus. Tempat segala penantian berada, tempat segala kepastian akan tiba.
            Jalanan tampak sepi. Tidak ada siapa-siapa. Suasana masih sama. Aku melongok ke halte bus. Kulihat seseorang yang sedang duduk menunggu bus sambil memanfaatkan koran untuk menghancurkan hening yang tercipta di sana.
            Aku berjalan menuju ke halte kemudian duduk di bangku panjangnya. Bangku panjang yang terbuat dari besi itu masih saja terasa beku. Pria yang duduk di sampingku tidak bergeming dari korannya. Aku jadi teringat pria yang kemarin, seorang pria yang memberiku susu sirup.
            Aku membayangkan hangat yang tercipta di dalam bus kala susu sirup itu melewati kerongkonganku. Manis. Rasa strawberry sangat kentara, sementara rasa susu tidak terlalu memuakkan. Hmm, aku jadi kangen pada susu sirup itu.
            “Kamu nggak bawa roti bakar lagi?”
            Aku langsung menoleh. Kaget. Aku melongo. Tanpa sadar, aku hanya bisa menggeleng sebagai sebuah jawaban. Pria yang ada di sampingku ternyata pria yang kemarin!
            “Yah, padahal aku laper banget lho!” kata sang pria sambil menepuk-nepuk perut kurusnya.
            Aku mengedip-edipkan mata, tidak percaya terhadap respon sang pria dengan gelengan kepalaku. Aku menelan ludah. “So-sorry.
            Pria itu tersenyum sambil mengibaskan tangannya. “Nggak apa-apa, hehe,” katanya sambil menatapku.
            Kami terdiam. Suara-suara hujan yang membentur tanah menjadi penghancur sepi. Bus belum juga datang, sementara canggung mulai menyekapku dan rasaku. Padahal, sang pria tampak biasa-biasa saja dengan keadaan dan situasi ini.
            “Ngomong-ngomong, susu sirup kemarin rasanya gimana?” Sang pria tiba-tiba saja bertanya.
            Aku tersenyum. Kembali samar-samar kurasakan nikmatnya susu sirup itu.
            “Enak kok, enak banget,” jawabku canggung.
            “Kamu mau lagi?”
            Aku langsung menoleh dengan bersemangat dan sebuah wajah ceria.
            “Mau! Mau bingit!”
            Sang pria tertawa. “Kecanduan ya?” godanya sambil mengeluarkan seplastik susu sirup dari dalam tasnya. Sang pria menyodorkan susu sirup itu kepadaku.
            Aku langsung menerimanya dengan rasa berterima kasih.
            “Makasih ya? Kamu baik banget.”
            “Sama-sama,” kata sang pria sambil memandangiku yang sedang sibuk menyedot susu sirup pemberiannya.
            Aku menghembuskan nafas puas. Rasanya nikmat sekali. Hangat. Beku yang tercipta karena hujan serasa sirna sudah.
            “Ngomong-ngomong, kamu nggak pakai heroin atau ganja kan buat bikin susu sirup ini?” tanyaku asal.
            Sang pria mengangkat alis, heran dengan pertanyaanku yang tidak biasa. “Kenapa kamu tanya kayak gitu?”
            Aku tersenyum. “Habisnya, susu sirup ini bikin kecanduan sih. Bikin kangen terus sama rasanya yang nikmat banget.”
            Sang pria tertawa terbahak-bahak. Ia mengibaskan tangan, menganggap remeh ucapanku. “Enggaklah, kalau pakai heroin, mau dapet untung dari mana? Modalnya gede! Heroin kan mahal.”
            Aku ikut tertawa. Benar juga, batinku.
            Hujan belum juga mau berhenti. Tidak ada tanda-tanda bus akan datang. Tetapi aku dan sang pria tidak peduli. Kami masih saja tertawa, berbagi canda, ceria, kisah, dan ratusan cerita.
            Melalui kalimat dan bahasa yang keluar dari mulut kami, aku mengetahui sang pria bernama Danis, seorang penjual susu sirup dari Boyolali yang amat sangat gigih. Perjuangannya dimulai dari nol, dia berkelana ke daerah manapun di Jawa Tengah demi menjual susu sirupnya. Kalau belum habis, Danis belum mau pulang. Maklum, dia adalah tulang punggung keluarga, bagi ibunya, dan empat orang adiknya yang rata-rata masih sekolah.
            Aku terisak haru mendengar cerita Danis. Aku sedih ketika mendengar pendapatannya yang tidak menentu. Danis bilang, dia tak pernah sarapan sebelum berangkat kerja, itu sebabnya dia meminta sebagian roti bakarku kemarin. Dia tidak diberi uang saku, sehingga malu tidak malu, dia harus pasang wajah agar bisa makan dengan cara memberanikan diri meminta makan dari orang lain dan menukarkannya dengan susu sirup.
Danis dan segala perjuangannya perlu diacungi jempol. Hmm, betapa sedikit manusia yang mau merelakan kenikmatan yang disediakan oleh dunia.
Aku meraih uang di sakuku, kemudian menyodorkannya kepada Danis.
“Aku belum bayar susu sirup kamu. Nih, aku bayar sekalian yang kemarin.”
Danis tersenyum.
“Nggak usah, aku rela kok ngasih susu sirup yang spesial demi seseorang yang spesial,” katanya membuatku menatap dan terdiam tidak percaya.
“Bus kamu dateng tuh.” Danis menunjuk perempatan di dekat halte dengan dagu.
Aku menoleh. Benar saja, bus sudah mendekat. Buru-buru aku memaksa Danis untuk menerima uang pemberianku. Tetapi, tetap saja dia tidak mau. Sial. Bus berhenti di hadapan kami dan aku harus segera masuk ke dalam agar sang kondektur tidak marah-marah seperti kemarin.
“Kalau gitu, makasih ya, Danis! Aku duluan!”
Danis tersenyum sambil menganggukkan kepala.
Aku melambaikan tanganku kemudian berjalan masuk ke dalam perut bus yang langsung menelanku.

(Bersambung…)
           


Tidak ada komentar:

Posting Komentar