Rabu, 14 Agustus 2013

Sang Penari Dari Prambanan

Pernahkah kau jatuh cinta pada seseorang yang bahkan tidak kau kenal? Kalau kagum, mungkin pernah. Tapi cinta? Pernahkah?
Pernahkah kau mengorbankan segalanya untuk seseorang yang bahkan tiak pernah ingat bahwa kau dan dia pernah bertemu? Mengorbankan kecerdasan, waktu, bahkan segala perasaan. Pernahkah?
Sekarang kau gantian bertanya padaku tentang pertanyaan-pertanyaan yang baru saja aku tulis di atas. Dengan mantap aku akan menjawab; Ya! Pernah.
Semua berawal kala aku bertemu dengan seseorang. Lebih tepatnya, seorang penari. Penari Jawa dari sebuah pertunjukkan tari di Prambanan. Yap, Sendratari Ramayana Prambanan.
Aku melihatnya ketika dia duduk sendirian di podium kala sesi foto bersama para penari Sendratari Ramayana Prambanan dimulai. Berbeda dari para penari yang lain, yang dengan senyum ramah melayani setiap turis yang meminta foto bersama, sang penari bertopeng dan berkostum biru itu hanya diam sambil memandang bulan purnama penuh yang sedang bersinar terang-terangnya di langit Prambanan.
Aku berjalan menghampirinya dengan sebuah kamera di salah satu tanganku. Tak kusangka, ternyata dia langsung menoleh melihatku. Aku tersenyum gugup. Aku tak tahu apa reaksi bibir di balik topeng yang menutup sebagian wajahnya ketika jarak yang memisahkan aku dan dia semakin dekat.
Apakah penari itu balik tersenyum? Aku tak tahu.
Yang jelas, suasana menjadi berbeda kala aku dan sang penari sudah berdiri berhadapan. Tanpa jarak. Kedua matanya menatap mataku yang juga menatapnya. Dalam namun menenangkan. Tegas namun melindungi.
Suara-suara tawa keras, teriakan-teriakan minta foto bareng, dan berbagai suara-suara riuh di podium tari sejenak meredam. Semua terasa bungkam. Suasana menjadi sepi, hanya angin yang terdengar. Aku menelan ludah sambil menunjuk kameraku. “Boleh minta foto?” tanyaku gugup.
Sang penari tidak bersuara. Ia hanya menganggukkan kepala sebagai sebuah jawaban. Pria itu beranjak untuk berdiri di sampingku. Kamera kuserahkan pada seorang temanku. Aku dan sang penari berdiri berdampingan, tanpa sebuah rangkulan. Lensa membidik tubuh kami. Satu foto antara aku dan sang penari tercipta sudah.
Lagi-lagi aku tersenyum pada sang penari. Meski masih tidak mengetahui reaksi bibirnya terhadap senyumku, aku tetap berterima kasih sambil melambaikan tanganku padanya. Sang penari tidak merespon. Ia hanya menatapku dengan kedua mata tegas dibawah alis tebalnya. Dalam. Entah apa artinya.
Aku mengalihkan pandangan. Bersama teman-temanku, aku berjalan menjauhi podium. Tetapi angin Prambanan menarik wajahku untuk kembali menengok ke belakang. Angin Prambanan membisikkan bahwa aku harus menatap kembali kedua mata sang penari yang sepertinya masih menghunusku. Aku menurut. Dan ketika aku memutuskan mengalihkan pandangan kepadanya, sang penari sudah menghilang. Ia tidak lagi berada di sana. Kedua mataku tak dapat sedikitpun menangkap kembali tubuhnya.
***
            Setahun telah berlalu. Tidak ada pikiran yang berubah sejak aku pulang dari menonton pertunjukkan tari di Prambanan malam itu. Aku masih diam dalam rasa penasaran yang semakin lama semakin menggebu terhadap sang penari. Tak pernah sekalipun aku lupa memandangi foto kami berdua, dengan batin terus bertanya; Siapakah kamu?
            Aku mengenali matanya. Aku mengenal bentuk rahangnya. Tetapi, siapa dia? Aku tak pernah tahu. Topeng sialan yang menutup sebagian wajahnya menjadi alasan utama aku tak mampu mengenalinya. Sial, ingin rasanya kubuka topeng itu dan kuremuk karena telah menghalangi niatku untuk mengetahui bagaimana bentuk wajahnya.
            Lepaslah topengmu!
            Sehingga aku mampu melihat bentuk hidungmu.
            Lepaslah topengmu!
            Sehingga aku mampu menatap bibirmu.
            Maukah kau mengenalku?
            Maukah kau datang kepadaku?
            Hasrat sudah tak dapat ditahan        
            Meski lelah, tahukah kau?
            Aku tetap bertahan.
            Kau dan kostum birumu, lepaskanlah!
            Kau dan aksesoris di tubuhmu, hilangkanlah!
            Tampillah apa adanya
            Seperti aku yang mencarimu dengan raga apa adanya
            Aku tak tahu bagaimana parasmu, aku tak tahu bagaimana lekuk wajahmu
            Tampankah? Tegaskah? Rupawankah?
            Tak tahu, tak tahu, tak tahu, AKU MAU TAHU!
            Datanglah, segera!
            Sentuhlah aku dengan hasratmu mencintaiku!
            Genggamlah kedua tanganku dan dekapkanlah di dadamu!
            Kapan kita bisa bertemu?
            Besok? Lusa? Bulan depan?
            Semoga bisa.
            Semoga.
            Ya, semoga.
            Amin.
           
            Setahun telah kujalani dengan menjelajah segala tempat yang berhubungan dengan tari. ISI di Yogyakarta sekaligus berkenalan dengan seorang pelatih tari Ramayana di Prambanan juga sudah kulakukan. Bahkan, relasiku dengan berbagai penari pun semakin bertambah banyak. Tetapi hasilnya? Nihil.
            Aku tetap tak mengenalnya. Aku tetap tak berhasil menatap raganya. Semua tentang sang penari, misterius.
            Hingga kini, sang penari masih tetap jadi sosok utama dalam lamunanku. Dia tak pernah tergantikan oleh karena lamunan tentang hal lain. Bahkan bisa dibilang bahwa seluruh lamunanku berisi tentang dia; tentang sang penari yang bahkan mungkin tidak pernah membayangkan aku sama seperti kala aku membayangkannya setiap detik.
            Aku ingin berlari menjauh dan aku ingin mencoba berhenti. Tetapi sang penari seolah-olah menjadi iblis yang setia menyediakan ganja dan heroin bagi para pecandunya.
            Hampir tiap malam aku mendengarkan musik karawitan. Tujuannya, aku hanya ingin kembali mengingat gerakan lincah dan tegas uang ditunjukkan sang penari kala itu. Tetapi, topeng yang menutup sebagian wajahnya tak pernah mau lepas, seolah topeng itu memang ditakdirkan untuk bertengger di wajah sang penari sehingga aku tak akan pernah bisa mengenalnya, bahkan hanya sebatas mengetahui bentuk hidung dan bibirnya.
            Pelukan, rangkulan, dan segala perlindungan yang ditujukkan sang penari melalui khayalan dan harapku selalu menghantui mimpi-mimpi tiap malam. Memori dalam otakku seakan-akan hanya terpaku pada dirinya, sang penari yang tak pernah aku ketahui namanya.
            Hingga suatu ketika aku sadar… aku sadar bahwa sang penari telah membiusku. Ia membiusku dengan sesuatu yang bermula dari rasa penasaran hingga kata klimaksnya adalah ‘cinta’. Ya, aku sadar, sang penari telah membuatku jatuh cinta, meski tak pernah bertemu lagi bahkan hanya untuk sekedar mengungkapkan kata.
***
Pria berkostum biru itu mendekat. Sebuah topeng berbentuk taring menghias wajahnya. Aku kenal matanya. Aku kenal rahangnya. Tetapi topeng itu adalah penghalang aku mengetahui bagaimana bentuk hidung serta bibirnya.
            Aku hanya bisa terdiam. Menikmati suasana beku yang tiba-tiba datang kala sang pria berkostum biru itu berdiri di hadapanku. Pada akhirnya aku sadar, kami berada di candi Prambanan. Bulan purnama bersinar terang. Ia penuh.
            Sang pria berkostum biru mendekatkan bibirnya ke wajahku. Aku tak dapat menolak, aku tak mampu. Aku sudah menunggunya begitu lama. Ia membisikkan sesuatu di telingaku.
            “Apakah yang kamu cari?” tanyanya dengan sebuah bisikan lembut, penuh dengan hasrat.
            Pertanyaan itu membuat mataku terpejam, aku mengumpulkan jawaban. Hingga akhirnya bibirku juga mulai bergerak, ingin menjawab dengan sebuah bisikan pula.
            “Aku mencari sang penari,” jawabku. Berbisik namun mantap.
            Pria berkostum biru yang merupakan sang penari itu menatapku, takjub.
            “Kamu telah berjuang, sanggupkah kamu menanti lebih lama lagi?”
            Aku membuka mata dan mendapati kedua mata misteriusnya menatapku. Wajah kami berada di sebuah jarak yang amat dekat. Aku mengangguk.
            “Aku akan terus menanti, meski aku harus terus mencari. Karena pencarian tak akan berhenti sia-sia. Semua punya jawaban.”
            Sang penari tersenyum. Meski sebagian wajahnya tertutup topeng, guratan-guratan di kelopak matanya menyadari senyuman itu.
            “Tunggulah. Karena perjuanganmu, kita akan segera bertemu.”
            “Sampai kapan?”
            “Tunggulah.”
            Mimpi itu berhasil membangunkan aku dengan keringat dingin. Katanya, mimpi adalah kembang tidur, hanya berupa khayalan dan imaji karena kita terlalu lelah memikirkan suatu hal. Tetapi, mimpi yang aku alami baru saja benar-benar terasa nyata.
            Tatapan mata itu. Guratan-guratan itu. Nafas sang penari. Semua terasa nyata.
            Menyadari bahwa malam ini adalah malam bulan purnama, aku langsung beranjak dari tempat tidur dan bergegas menuju ke Yogyakarta, secepatnya.
***
Rama. Setelah sekian lama mencari dengan usahanya yang tiada henti dan pantang menyerah, akhirnya ia mendapatkan Shinta juga. Cerita itu sudah sering aku dengar, aku baca, dan aku lihat, tetapi ending-nya selalu membuatku terpana.
Penantian tak akan berakhir sia-sia. Pencarian akan segera menemukan sebuah jawaban. Semoga.
            Pembawa acara akhirnya membuka kesempatan untuk foto bersama para pemain Hanoman Obong. Aku langsung berlari ke podium dengan sebuah kamera di tanganku. Sendirian. Aku berada di Jogja sendirian.
            Mataku langsung jelalatan ketika kedua kaki ini menyentuh lantai podium. Aku mencari sosok itu, sosok seorang penari yang membuatku mencari dan menanti selama setahun.
            Dia tidak ada. Dia tidak menari.
            Aku berlari kesana-kemari, aku berusaha mencari sang penari.
            Dia tidak ada. Dia tidak menari.
            Lututku melemas, aku tak dapat berlari lagi. Kekecewaan merusak segalanya.
            Dia tetap tidak ada. Dia tidak menari.
            Hingga akhirnya seorang pria bertubuh tegap, tubuh yang aku kenal, dengan kostum biru membungkus tubuhnya, dengan sebuah topeng berbentuk taring yang bertengger di wajahnya, dengan aksesoris yang melengkapi dirinya datang dari balik kerumunan.
            Seluruh suara jadi redam. Semua terasa bisu. Sang penari berdiri di hadapanku. Aku menatapnya, tidak percaya. Sungguh-sungguh tidak percaya. Benarkah itu dia?
            Matanya. Rahangnya.
            “Kamu mencari sang penari?”
            Aku mengangguk sebagai jawaban. Maklum, seketika bibirku ikut membisu.
            Sang penari membuka topengnya. Aku terpana. Akhirnya setelah sekian lama, aku bisa melihat bentuk hidungnya, bentuk bibirnya…
            “Kamu tak perlu mencari aku lagi, karena kini aku hadir sebagai sebuah jawaban, bukan lagi sebuah pertanyaan.”

            Aku tersenyum haru.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar