Sang Penari Dari Prambanan
Pernahkah kau
jatuh cinta pada seseorang yang bahkan tidak kau kenal? Kalau kagum, mungkin
pernah. Tapi cinta? Pernahkah?
Pernahkah kau
mengorbankan segalanya untuk seseorang yang bahkan tiak pernah ingat bahwa kau
dan dia pernah bertemu? Mengorbankan kecerdasan, waktu, bahkan segala perasaan.
Pernahkah?
Sekarang kau
gantian bertanya padaku tentang pertanyaan-pertanyaan yang baru saja aku tulis
di atas. Dengan mantap aku akan menjawab; Ya! Pernah.
Semua berawal
kala aku bertemu dengan seseorang. Lebih tepatnya, seorang penari. Penari Jawa
dari sebuah pertunjukkan tari di Prambanan. Yap ,
Sendratari Ramayana Prambanan.
Aku melihatnya
ketika dia duduk sendirian di podium kala sesi foto bersama para penari
Sendratari Ramayana Prambanan dimulai. Berbeda dari para penari yang lain, yang
dengan senyum ramah melayani setiap turis yang meminta foto bersama, sang
penari bertopeng dan berkostum biru itu hanya diam sambil memandang bulan
purnama penuh yang sedang bersinar terang-terangnya di langit Prambanan.
Aku berjalan
menghampirinya dengan sebuah kamera di salah satu tanganku. Tak kusangka,
ternyata dia langsung menoleh melihatku. Aku tersenyum gugup. Aku tak tahu apa
reaksi bibir di balik topeng yang menutup sebagian wajahnya ketika jarak yang
memisahkan aku dan dia semakin dekat.
Apakah penari
itu balik tersenyum? Aku tak tahu.
Yang jelas,
suasana menjadi berbeda kala aku dan sang penari sudah berdiri berhadapan.
Tanpa jarak. Kedua matanya menatap mataku yang juga menatapnya. Dalam namun
menenangkan. Tegas namun melindungi.
Suara-suara
tawa keras, teriakan-teriakan minta foto bareng, dan berbagai suara-suara riuh
di podium tari sejenak meredam. Semua terasa bungkam. Suasana menjadi sepi,
hanya angin yang terdengar. Aku menelan ludah sambil menunjuk kameraku. “Boleh
minta foto?” tanyaku gugup.
Sang penari
tidak bersuara. Ia hanya menganggukkan kepala sebagai sebuah jawaban. Pria itu
beranjak untuk berdiri di sampingku. Kamera kuserahkan pada seorang temanku.
Aku dan sang penari berdiri berdampingan, tanpa sebuah rangkulan. Lensa
membidik tubuh kami. Satu foto antara aku dan sang penari tercipta sudah.
Lagi-lagi aku
tersenyum pada sang penari. Meski masih tidak mengetahui reaksi bibirnya
terhadap senyumku, aku tetap berterima kasih sambil melambaikan tanganku
padanya. Sang penari tidak merespon. Ia hanya menatapku dengan kedua mata tegas
dibawah alis tebalnya. Dalam. Entah apa artinya.
Aku
mengalihkan pandangan. Bersama teman-temanku, aku berjalan menjauhi podium.
Tetapi angin Prambanan menarik wajahku untuk kembali menengok ke belakang.
Angin Prambanan membisikkan bahwa aku harus menatap kembali kedua mata sang
penari yang sepertinya masih menghunusku. Aku menurut. Dan ketika aku
memutuskan mengalihkan pandangan kepadanya, sang penari sudah menghilang. Ia
tidak lagi berada di sana .
Kedua mataku tak dapat sedikitpun menangkap kembali tubuhnya.
***
Setahun
telah berlalu. Tidak ada pikiran yang berubah sejak aku pulang dari menonton
pertunjukkan tari di Prambanan malam itu. Aku masih diam dalam rasa penasaran
yang semakin lama semakin menggebu terhadap sang penari. Tak pernah sekalipun
aku lupa memandangi foto kami berdua, dengan batin terus bertanya; Siapakah kamu?
Aku mengenali
matanya. Aku mengenal bentuk rahangnya. Tetapi, siapa dia? Aku tak pernah tahu.
Topeng sialan yang menutup sebagian wajahnya menjadi alasan utama aku tak mampu
mengenalinya. Sial, ingin rasanya kubuka topeng itu dan kuremuk karena telah
menghalangi niatku untuk mengetahui bagaimana bentuk wajahnya.
Lepaslah topengmu!
Sehingga aku mampu
melihat bentuk hidungmu.
Lepaslah topengmu!
Sehingga aku mampu
menatap bibirmu.
Maukah kau mengenalku?
Maukah kau datang
kepadaku?
Hasrat sudah tak dapat
ditahan
Meski lelah, tahukah
kau?
Aku tetap bertahan.
Kau dan kostum birumu,
lepaskanlah!
Kau dan aksesoris di
tubuhmu, hilangkanlah!
Tampillah apa adanya
Seperti aku yang
mencarimu dengan raga apa adanya
Aku tak tahu bagaimana
parasmu, aku tak tahu bagaimana lekuk wajahmu
Tampankah? Tegaskah?
Rupawankah?
Tak tahu, tak tahu,
tak tahu, AKU MAU TAHU!
Datanglah, segera!
Sentuhlah aku dengan
hasratmu mencintaiku!
Genggamlah kedua
tanganku dan dekapkanlah di dadamu!
Kapan kita bisa
bertemu?
Besok? Lusa? Bulan
depan?
Semoga bisa.
Semoga.
Ya, semoga.
Amin.
Setahun
telah kujalani dengan menjelajah segala tempat yang berhubungan dengan tari.
ISI di Yogyakarta sekaligus berkenalan dengan seorang pelatih tari Ramayana di
Prambanan juga sudah kulakukan. Bahkan, relasiku dengan berbagai penari pun
semakin bertambah banyak. Tetapi hasilnya? Nihil.
Aku
tetap tak mengenalnya. Aku tetap tak berhasil menatap raganya. Semua tentang
sang penari, misterius.
Hingga
kini, sang penari masih tetap jadi sosok utama dalam lamunanku. Dia tak pernah
tergantikan oleh karena lamunan tentang hal lain. Bahkan bisa dibilang bahwa
seluruh lamunanku berisi tentang dia; tentang sang penari yang bahkan mungkin
tidak pernah membayangkan aku sama seperti kala aku membayangkannya setiap
detik.
Aku
ingin berlari menjauh dan aku ingin mencoba berhenti. Tetapi sang penari
seolah-olah menjadi iblis yang setia menyediakan ganja dan heroin bagi para
pecandunya.
Hampir
tiap malam aku mendengarkan musik karawitan. Tujuannya, aku hanya ingin kembali
mengingat gerakan lincah dan tegas uang ditunjukkan sang penari kala itu.
Tetapi, topeng yang menutup sebagian wajahnya tak pernah mau lepas, seolah
topeng itu memang ditakdirkan untuk bertengger di wajah sang penari sehingga
aku tak akan pernah bisa mengenalnya, bahkan hanya sebatas mengetahui bentuk
hidung dan bibirnya.
Pelukan,
rangkulan, dan segala perlindungan yang ditujukkan sang penari melalui khayalan
dan harapku selalu menghantui mimpi-mimpi tiap malam. Memori dalam otakku
seakan-akan hanya terpaku pada dirinya, sang penari yang tak pernah aku ketahui
namanya.
Hingga
suatu ketika aku sadar… aku sadar bahwa sang penari telah membiusku. Ia
membiusku dengan sesuatu yang bermula dari rasa penasaran hingga kata klimaksnya
adalah ‘cinta’. Ya, aku sadar, sang penari telah membuatku jatuh cinta, meski tak
pernah bertemu lagi bahkan hanya untuk sekedar mengungkapkan kata.
***
Pria berkostum biru itu mendekat. Sebuah topeng berbentuk taring
menghias wajahnya. Aku kenal matanya. Aku kenal rahangnya. Tetapi topeng itu
adalah penghalang aku mengetahui bagaimana bentuk hidung serta bibirnya.
Aku hanya bisa
terdiam. Menikmati suasana beku yang tiba-tiba datang kala sang pria berkostum
biru itu berdiri di hadapanku. Pada akhirnya aku sadar, kami berada di candi
Prambanan. Bulan purnama bersinar terang. Ia penuh.
Sang pria berkostum
biru mendekatkan bibirnya ke wajahku. Aku tak dapat menolak, aku tak mampu. Aku
sudah menunggunya begitu lama. Ia membisikkan sesuatu di telingaku.
“Apakah yang kamu
cari?” tanyanya dengan sebuah bisikan lembut, penuh dengan hasrat.
Pertanyaan itu membuat
mataku terpejam, aku mengumpulkan jawaban. Hingga akhirnya bibirku juga mulai
bergerak, ingin menjawab dengan sebuah bisikan pula.
“Aku mencari sang
penari,” jawabku. Berbisik namun mantap.
Pria berkostum biru
yang merupakan sang penari itu menatapku, takjub.
“Kamu telah berjuang,
sanggupkah kamu menanti lebih lama lagi?”
Aku membuka mata dan
mendapati kedua mata misteriusnya menatapku. Wajah kami berada di sebuah jarak
yang amat dekat. Aku mengangguk.
“Aku akan terus
menanti, meski aku harus terus mencari. Karena pencarian tak akan berhenti
sia-sia. Semua punya jawaban.”
Sang penari tersenyum.
Meski sebagian wajahnya tertutup topeng, guratan-guratan di kelopak matanya
menyadari senyuman itu.
“Tunggulah. Karena
perjuanganmu, kita akan segera bertemu.”
“Sampai kapan?”
“Tunggulah.”
Mimpi itu berhasil
membangunkan aku dengan keringat dingin. Katanya, mimpi adalah kembang tidur,
hanya berupa khayalan dan imaji karena kita terlalu lelah memikirkan suatu hal.
Tetapi, mimpi yang aku alami baru saja benar-benar terasa nyata.
Tatapan
mata itu. Guratan-guratan itu. Nafas sang penari. Semua terasa nyata.
Menyadari
bahwa malam ini adalah malam bulan purnama, aku langsung beranjak dari tempat tidur
dan bergegas menuju ke Yogyakarta , secepatnya.
***
Rama. Setelah sekian
lama mencari dengan usahanya yang tiada henti dan pantang menyerah, akhirnya ia
mendapatkan Shinta juga. Cerita itu sudah sering aku dengar, aku baca, dan aku lihat,
tetapi ending-nya selalu membuatku terpana.
Penantian tak akan berakhir sia-sia. Pencarian
akan segera menemukan sebuah jawaban. Semoga.
Pembawa
acara akhirnya membuka kesempatan untuk foto bersama para pemain Hanoman Obong. Aku langsung berlari ke podium
dengan sebuah kamera di tanganku. Sendirian. Aku berada di Jogja sendirian.
Mataku
langsung jelalatan ketika kedua kaki ini menyentuh lantai podium. Aku mencari sosok
itu, sosok seorang penari yang membuatku mencari dan menanti selama setahun.
Dia
tidak ada. Dia tidak menari.
Aku
berlari kesana-kemari, aku berusaha mencari sang penari.
Dia
tidak ada. Dia tidak menari.
Lututku
melemas, aku tak dapat berlari lagi. Kekecewaan merusak segalanya.
Dia
tetap tidak ada. Dia tidak menari.
Hingga
akhirnya seorang pria bertubuh tegap, tubuh yang aku kenal, dengan kostum biru membungkus
tubuhnya, dengan sebuah topeng berbentuk taring yang bertengger di wajahnya, dengan
aksesoris yang melengkapi dirinya datang dari balik kerumunan.
Seluruh
suara jadi redam. Semua terasa bisu. Sang penari berdiri di hadapanku. Aku menatapnya,
tidak percaya. Sungguh-sungguh tidak percaya. Benarkah itu dia?
Matanya.
Rahangnya.
“Kamu
mencari sang penari?”
Aku
mengangguk sebagai jawaban. Maklum, seketika bibirku ikut membisu.
Sang
penari membuka topengnya. Aku terpana. Akhirnya setelah sekian lama, aku bisa melihat
bentuk hidungnya, bentuk bibirnya…
“Kamu
tak perlu mencari aku lagi, karena kini aku hadir sebagai sebuah jawaban, bukan
lagi sebuah pertanyaan.”
Aku
tersenyum haru.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar